Mentari Mau Ikut Menteri

157
DIBUJUK. M Toni (berjaket coklat) saat menyaksikan Mensos Khofifah Indar Parawansyah memeluk anaknya, Mentari, di Bekangdam XII Tanjungpura, jumat (22/1). Ocsya Ade CP-RK

eQuator – Pontianak-RK. Kedatangan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di pos pengungsian eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Pembekalan Angkutan Daerah Militer (Bekangdam) XII/Tanjungpura, Kalbar, disambut aksi protes, Jumat (22/1) sore.

Saat hendak masuk ke kawasan penampungan, Khofifah sempat berbincang sebentar dengan salah seorang anggota eks Gafatar. Ketika sudah di dalam area penampungan, dia disambut dengan beragam tulisan tuntutan di potongan kardus bekas. Salah satunya, “Kami hanya petani, kami tidak mau pulang”.

Aparat keamanan langsung melarang eks Gafatar melakukan aksi tersebut dan mengamankan kertas kardus berisi tulisan itu. Khofifah hanya tersenyum melihatnya.

Hingga matanya tertuju ke sudut kanan teras Musola Bekangdam XII Tanjungpura. Ia melihat seorang pria yang belakangan diketahui bernama M. Toni asal Bangka Belitung tertunduk dengan wajah kecewa. Di sudut kiri terlihat anaknya bernama Mentari sedang dibujuk oleh adik Toni.

Mentari merupakan mahasiswa semester terakhir di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Mentari berhasil dievakuasi dari kelompok tani eks Gafatar di Dusun Cengkodok, Desa Pasir, Kabupaten Mempawah, dan diungsikan ke Bekangdam.

Mendapat kabar itu, Toni langsung terbang ke Pontianak untuk menemui Mentari. Namun, anaknya itu menolak pulang. Bahkan sempat menolak bertemu dengan Toni dan ngotot kembali berkumpul dengan teman-temannya di tenda penampungan.

“Pulang ya. Jadikan perjalanan kamu selama ini sebagai pengalaman, ambil hikmahnya,” tutur Menteri Khofifah yang menghampiri mereka.

Pun Khofifah menawarkan Mentari untuk tinggal di rumahnya. “Ikut Ibu saja. Temanin anak Ibu yang baru pulang sekolah dari Australia. Mau ya, ini tawaran serius lho,” ujarnya yang dibalas anggukan kepala Mentari.

Kepada awak media, Khofifah menyatakan banyak yang mencari anggota keluarganya yang selama ini menghilang. “Oleh karena itu harus dibangun positif thinking sebagai bangsa. Yang harus kita lakukan agar mereka dapat kembali ke keluarganya masing-masing,” tegasnya.

Ia sudah melakukan berkomunikasi langsung dengan Menteri Transmigrasi untuk menjadikan mereka warga transmigrasi ke daerah yang siap menerima. Namun, tentunya, harus dibina dan diindetifikasi.

“Saya sudah menkoordinasikannya sendiri, minimal mereka ditransit. Dan, dilakukan sejumlah pendampingan mulai trauma konseling dari tim MUI, Kemenag setempat, dan pencerahan kebangsaan NKRI,” papar Khofifah.

Untuk pemulangan ke daerah asal, ia mengatakan sudah berkoordinasi dengan Pemprov Kalbar. “Ada yang diterbangkan menggunakan Herkules dan penerbangan swasta dengan tujuan Yogyakarta, Bandung, DKI, Semarang, dan Surabaya,” terangnya.

Hal tersebut diamini Gubernur Kalbar, Cornelis. Meski ada eks Gafatar yang mengantongi KTP sejumlah kabupaten di Kalbar, ia menegaskan mereka masuk ke Kalbar tidak sesuai prosedur.

Dan, Cornelis menyatakan eks Gafatar tidak dapat menolak dipulangkan ke daerah asalnya. “Kecuali dia sudah menjadi warga kita, menjadi tanggung jawab kita,” tekannya.

Para eks Gafatar itu harus tunduk dan patuh terhadap Undang-Undang Kependudukan. “Ketika orang keluar masuk di wilayah Indonesia, wajib diketahui oleh kepala desa, camat. Aturan main kependudukan kan sudah jelas,” tukas Cornelis.

Bagi yang sudah mengantongi indentitas kependudukan, akan dilakukan pengecekan apakah sesuai prosedur. “Kalau tidak sesuai, aparatnya kita tindak,” tandasnya.

Laporan: Isfiansyah, Ocsya Ade CP, dan Syamsul Arifin

Editor: Mohamad iQbaL