Ngelem, Juru Parkir “Disekolahkan” Polisi

398
NGELEM. Babinkabtibmas Kelurahan Pasiran, Aiptu Herman Jamani bersama dua Jukir ngelem yang diamankannya, Franky Itali dan Herkulanus, di Mapolsek Singkawang Barat, Senin (17/11). MORDIADI

eQuator – Singkawang-RK. Juru Parkir (Jukir) Pasar Turi, Herkulanus, 22, dan Franky Italia, 19, digelandang ke Mapolsek Singkawang Barat, Senin (17/11) sekitar pukul 07.30. Lantaran keduanya setiap hari menghirup aroma lem (ngelem).

“Karena pengaruh ngelem itu, mereka suka meneriaki orang di pasar. Apalagi kalau ada pembeli yang tidak bayar parkir, langsung mereka marah-marah, pemilik toko di Pasar Turi itu jadi resah dibuatnya,” kata Kompol Sunarno, Kapolsek Singkawang Barat melalui Babinkamtibmas Kelurahan Pasiran, Aiptu Herman Jamani ditemui di Mapolsek Singkawang Barat, kemarin.

Lantaran pedagang di Pasar Turi sangat resah dengan keberadaan dua Jukir tersebut, mereka pun menghubungi Herman yang memang sudah dikenal sebagai Babinkamtibmas.

“Saking kesalnya para pedagang itu, mereka sampai bilang kenapa polisi membiarkan saja orang ngelem seperti itu. Mendengar kata-kata seperti itu, saya itu bagaimana rasanya ya…,” sesal Herman.

Dia pun langsung meluncur ke Pasar Turi pagi itu juga, menemui kedua Jukir yang dimaksud. “Waktu saya datang, langsung saya tanya mereka sedang apa. Dijawabnya sedang jaga parkir. Saya lihat-lihat, tidak ada barang untuk ngelem, saya pun bermaksud pergi meninggalkannya,” ujar Herman.

Begitu hendak meninggalkan kedua Jukir tersebut, salah seorang pedagang pun langsung menghampirinya, dan bilang kalau mereka sudah membuang lemnya ke depan emperan toko. “Saya pun memeriksanya. Ternyata benar, di situ ada kantong plastik di dalamnya isi lem. Ternyata mereka membuang barang itu ketika melihat saya datang,” kesal Herman.

Tanpa pikir panjang lagi, Herman pun langsung menemui kedua Jukir tersebut, menanyakan tentang lem dalam kantong plastik. Mereka pun tidak bisa mungkir lagi.

“Keduanya kita bawa ke markas. Kita amankan di sel selama 24 jam. Kita bina mereka, lalu suruh buat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya itu. Kalau tidak bisa dibina, ya mau bagaimana lagi, dibinasakan saja,” tegas Herman sambil melirik kedua Jukir yang tertunduk lesu di dekatnya itu.

Sementara itu, Jukir Herkulanus mengaku ngelem sudah sejak masih duduk di bangku SMP sampai sekarang. “Beli lem fox-nya di toko bangunan. Satu hari saya biasa menghabiskan tiga kaleng kecil,” kata warga Jalan Sutomo ini.

Hasilnya sebagai Jukir di Pasar Turi, kata Herkulanus, selain untuk makan sehari-hari juga untuk membeli lem. “Tidak ada untuk yang lain Mas, cuma untuk makan dan beli lem,” ujarnya.

Senada juga disampaikan rekannya sesama Jukir, Franky Italia. Tetapi, warga Pasar Baru ini mengaku baru sekitar dua bulan ngelem. “Jarang juga saya ngelem, kalau minum (meminum minuman keras) saya sering,” ungkapnya.

Pemuda tidak tamat SD ini mengaku bukan hanya bekerja sebagai Jukir untuk mendapatkan rupiah. “Saya biasa menolong orang memuat barang bekas di Terminal Pontianak, kalau tidak ada muat, saya jadi Jukir di Pasar Turi bersama dia,” kata Franky seraya menunjuk Herkulanus. (dik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here