Muhammad Naufal: Soeltan “Original Weaving Heritage”

Tekad Soeltan Selamatkan Warisan Tenun Lokal

282

eQuator.co.id – Semakin minimnya kehadiran penenun lokal menjadi kekhawatiran sekaligus inspirasi bagi Muhammad Naufal, pria kelahiran Pontianak, 1 November 1985 ini untuk terjun ke dunia usaha fashion berbasis tenun lokal Kalbar.

Usaha baju tenun yang awalnya di-branding dengan nama “Original Tenun Warisan” atau disingkat OTW ini mulai dirintisnya sejak 2013. Hingga medio 2015, tetap dengan semangat yang sama OTW, kemudian berganti nama menjadi “Soeltan” hingga sekarang. Usaha ini berlokasi di Jalan Karimata, Nomor 2 A Pontianak.

Pria yang pernah menjadi pendamping pengrajin tenun dari Dompet Umat Kalbar di Kecamatan Sambas 2011-2013 ini, mengaku cukup miris melihat kondisi pengrajin tenun lokal yang ada. Bahkan untuk Kabupaten Sambas sendiri tidak lebih dari 50 orang pengrajin saja lagi yang masih bertahan hingga kini.

Di Pontianak? Lebih parah lagi. Naufal mengatakan, penenun khas corak insang asli Pontianak saat ini bisa dibilang sudah tidak ada lagi alias punah. Hal itu yang juga menjadi alasan Naufal terpaksa mendatangkan bahan baku tenun corak insang dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan usahanya.

Sekretaris Himpunan Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (HIMPU) Kota Pontianak ini berharap, apa yang dilakukannya itu dapat menjadi kontribusi nyata guna melanggengkan salah satu warisan budaya yang menjadi karakter bangsa.

Lebih lanjut, seperti apa usaha yang dilakoni alumnus Jurusan Tarbiyah PAI, Institut Agama Islam Negeri (IAIN)  2004 ini, berikut wawancara selengkapnya bersama Rakyat Kalbar;

+2013, OTW berganti nama menjadi Soeltan. Apa alasannya?

-Nama Soeltan, karena saya mengambil filosofi raja, karena hampir setiap daerah punya kerajaan, di negeri tetangga pun demikian. Kerajaan-kerajaan Islam menggunakan penyebutan raja dengan kata sultan. Brand Original Tenun Warisan atau disingkat OTW sebenarnya tidak hilang, nama OTW kini menjadi tagline untuk Soeltan, hanya saja menggunakan bahasa Inggris, yakni “Original Weaving Heritage”.

+Saat ini tenun daerah mana saja yang disediakan Soeltan?

-Tenun songket Sambas, tenun corak insang Pontianak. Cuman untuk bahan baku corak insang kami datangkan dari Jawa. Karena di Kota Pontianak ini boleh dikatakan sudah tidak ada lagi penenun lokalnya, bisa dikatakan sudah punah. Kalau untuk songket, kita ambil dari Sambas. Ke depan kita akan menyediakan tenun ikat Sintang dan Kapuas Hulu.

+Saat ini cukup banyak yang menjual baju-baju khas tenun daerah. Apa yang membuat Soeltan berbeda?

-Karena kita di sini lebih menekankan tenun original khas Kalbar. Maka baju-baju yang kita jual asli merupakan tenunan tangan yang dilakukan secara tradisional. Sementara yang lain, maaf-maaf saja, kebanyakan hasil printing.

Dan memang tujuan saya awalnya, dengan usaha ini bagaimana pengrajin tenun lokal bisa hidup lagi. Sehingga semakin banyak permintaan, secara otomatis penenun lokal bakal hidup kembali.

+Berapa harga yang Anda jual kepada konsumen untuk tiap helai baju?

-Kisarannya Rp295 ribu untuk lengan panjang dan Rp285 ribu untuk lengan pendek. Tidak bahan kain kami jadikan baju, mengingat harga bahan kainnya yang cukup mahal. Untuk satu helai kainnya berkisar Rp800 ribuan. Untuk ukuran 2 meter helai kain, hanya dapat dijadikan 5 helai baju saja. Selebihnya kami kombinasikan dengan bahan-bahan lain. Makanya juga kita sesuaikan harga jualnya agar masyarakat umum bisa membelinya.

+Selain datang ke tempat Anda. Apakah Anda juga menyediakan jasa pesan antar?

-Kami memberikan gratis ongkos kirim untuk wilayah Kota Pontianak. Konsumen bisa menghubungi nomor kontak atau via Whats App di: 0812-5663-4681, BBM: 5535F297. Bisa juga melalui Facebook di akun: Soeltan Khan.

+Selama menjalani usaha ini, apa kira-kira yang menjadi kendala?

-Mungkim lebih kepada biaya upah ya. Upah penjahit lokal yang tinggi di Kota pontianak. Per baju upahnya Rp100 ribu ke atas. Saat ini kami punya sekitar sepuluh penjahit.

+Berapa rata-rata omzet yang Anda hasilkan per bulan?

-Per bulan kami biasa menghabiskan sekitat 50 potong baju. Kira-kira belasan juta per bulan.

+Dengan usaha ini, seperti apa rencana Anda ke depan?

-Ke depan, saya akan fokus mengembangkan usaha tenun lokal ini. Dan rencananya pada 8 Juni sampai 3 Juli mendatang, kami akan ke Kuching, Malaysia untuk membuka stand pameran produk-produk lokal yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal RI. Kegiatan ini difasilitasi oleh Disperindag Provinsi Kalbar.

Reporter: Fikri Akbar

Redaktur: Andry Soe