Nikmati Sensasi Beda, Membaca sambil Digoyang Riak Sungai

Perpustakaan Terapung untuk Masyarakat Pesisir, Ide Ditpolair Kalbar

9
DI TENGAH OMBAK KECIL. Pelajar SMP dan siswa SMA Kemala Bhayangkari membaca sejumlah literatur di perpustakaan terapung usai diresmikan Polair bersama Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi Provinsi Kalbar, di Pelabuhan Senghie, Pontianak, Selasa (5/12). Ombak kecil sungai Kapuas sepertinya tak membuat mereka limbung. DESKA IRNAN SYAFARA-RK

Minat baca di belantara Kalimantan Barat belum bisa dipersentasekan. Meski begitu, pihak berkepentingan tetap getol wara-wiri mengkampanyekan budaya membaca. Bahkan sekarang, perpustakaan pun ada di perairan.

Deska Irnan Syafara & Ambrosius Junius, Kota Pontianak

eQuator.co.id – Beberapa survei membuktikan, minat baca di Provinsi Kalbar rendah. Tapi salah satu metode riset itu hanyalah sebatas analisa dan perkiraan semata. Realita tetap di kehidupan. Meski begitu, hasil survei sah-sah saja dijadikan rujukan.

Kepala Badan Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi Provinsi Kalbar, Ignasius mengaku tidak terlalu percaya dengan hasil survei. Apalagi, ia merasa belum optimal menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat.

“Bagaimana minat baca mau tinggi. Sementara bahan yang mau dibaca tidak ada,” ucap Ignasius, usai Peresmian Perpustakaan Terapung, di Pelabuhan Shenghie, Pontianak, Selasa (5/12) pagi.`

Pemerintah Provinsi Kalbar menghadirkan perpustakaan terapung di perairan Provinsi Kalbar. Ini merupakan moda untuk mengakomodir pembaca di kawasan pesisir. Juga memberikan hak-hak yang sama kepada masyarakat pesisir.

Ide perpustakaan terapung ini muncul dari Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Kalbar. Mereka mengusulkan gagasan tersebut pada Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Kalbar.

Menurut Ignasius, apabila hanya mengandalkan perpustakaan umum, tentu tidak maksimal menjangkau pelayanan kepada masyarakat pesisir. Oleh karena itu, ide Ditpolair langsung ia setujui.

“Nanti teknis operasional diserahkan sepenuhnya kepada teman-teman Polair. Mulai dari jam operasional hingga di titik-titik mana saja kapal ini berhenti untuk melayani masyarakat yang ingin membaca,” ulasnya.

Ia berharap, kehadiran perpustakaan apung itu berguna untuk masyarakat pesisir. “Ke depan kami bakal terus menambah koleksi buku di kapal tersebut. Supaya semakin banyak pilihan,” ungkap Ignasius.

Perpustakaan terapung menggunakan Kapal Patroli Batu Layang VI 3002. Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Brigadir Jenderal Polisi Didi Haryono berharap, keberadaan perpustakaan terapung juga dapat menambah pengetahuan tentang kelautan dan perairan (Maritim).

Menurutnya, masyarakat yang masih awam setidaknya bisa menambah wawasan tentang meteorologi, geofisika, klimatologi, serta astronomi, dan lainnya. “Dengan membaca buku, masyarakat pesisir pantai bisa memahami dan menambah pengetahuan. Begitu juga dengan polisi, khususnya anggota Pol Air,” ucap Didi.

Nantinya, akan ada penambahan armada kapal. Saat ini, baru satu yang siap digunakan. Jika tak ada aral melintang, nantinya ditambah dua. Sehingga, ada tiga kapal yang bisa digunakan sebagai perpustakaan terapung.

Selasa (5/12) pagi, di atas kapal, sejumlah pelajar dan siswa tampak antusias membaca. Kehadiran perpustakaan terapung bagaikan magnet yang menarik minat mereka.

“Sensasinya beda,” kata siswi SMA Kemala Bhayangkari, Kemala Hayati, dijumpai wartawan koran ini.

Menurut Hayati, membaca di atas sungai terbilang mengasyikan. Ia mengaku tidak pusing akibat ombak kecil di Sungai Kapuas.

“Seru sih, suasana lebih enjoy soalnya di alam terbuka. Kalau di dalam ruangan, sudah mainstream (biasa),” tutur dia.

Siswi kelas XII itu mengaku, lebih menyukai membaca di alam terbuka. Ia merasa pandangan lebih luas. Efeknya, semakin menambah minat membaca.

“Saya pribadi tertarik, karena bisa baca sambil nyantai di atas sungai,” terang Hayati.

Nantinya, perpustakaan terapung ini bakal dibuat seperti perpustakaan daerah. “Jadi nanti ada kartu member begitu,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Mohamad iQbaL