Mempawah Usir Gafatar

933
SWEEPING GAFATAR. Ratusan warga Mempawah melakukan aksi sweeping pendatang asal Yogyakarta yang pernah bergabung dalam organisasi Gafatar dan bermukim di seluruh wilayah di Kabapten Mempawah, Kamis (14/1) dinihari dan Jumat (15/1) siang. ARI SANDY

BAG 1 FOTO 3 Ratusan warga datangi Desa pasir yang dimana terdapat 90 Kk warga pendatang dari jogja bertempat tinggal (14 jan 16) pukul 2 pagi BAG 1 FOTO 2eQuator – Mempawah-RK. Tiba-tiba saja Kota Mempawah mencekam, Kamis (14/1) sekitar pukul 20.00. Tanpa dikomando, ratusan warga mendatangi rumah kontrakan di Jalan Pangsuma, Kecamatan Mempawah Timur, diduga tempat tinggal kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Mereka mengendarai sepeda motor dan mobil dikawal kepolisian dan perangkat desa, menemui penghuni rumah kontrakan. Warga menduga rumah kontrakan itu digunakan sebagai persinggahan serta dapur bersama. Rumah itu dihuni ibu-ibu rumah tangga yang memasak untuk kebutuhan para warga pendatang yang mayoritas dari pulau Jawa, kemudian membuka lahan di Kampung Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir untuk bercocok tanam.

Ratusan warga itu juga mendatangi lahan masyarakat pendatang asal Jogja tersebut di Kampung Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir sekitar pukul 01.00 dinihari.

Suara knalpot motor warga dari berbagai penjuru Kota Mempawah memadati jalan selebar tiga meter di Desa Pasir, Km.9.7 yang mengarah ke Makam Opu Daeng Manambon. Ternyata di sana mayoritas eks Gafatar telah menempati lahan kosong untuk bercocok tanam.

Ratusan warga yang terlihat geram dengan eks Gafatar, dihadang polisi di ujung gang menuju lahan pertanian milik warga pendatang asal Jogja itu. Situasi sempat memanas, karena ratusan warga mendesak masuk ke pemukiman warga eks Gafatar. Namun mereka tidak diperbolehkan polisi yang saat itu dipimpin Kapolsek Mempawah Hilir.

Di ujung gang terjadi negoisasi antara polisi dengan perwakilan ratusan warga. Polisi meminta Kepala Desa Pasir yang malam itu juga hadir, agar memberitahu seluruh warga pendatang untuk angkat kaki dari Kabupaten Mempawah. Dikhawatirkan mereka akan mencuci otak warga Mempawah, sehingga menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari Desa Pasir, ratusan warga mendatangi Jalan Opu Daeng Manambon, Desa Kuala Secapa. Di sana diduga ada anggota Gafatar yang menghuni rumah kontrakan. Jumlah mereka lebih dari satu KK. Penghuni itu juga diminta keluar dari Mempawah dalam waktu tiga hari.

Titik ketiga, sekitar pukul 02.00 dinihari, ratusan warga bergeser ke Kuala Mempawah, Kelurahan Pasir Wan Salim, Kecamatan Mempawah Timur. Di sana dicurigai sebagai lokasi tempat tinggal pendatang Gafatar. Warga pun mengundang Ketua RT setempat untuk memastikannya. Ternyata ditemukan 4-5 KK yang tinggal satu atap di rumah kontrakan. Mereka menetap sekitar dua bulan lamanya.

“Saya dulunya tukang ojek di Bekasi, direkrut masuk dalam Gafatar. Namun saya tidak aktif di organisasi, sering diajak bakti sosial namun saya tidak pernah ikut serta. Sekarang saya sudah tidak lagi ikut Gafatar,” ungkap salah satu kepala keluarga di rumah No. 25 RT.06/RW.03 Kelurahan Wan Salim, Mempawah Hilir.

“Kami dibawa oleh koordinator kami bernama Agus, saat ini tinggal di Desa Bakau Kecil (Kabupaten Mempawah),” sambungnya.

Ratusan warga Mempawah yang melakukan sweeping organisasi Gafatar itu bergeser ke lokasi lainnya. Warga menemukan rumah kontrakan yang ditempati organisasi Gafatar di wilayah Mempawah Timur. Mereka langsung diinterogasi oleh perwakilan warga, didampingi ketua RT beserta Kapolsek Mempawah Timur.

“Saya bersama istri dan dua anak saya pindah ke Mempawah kurang lebih dua bulan lamanya. Saya dari Jawa Barat ingin bertani di sini, mencari kehidupan baru. Dulunya kami korban dari PHK,” ujar salah seorang warga pendatang di Mempawah Timur.

Dari Kelurahan Wan Salim, pukul 03.00 dinihari, ratusan warga mendatangi titik akhir kumpulan Gafatar di Kelurahan Tengah, Mempawah Hilir. Warga mendatangi rumah berdinding kayu dan menggedor pintu meminta warga pendatang keluar dari kamar. Dengan wajah kusut bangun tidur, seketika berubah menjadi pucat, karena melihat gerombolan warga di depan rumahnya. Akhirnya perwakilan warga beserta kepolisian masuk ke rumah dan perwakilan warga yang datang kembali meminta para masyarakat pendatang itu angkat kaki dari Mempawah. Sama seperti rumah-rumah yang didatangi sebelumnya, tiga hari dari malam itu, mereka harus angkat kaki dari Mempawah.

Salah seorang perwakilan warga Mempawah, Ibnu Al Gazabah menegaskan, aksi yang mereka lakukan ini, memberikan peringatan kepada warga pendatang yang telah mengakui mantan pengikut organisasi Gafatar, untuk angkat kaki dari Kota Mempawah.

“Kita minta kepada mereka untuk meninggalkan tempat tinggal mereka, dan keluar dari Kota Mempawah. Karena sudah jelas mereka ex anggota Gafatar. Mereka mengakui hal itu,” ungkap Ibnu kepada Rakyat Kalbar.

Dikatakan Ibnu, warga telah menyisir beberapa wilayah di Kota Mempawah, diantaranya, Desa Antibar, Kelurahan Terusan, Desa Pasir, Kelurahan Tengah, Kelurahan Pasir Wan Salim dan Kelurahan Kuala Secapa. “Ultimatum yang kita berikan, mereka harus angkat kaki dalam kurun waktu tiga hari, keluar dari Kota Mempawah. Jika mereka tidak pindah, kami akan menurunkan kembali dengan massa yang lebih besar, dan mungkin malahan kami bisa anarkis,” tegasnya.

Keesokan harinya, usai shalat Jumat (15/1), warga dengan jumlah yang lebih besar, berkumpul di GOR Opu Daeng Manambon, kembali mendatangi kelompok warga yang diduga Eks Gafatar di Desa Moton, Kecamatan Anjongan.

Kedatangan warga sempat ditahan di ujung jalan masuk pemukiman warga eks Gafatar yang diberi plang buka tutup. Kedatangan ratusan warga dikawal polisi berseragam. Mereka merangsek masuk ke pemukiman dan meminta seluruh warga eks Gafatar keluar.

Informasi yang didapat di Moton, ada 110 KK eks Gafatar yang bermukim, jumlahnya sekitar 327 jiwa. Termasuk anak-anak yang ikut membuka lahan.

Melalui pengeras suara (TOA), Ibnu Al Gazabah mempertanyakan kepada para pendatang tersebut, apakah benar tergabung dengan kelompok Gafatar. Secara serentak warga pendatang asal jawa itu mengaku mereka pernah bergabung dengan kelompok yang dilarang pemerintah tersebut.

“Kami tidak membenci bapak ibu yang sudah datang ke Mempawah, yang kami kutuk adalah Gafatar. Kalian yang menyesatkan orang,” tegas Ibnu lewat pengeras suara.

Sementara itu, orator yang berbeda, juga menegaskan kepada para pendatang untuk segera meninggalkan Kota Mempawah hingga batas akhir, Minggu (17/1). “Pada hari ini kami memberikan peringatan kepada bapak dan ibu, dalam waktu tiga hari tinggalkan Kota Mempawah. Karena kami kasihan kepada anak-anak kalian,” tegas salah satu orator lewat pengeras suara.

“Kami datang ke sini bukan untuk negoisasi, namun memberikan ultimatum kepada kalian warga pendatang, jika tidak diindahkan, kami akan membawa massa yang lebih ramai lagi dari hari ini,” tegasnya.

Perwakilan warga pendatang di Moton, Widioko mengatakan lewat pengeras suara, warganya sudah tidak lagi terlibat dalam Gafatar. Pihaknya datang ke Mempawah untuk bertani dan menyambung hidup.

“Jika itu maunya warga Mempawah, kami meminta waktu kepada bapak-bapak untuk berunding kepada warga kami, batas waktu yang diberikan bapak-bapak sangatlah cepat tiga hari saja. Sedangkan warga kami ada yang baru melahirkan dan lain sebagainya,” ujar Widioko.

Dikatakan Widioko, dia bersama kelompok pendatang lainnya masih menunggu kebijakan dari Pemkab Mempawah yang sebelumnya telah mereka temui. “Kita telah bertemu dengan Wakil Bupati Mempawah, Bapak Kapolres, Dandim perangkat Camat dan aparat desa lainnya. Kami menunggu kebijakan pemerintah, Senin (18/1) nanti,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih mendatangi wilayah-wilayah yang diduga tempat berkumpulnya kelompok Gafatar di Mempawah. Informasi yang didapat Rakyat Kalbar, warga Mempawah akan kembali menyisisir Desa Bakau Kecil, Desa Sebukit yang juga ramai ditempati kelompok pendatang.

Laporan: Ari Sandy

Editor: Hamka Saptono