Miris Ada Praktek Prostitusi Rumahan

Berkedok Jadi Tempat Pijat, Biasa Layani Plus-Plus di depan Anak dan Suami

1942

Bisnis esek-esek di Malang semakin menjadi-jadi saja. Jika sebelumnya koran ini menguak prostitusi di sekitaran tugu. Kali ini, Radar Malang (Jawa Pos Group) menginvestigasi bisnis esek-esek yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga di Daerah Arjosari, Kecamatan Blimbing. Perempuan ini bersedia berhubungan badan di rumahnya meski sedang ada anak dan suaminya. Dia juga jadi mucikari untuk tiga perempuan muda yang masih kinyis-kinyis.

eQuator – Sebuah rumah di Jalan Panji Suroso, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini tidak jauh berbeda dari deretan rumah yang ada di jalan tersebut. Di pagar berwarna hitam, terdapat tulisan nasi pecel pincuk dan juga pijat untuk pria dan wanita.
Setelah wartawan Jawa Pos Radar Malang masuk ke dalam rumah tersebut, rupanya tulisan nasi pecel ini hanya kedok belaka. Di ruang tamu rumah yang luasnya sekitar 3 meter x 6 meter, wartawan koran ini bertemu dengan seorang perempuan yang kira-kira umurnya sudah 45 tahun. Ketika itu, sang anak yang berumur sekitar enam tahun sedang makan di ruang tamu.
Dengan nada lemah gemulai, perempuan Tua Setengah Muda (TSM) ini menawari wartawan koran ini.”Pijat tah Mas,” kata perempuan berambut sebahu itu saat ditemui di rumahnya Kamis (6/11) lalu. Sebut saja nama perempuan tersebut Dewi.
Tidak seperti panti pijat pada umumnya, tidak ada foto-foto perempuan yang dipajang. Tidak ada juga front office yang menyapa setiap tamu yang datang. Yang ada hanyalah tulisan berupa tarif pijat Rp 60 ribu dalam satu satu jam. Sedangkan Dewi ketika menawari pijat sambil duduk di kursi berbahan kayu di ruang tamu rumahnya.
Setelah sebelumnya mendapat informasi kalau panti pijat di lingkungan padat penduduk ini melayani plus-plus, lantas wartawan koran ini menanyakan apa benar ada layanan plus-plus.”Begini tah, ada,” kata Dewi sambil menunjukan ibu jarinya yang dihimpit jari telunjuk dan tengah. Tanda ini jamak diartikan sebagai praktik seks.
Selanjutnya wartawan koran ini bertanya siapa saja pemijat di tempat tersebut. Dia menjawab kalau pemijatnya hanya Dewi saja. Secara terang-terangan di depan anaknya yang sedang makan, Dewi mengatakan kalau dirinya biasa berhubungan badan dengan laki-laki yang minta pijat.”Dua ratus ribu saja, murah,” katanya sambil tertawa lebar.”Pijat ini baru buka sebulanan yang lalu,” tambahnya.
Saat ditanya keamanan pijat plus-plus di rumah tersebut, Dewi memastikan kalau praktek esek-esek di rumahnya aman seratus persen. Setelah jawaban itu, Dewi menunjukan fakta yang membuat hati miris yakni selain dirinya tinggal di rumahnya dengan anaknya, dia juga tinggal dengan sang suami. Suami Dewi sebut saja David tidak pernah mempermasalahkan bisnis esek-esek yang dijalaninya.
”Sekarang suami saya sedang keluar, tapi tidak masalah sudah biasa,” kata dia. ”Rata-rata sehari saya pijat plus-plus dua kali, suami saya tidak protes karena memang butuh uang,” tambah Dewi.
Setelah beberapa kali wartawan koran ini menanyakan apakah ada tukang pijat yang lebih muda dan kinyis-kinyis, Dewi tetap mengatakan tidak ada.”Kalau pijat plus-plus hanya saya saja, kalau mau yang lebih muda saja juga punya koleksi,” urainya.
Rupanya, selain bersedia melakukan hubungan badan di rumah yang dia tinggali dengan suami dan anaknya, Dewi ternyata juga juga menjadi ‘mami’ atau mucikari untuk perempuan muda. Dia mengaku mempunyai koleksi tiga perempuan yang umurnya sekitar 25 tahun.”Ada yang pegawai kosmetik, ada juga yang karyawan konter,” jelasnya.
Saat ditanya foto-foto perempuan koleksinya, Dewi lagi-lagi tidak mau menunjukan. Yang jelas, menurut dia ada dua kriteria yang menjadi koleksi Dewi.”Mau yang kurus, apa yang montok,” kata dia yang kali ini sambil memainkan hanphone-nya.
Untuk tarifnya, menurut Dewi juga tidak terlalu mahal. Untuk ukuran perempuan yang masih kinyis-kinyis hanya Rp 500 ribu. Hanya saja, untuk perempuan koleksi Dewi tidak bisa ”dieksekusi” di rumah panti pijat itu.
”Harus di hotel, terserah di mana saja bisa di dekat sini, di Jalan Tenaga, dan dimana aja biasanya Anda main,” tambahnya.
Meski sudah menentukan tarif dan juga hotel yang biasa dibuat ‘main’ oleh perempuan koleksi Dewi. Tapi Dewi masih saja tidak mau menunjukan foto perempuan koleksinya.”Kalau kamu tidak cocok, bayar taksi saja lima puluh ribu,” kata dia.”Kalau cocok lima ratus ribu dan bayar taksi,” jelasnya.
Setelah itu, Dewi memberi nomor telephone-nya kepada wartawan koran ini. Untuk bisa memesan wanita koleksinya, menurut dia para pria hidung belang hanya perlu meneleponnya saja. Setelah itu, mereka memesan perempuan yang berisi atau yang kurus.
”Syaratnya harus booking hotel dulu, biar pasti karena kita tidak mau kalau tidak pasti,” kata dia.
Untuk memastikan benar tidaknya Dewi mempunyai koleksi perempuan muda, kemarin (7/11) pagi wartawan koran ini menelepon Dewi untuk memesan satu perempuan.”Yang montok ya,” kata Dewi menegaskan.
Hanya saja ‘orderan’ tersebut tidak bisa langsung dipenuhi oleh Dewi. Dia menjanjikan kalau koleksinya bisa diboking jam 12 siang. Lantaran, perempuan tersebut baru tiba dari Semarang jam 04.00 dini hari. Sesuai waktu yang dijanjikan, wartawan koran ini membooking satu kamar di hotel Jalan Panji Suroso. Setelah itu, wartawan koran ini kembali menelepon Dewi.
”Kamar nomor delapan ya, oke langsung kita kirim,” kata dia.
Sekitar pukul 01.00, ketika mayoritas jalanan di Kota Malang sudah dibasahi oleh hujan yang turun rintik-rintik, perempuan muda kiriman Dewi tiba dan langsung mengetuk pintu hotel. Perempuan ini berkulit putih, umurnya sekitar 27 tahun, dan juga berambut sebahu.
”Maaf ya Mas, nunggu agak lama,” kata dia dengan nada manja.(Radar Malang/JPG)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY