Memiliki Arena Olahraga Termahal: Krestovsky Stadium

Melihat-lihat Saint Petersburg, Salah Satu Kota Budaya dan Sastra Penting Dunia

19
Stadion Saint Petersburg. f-angger bondan/Jawa Pos

Jika Moskow adalah ibu kota negara Rusia, maka Saint Petersburg merupakan pusat kebudayaan dan dianggap sebagai kota tercantik di Negeri Beruang Merah. Sepak bola adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dari sejarah kota ini.

Laporan Wartawan Jawa Pos

eQuator.co.id – SEBAGAI kota terbesar kedua di Rusia, Saint Petersburg menjalani peran yang sangat penting pada Piala Dunia 2018. Ada tujuh pertandingan yang manggung di Krestovsky Stadium, stadion terbesar di sana yang jadi kandang klub Zenit St Petersburg. Itu terdiri atas empat pertandingan fase grup, satu game babak 16 besar, lalu satu semifinal, dan terakhir perebutan peringkat ketiga.

Pada Piala Konfederasi 2017, Krestovsky Stadium menjadi tuan rumah partai final ketika Jerman mengalahkan Chile 1-0. Stadion yang bernama resmi Saint Petersburg Stadium dan juga mendapatkan julukan Zenit Stadium ini dianggap salah satu yang terbaik di Eropa. UEFA memberikan bintang empat buat arena ini.

Tidak mudah mewujudkan Krestovsky Stadium. Pembangunannya penuh drama dan skandal berliku. Rencana awal dibuka pada Desember 2008, namun penyelesaiannya terus mundur. Jadwal opening disepakati lagi pada pada akhir 2011. Namun, stadion ini tidak juga rampung. Setelah mengalami perubahan agenda berkali-kali, pada akhirnya Krestovsky Stadium bisa dipakai tahun lalu.

Karena prosesnya yang ribet, Krestovsky Stadium sampai mengalami pembengkakan anggaran menembus 548 persen. Pada akhirnya, stadion ini total memakan biaya menembus RUB 48 miliar atau sekitar Rp 15, 8 triliun. Menjadikannya sebagai arena sepak bola termahal di dunia. Selain itu, stadion ini mendapatkan predikat lain yang tak kalah ”uniknya”. Yakni stadion dengan delay terlama di dunia.

Perancang Krestovsky Stadium adalah arsitek legendaris asal Jepang Kisho Kurokawa. Namun, Kurokawa meninggal pada 12 Oktober 2007 dan tidak sampai menikmati stadion elegan yang berada di Pulau Krestovsky, tepat menghadap ke Laut Baltik tersebut.

Ambisi pembangunan Krestovsky Stadium sejatinya bermula pada akhir 2005. Itu terjadi sesaat setelah perusahaan gas Rusia Gazprom mengambil alih Zenit St Petersburg. Stadion itu diproyeksikan untuk menggantikan stadion lama Zenit, Petrovsky Stadium. Pemilihan pulau Krestovsky tersebut juga tanpa alasan. Sebelumnya, di sana berdiri Kirov Stadium, kandang Zenit sampai 1989.

Berbeda dari beberapa tuan rumah lain di Piala Dunia 2018, pembangunan Krestovsky dilakukan jauh sebelum Rusia terpilih sebagai host. Pada 22 April 2017, Zenit akhirnya bermain di kandang baru melawan FC Ural pada ajang Russian Premier League. Mantan pemain Chelsea Branislav Ivanovic adalah pemain pertama yang mencetak gol pada stadion baru tersebut.

”Pada era Uni Soviet, prestasi Zenit tidak terlalu bagus,” kata Richard Pike, jurnalis asal Inggris yang sangat menggemari sepak bola Rusia. ”Padahal sepak bola di kota ini sudah marak sejak era perang dunia kedua. Dengan masuknya Gazprom, Zenit menjadi salah satu kekuatan penting. Tidak hanya di Rusia tetapi di Eropa,” imbuh dia.

Menurut Pike, stadion ini menjadi penanda Saint Petersburg sebagai kota sepak bola yang sangat penting di Rusia. Tentu saja selain Moksow, yang memiliki empat klub di Premier League Russia.

Zenit merupakan satu dari tiga klub luar Moskow yang berhasil menjadi juara kasta tertinggi Rusia. Setelah mereka juara pada 1984 Premier League, empat gelar lain direngkuh setelah Gazprom masuk. Yakni pada 2007, 2010, 2012, dan 2015 semuanya. Zenit juga berjaya di Eropa. Pada 2008, mereka menjadi kampiun Europa League dan Piala Super Eropa sekaligus.

PUSAT BUDAYA DAN

SASTRA PENTING DUNIA

Saint Petersburg sendiri terkenal karena pernah melahirkan sastrawan agung Alexander Pushkin. Juga novelis seperti Nikolai Gogol dan Fyodor Dostoevsky. Namun, kota ini menjadi primadona karena arsitekturnya yang luar biasa.

Lokasi yang sangat wajib dikunjungi di Saint Petersburg tentu saja adalah Winter Palace yang di dalam kompleksnya terdapat Hermitage Museum. Ini adalah museum terbesar kedua di dunia setelah Louvre di Paris. Koleksinya hampir mencapai 3 juta item. Pengunjung membeludak setiap hari. Tahun lalu, ada sekitar 4,2 juta orang yang mendatangi museum ini.

“Dan pada saat Piala Dunia ini, kemungkinan pengunjungnya akan bertambah berkali-kali lipat,” kata Jose Gomez seorang pria asal Medellin, Kolombia, yang ditemui Jawa Pos ikut mengantre di depan pintu masuk museum. Dia datang ke Rusia untuk nonton Piala Dunia, tentu saja.

“Tapi kalau berkunjung ke Saint Petersburg katanya memang wajib datang ke sini. Jadi saya ke sini. Tidak apa-apa mengantre lama,” imbuh dia.

Museum ini buka mulai pukul 10.30, lalu tutup pada 18.00 waktu setempat. Namun pada Jumat, waktu operasional Hermitage diperpanjang sampai pukul 21.00.

Kalau Hermitage sedang penuh sesak, selalu ada opsi lain untuk pencinta seni yang datang ke Saint Petersburg. Antara lain, Catherine Palace and Park di Tsarskoye Selo. Di sana ada Amber Room, sebuah ruang ekshibisi yang memiliki banyak koleksi patung terkenal.

Para pecinta arsitektur pasti akan sangat betah di Saint Petersburg. Untuk berfoto ria, ada dua katedral cantik yang bisa dijadikan objek. Pertama Katedral St Isaac dan Church of the Saviour on the Spilled Blood. Lokasi yang kedua berada di tempat yang sama saat Tsar Alexander II dibunuh pada tahun 1881. Letak bangunannya indah, tepat di samping sungai Moyka.

Saat ini, salah satu kubah utama gereja yang dibuka pada 1907 itu sedang direnovasi. Namun itu tidak mengurangi daya tarik lingkungan tersebut. Karena di sana banyak gerai suvenir, kafe, museum, dan toko buku yang tentu sangat memanjankan para turis.

Perjalanan ke Saint Petersburg tidak akan lengkap tanpa mengunjungi Petergof, sebuah istana dengan air mancur dan taman yang sangat cantik. Mungkin ini adalah salah satu lokasi paling indah di Rusia. (Jawa Pos/JPG)