Menguji Siswa, Guru, dan Sekolah

20
TANYA JAWAB KHUSUS. Wapres Jusuf Kalla ketika diwawancara Jawa Pos di kantornya, Kamis (22/12). Raka Denny-Jawa Pos

eQuator.co.id – Setelah sempat ada debat sengit, ujian nasional (unas) akhirnya tetap dijalankan. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) termasuk sosok yang tegas mendukung pelaksanaan unas. Menurut dia, daya saing bangsa itu berada di tangan generasi muda. Maka, generasi muda harus biasa bersaing dan tidak boleh lembek.

Seperti apa dinamika debat unas dan pertimbangan utama pelaksanaan unas? JK membeberkannya kepada tim Jawa Pos yang mewawancarainya secara khusus di ruang kerjanya pada Kamis (22/12).

Unas akhirnya diputuskan tetap dijalankan. Tapi, sempat ada debat dan beda pandangan antara Bapak dan Mendikbud Muhadjir Effendy. Bagaimana dinamika pembahasannya? 

-(Beda pandangan) ini biasa saja. Kita bicara asas manfaat. Tujuan kita kan mencerdaskan bangsa. Bagaimana kita mencerdaskan bangsa kalau kita tidak mendorong anak-anak kita belajar. Ada tidak cara mendorong anak belajar tanpa ujian? Dan bagaimana mengetahui bahwa pendidikan kita ada di mana tingkatannya dibandingkan negara lain tanpa ujian nasional?

Kalau ujian sekolah, nanti sekolah bikin ujiannya berbeda-beda. Dan akan terjadi disparitas, diskriminasi luar biasa ini. Sekolah di Papua, di Maluku, di NTT, Sulawesi membikin ujian yang lebih mudah dibandingkan di Jawa. Akhirnya, berbeda-beda mutunya.

Bagaimana mengukurnya bangsa ini bersatu kalau kita biarkan berbeda-beda. Akhirnya, begitu mau masuk pekerjaan atau masuk perguruan tinggi bagus, tidak bisa diterima (kalah bersaing, Red). Jadi, anak-anak harus dipaksa belajar dengan ujian nasional. Jadi, sekali lagi ini kita bicara soal asas manfaat.

Tapi, unas kadang menjadi hantu karena menjelang unas siswa dan orang tua stres (khawatir tidak lulus). Bagaimana mengatasinya? 

Justru itu penting untuk pendidikan, melibatkan seluruh keluarga. Masak mau santai-santai. Bagaimana Indonesia bisa bersaing kalau generasi mudanya santai. Kalau semua santai, kita akan menciptakan generasi manja, generasi lembek. Harus keras dong.

Dan di seluruh Asia itu ada ujian nasional. Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, China, India, dan Korea, semuanya ada ujian nasional. Australia ujian nasional. Inggris ujian nasional. Masak tiba-tiba kita mau lembek tidak ada unas, nanti seenak-enaknya.

Salah satu tantangan unas adalah menjaga kejujuran. Misalnya, temuan guru mencuri soal unas di Lamongan pada 2014. Bagaimana pencegahannya? 

Itu (pencurian soal unas) betul ada. Tapi, Anda tahu ujian itu diikuti kira-kira per tahunnya 10 jutaan (siswa). Kalau ada 1.000 atau 2.000 tidak jujur, itu bisa saja, kita tidak bisa 100 persen jujur. Tapi, (yang tidak jujur) mungkin hanya nol koma nol persen daripada yang jujur kan.

Kemudian, ada banyak cara supaya orang tidak bisa macam-macam lagi. Contohnya, dulu satu kelas soalnya sama, jadi bisa nyontek. Sekarang satu kelas ada 20 soal (yang berbeda-beda). Bagaimana dia nyontek. Bagaimana guru bikin hasilnya kalau begitu coba?

Kemudian, terakhir, ujian nasional pakai komputer. Bagaimana you nyontek kalau ujiannya baru keluar hari itu dari komputer. Ndak bisa.

Jadi, ada upaya untuk nyontek. Tapi, ada upaya juga untuk perbaikan. Jadi, sekarang makin lama tingkat kebocorannya makin sedikit, makin sedikit, sedikit.

(Nada tinggi) tapi kalau dibikin ujian sekolah, jauh lebih besar lagi. Jadi lebih gampang. Sebelum bikin ujian, dia (guru) sudah beri tahu muridnya, besok yang akan diujikan begini.

Kalau itu, bukan hanya bocor, tapi jebol? 

Oh iya (lantas tertawa). Itu makanya lulus 100 persen semua.

Nilai di daerah akhirnya bagus – bagus kalau ujian sekolah? 

Karena ilmunya kurang. Apa bedanya ujian sekolah dan ujian nasional? Ujian sekolah itu guru mengujikan apa yang telah diajarkan. Ujian nasional itu mengujikan apa yang seharusnya dia tahu. Sebagai lulusan SMA, apa yang musti dia tahu. Itu yang diujikan. Tapi, kalau ujian sekolah diserahkan guru, dia mengujikan saya ajarkan apa ya. Oh (pelajaran) ini, saya ujikan ini. akhirnya terjadi perbedaan jauh.

Kemampuan gurunya segitu, yang diajarkan juga segitu? 

Iya. Ujian (nasional) itu bukan hanya menguji murid. Menguji guru, menguji sekolah. Sekolah ini sampai di mana.

Ada yang mengkritik sekolah saja belum siap diuji karena keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki. Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk mendorong? 

Justru itu anggaran pendidikan kita Rp 400 triliun. Guru-guru dikasih tunjangan macam-macam. Tunjangan guru saja dan sebagainya Rp 75 triliun setahun sekarang ini. Sehingga guru itu pendapatannya tiga kali lipat dari sebelumnya. Malah ada sertifikasi lagi.

Upaya itu ada. Sangat kencang. Kalau dulu, orang minat (menjadi) guru kecil, sekarang minat besar. Karena gajinya lebih besar dari PNS biasa kan. Apalagi, di Jakarta gaji guru bisa Rp 15 juta hingga Rp 17 juta.

Awal bulan ini ada rilis bagus dari OECD terkait dengan skor PISA (Programme for International Student Assessment). Nilai Indonesia naik signifikan. Apakah itu artinya sistem pendidikan kita sudah on track? 

Menurut PISA iya. Kita selama 2006 sampai 2016, itu skornya ada naik sampai 69 poin. Itu kita negara ketiga yang kemajuannya paling signifikan. Dan itu artinya (dengan nada tinggi), kita maju dua tahun. Salah satu sebabnya ialah national standard. National standard itu diambil dari ujian nasional.

Kalau tanpa itu bagaimana? Dulu di bawah kita cuma satu, Peru. Sekarang di bawah kita ada sembilan negara. Walaupun dia (OECD) punya peserta ditambah juga kan.

Jadi, ini bukan solusi untuk sementara ya, Pak? 

Pendidikan itu kan apa yang Anda kerjakan hari ini manfaatnya baru sepuluh tahun lagi ketahuan. Ujian nasional sepuluh tahun lalu baru ketahuan hasilnya sekarang. Bahwa kita negara nomor tiga yang paling cepat majunya di pendidikan, itu berdasar PISA. (Jawa Pos/JPG)

Facebook Comments