Museum Penampung Kisah Patah Hati dari Penjuru Dunia

30
PATAH HATI. Pengunjung melihat berbagai barang milik para pasangan patah hati yang dipajang di Museum Broken Relationship di Zagreb, Kroasia. INDRIANI PUSPITANINGTYAS/Jawa Pos

Masing-masing koleksi Museum of Broken Relationship disertai kisah kegagalan menjalin hubungan. Mulai yang membuat terenyuh sampai yang bikin ketawa. Ada pula tempat buat pengunjung curhat atau meninggalkan memorabilia tentang mantan.

Indriani Puspitaningtyas, Zagreb

eQuator.co.id – Di salah satu sudut lorong itu, sebuah jersey basket berwarna biru terpajang. Dibingkai pigura akrilik dan merupakan peninggalan seseorang dari Manila, Filipina.

Penjelasan yang menyertai sangat singkat: he was a player. Bisa diduga, pemilik jersey itu korban PHP anak basket.

Di sudut lain, pemandangan yang lebih ekstrem tersaji. Ada sebilah kapak tertancap di area pameran. Sempat berpikir agak horor. Ternyata, alat penebang itu dipakai sang pemilik untuk menghancurkan furniture milik mantan yang meninggalkannya.

“Saya tidak menyangka barang-barang seperti ini bisa jadi koleksi yang menarik,” kata Kim Seo-jung, seorang pengunjung asal Korea Selatan.

Ya, selamat datang di Museum of Broken Relationship, Zagreb. Inilah, barangkali, tempat terbaik untuk mengenang (atau malah mengenyahkan) mantan.

Di museum yang didirikan dua seniman kreatif, Olinka Vištica dan Dražen Grubiši pada 2006 itu, tertampung ratusan memorial atau barang yang semua menyimpan kisah patah hati tak biasa dari berbagai belahan dunia.

Mengunjungi museum yang penuh kejutan itu menjadi sajian menyegarkan, setelah Jawa Pos beserta awak media lain menjalani penerbangan selama 13 jam menuju ibu kota Kroasia tersebut. Begitu tiba Selasa (4/9) lalu, rombongan langsung disambut Damjan Beusan, tour guide selama di Zagreb.

Dari luar, museum tersebut tampak tak terlalu istimewa. Tapi, tanda-tanda ketidaklaziman mulai terasa begitu membaca plang di pintu: Museum of Broken Relationship. Sungguh, di tangan orang-orang kreatif, ide yang terasa sepele pun bisa jadi karya menarik.

Melangkahkan kaki ke dalam, sebuah wedding gown berwarna merah menyita perhatian. Apalagi kisah yang menyertainya terasa pahit benar. Cinta yang berujung pada kekecewaan dan penyesalan. Semacam penyesalan yang kira-kira kalau diterjemahkan bebas: aku kok bisa sebodoh itu ya jal…

“I paid for it all fair and square: both of my wedding gown and his bank loan. Zagreb, Croatia.” Demikian penutup kisah yang menyertai gaun pengantin tersebut.

“Kok miris begini? So, unpredictable,” celetuk salah satu pengujung yang membaca penjelasan tentang gaun tersebut.

Tak jauh dari spot itu, berjajar dua stileto. Satu warna hitam dan satu lagi merah menyala.

Jawa Pos pun penasaran membaca kisah sang pemilik. Benang merah dari dua kisah sepatu itu tentang pengkhianatan. Bertemu soulmate, saling mencintai, berjuang hidup bersama dan berakhir dengan perpisahan yang tidak jelas alasannya.

Kisah-kisah yang menyertai ratusan barang di museum itulah yang memancing reaksi beragam dari pengunjung. Ada yang tampak sedih menahan air mata. Tapi, tak jarang pula yang tertawa terbahak-bahak membaca kegagalan para pemilik barang kenangan dalam menjalin hubungan.

“Satu yang membuat saya tersentuh saat melihat sepucuk surat. Ternyata surat itu adalah surat peninggalan seorang ibu untuk anaknya sebelum bunuh diri,” ujar Kim Seo-jung yang berkunjung bersama keluarga besarnya.

Sebagian besar yang datang ke museum itu adalah turis dari luar Zagreb. Baik wisatawan domestik maupun asing. Waktu kunjungan paling ramai antara September hingga musim liburan akhir tahun.

Salah satu sajian terbaru yang dipajang di museum adalah karya seorang seniman sekaligus komposer Australia, Colin Black. Dia berfokus pada experimental sound dan radio art untuk mewujudkan A Backdrop For Broken Hearted.

Backdrop alias dinding itu terletak di bagian ujung kiri ruangan kedua dari Museum of Broken Relationship. Dari dinding berpola kotak dengan warna dominan putih itu, pengunjung museum bisa mendengarkan soundscape bertema patah hati. Instrumen musik yang terdengar sangat syahdu, namun dalam waktu bersamaan terdengar menyedihkan dan menyayat hati.

Lewat instrumen itu, Black berbicara mengenai perpisahan, janji yang dilanggar, kekuatan berusaha move-on, serta segala macam yang terkorelasi dengan relationship. Melalui proyek itu pula, Museum of Broken Relationships berpartisipasi dalam agenda European Project The People’s Smart Sculpture.

Untuk menyebarkan karya-karyanya, Museum of Broken Relationship memang melakukan ekspansi sampai Los Angeles. Juga sejumlah pameran khusus di beberapa negara lain.

Sejak didirikan pada 2006 silam di Zagreb, museum tersebut terus melakukan pengembangan. Buntutnya, pada 2010, museum itu meraih penghargaan EMYA Kenneth Hudson Award sebagai The Most Innovative and Daring Museum Project in Europe. Tak hanya itu, museum tersebut juga menjadi destinasi favorit kedua yang jadi tujuan para turis saat ke Zagreb berdasar survei Tripadvisor.

Koleksi museum juga terus bertambah atau berganti. Setiap cerita dan barang yang masuk dari kontributor serta donatur akan di-update.

Bagi Nora Isabel, seorang pengunjung dari Belanda, di satu sisi, museum itu memang bisa memicu kegalauan panjang. Yang sudah lupa kepada mantan akhirnya kembali gagal move on.

Tapi, di sisi lain, membaca satu per satu cerita kisah di balik semua barang di sana bisa melatih empati orang lain. “Menyadarkan kalau kamu tidak sendiri. Ada yang kisahnya lebih mengenaskan, hehehe,” lanjut dara 18 tahun tersebut.

Saat berkunjung ke museum itu, jangan lupa untuk meninggalkan pula kenangan kepada mantan. Tempatnya di salah satu sudut ruangan, di sebuah buku superbesar untuk menampung curhat colongan pengunjung.

Bebas untuk menulis apa saja. Atau memberikan tanda berupa apa pun yang menyebabkan patah hati. Ceritakan juga kisah di balik barang itu. Siapa tahu dalam beberapa waktu ke depan barang kamu lolos kurasi dan berhasil di pajang di area pameran.

Salah satu pengunjung, misalnya, ada yang menanggalkan cap bibir dengan lipstik merah di selembar tisu. Ada pula yang “mendermakan” gantungan keberuntungan.

Tapi, belum ada yang meninggalkan foto berisi karangan bunga yang dikirimkan ke mantan yang menikah. Disertai tulisan, “Mas, kamu jahat!” (*)