Melepas Puake, Simbol Menjaga Keseimbangan Alam

Robo-robo Mempawah Diakui Sebagai Warisan Tak Benda Indonesia

21
MELEPAS PUAKE. Prosesi Melepas Puake ke alam liar yang dipimpin langsung oleh Raja Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim di kawasan Keraton Amantubillah, Mempawah, Senin (13/11). Ari Sandy-RK

Menilik tapak tilas kebudayaan robo-robo yang ada di Kabupaten Mempawah, tentunya memiliki sejarah tersendiri pada masanya. Berawal dari kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah pada 1148 Hijriah atau 1737 Masehi.

Ari Sandy, Mempawah

eQuator.co.id – Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin. Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun dan Opu Daeng Manambon selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk. Hingga saat ini, peringatan kedatangan Opu Daeng Manambon rutin dilaksanakan setiap Rabu diminggu terakhir Safar tahun Hijriah. Yang sekarang dikenal dengan istilah Robo-robo.

Sebelum perayaan puncak, serentetan ritual dilaksanakan keluarga kerajaan Amantubillah yang saat ini dipimpin seorang Raja bergelar Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim. Di antaranya ritual adat “buang-buang” di laut.  Menggunakan banyak perahu motor diisi berbagai macam persyaratan makanan untuk dibuang ke laut oleh para keluarga dan kerabat raja.

Ada pula ritual ‘Melepas Puake’, Senin (13/11) yang dipimpin langsung Raja Mempawah. Prosesi ini melepaskan binatang yang badannya telah ditandai dengan ikatan kain kuning. Ritual ini dipercayai akan menjaga kestabilan alam.

Tahun-tahun sebelumnya, Melepas Puake disimbolkan dengan melepas binatang seperti anak buaya, ular pyton, burung hantu dan sebagainya. Namun kali ini binatang yang dilepas ke alam liar yaitu labi-labi dan kucing hutan. Binatang yang dilepas ke alam liar tersebut bukanlah sengaja dipilih oleh Raja. Melainkan binatang yang tiba-tiba muncul di kediaman Raja sebelum hari puncak perayaan Robo-robo. Kapan kemunculan hewan-hewan ini sulit diprediksi.

“Kali ini, kediaman Raja didatangi oleh hewan tersebut, Alahuallam,” ungkap Bambang Permadi selaku Karaeng Tanre Dolong Istana Amantubillah.

Dengan hadirnya hewan-hewan tersebut di kediaman Raja, maka ritual Melepas Puake pun menggunakan labi-labi dan kucing hutan. “Filosofi Melepas Puake ini bukan berarti kita takut dengan kakek atau takut dengan hantu. Namun ritual ini kita menunjukan kepedulian untuk menghargai alam. Agar terjaga kelestarian lingkungan alam dan berkesinambungan dengan manusia,” tuturnya.

Dijelaskannya, Robo-robo ini erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Opu Daeng Manambon. Mulai dari kelahiran kedatangan dan kematian Opu Daeng Manambon. Robo-robo digelar pada Safar, lantaran bulan ini dianggap umat Islam banyak musibahnya.

“Maka dari itu Robo-robo juga merupakan ritual adat istiadat tolak bala yang dimana prosesi tersebut untuk menyampaikan doa agar terhindar dari marabahaya zaman,” tutur Bambang.

Sementara Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kusuma Ibrahim mengatakan, Robo-robo yang selalu digelar setiap Rabu terakhir Safar selalu jadi daya tarik masyarakat untuk hadir ke Bumi Galaherang tersebut.

“Ritual budaya seperti Melepas Puake di belakang Istana Amantubillah pada pagi hari dan mencuci benda pusaka peninggalan Istana Amantubillah di Taman Benteng Batu merupakan serangkaian ritual sebelum hari puncak Robo-robo,” tuturnya.

Raja mengatakan, dalam serangkain prosesi tersebut tak lain merupakan bentuk wujud menjaga keseimbangan alam. Sekaligus memberikan contoh kepada masyarakat untuk menjaga keberlangsungan ekosistem alam agar tidak punah.

“Prosesi ini juga sebagai contoh kepada masyarakat dengan harapan dapat menjaga hewan-hewan yang ada, agar keberlangsungan di dalamnya tetap terjaga,” ucapnya.

Raja Mardhan menuturkan, Robo-robo yang telah menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tersebut bisa menjadi surga untuk seluruh kebudayaan. Bukan hanya tempat bagi sebuah kebudayaan tertentu, namun milik semua masyarakat. Hal itu ditunjukan dengan beberapa peninggalan pusaka yang disimpan di Keraton Amantubillah. Seperti adanya pusaka dari etnis Bugis, Jawa, Melayu dan Dayak. Prosesi memandikan pusaka-pusaka ini boleh dilihat secara masyarakat umum. “Ada banyak pusaka berharga dan sakral peninggalan Istana Amantubillah yang merupakan senjata perang,” ungkapnya.

Dikatakannya, benda pusaka yang saat ini masih tersimpan rapi diantaran meriam, keris badik, tombak dan lain sebagainya. “Khusus meriam si Bondah Raden Mas, dulunya diletakkan pada haluan kapal untuk melawan para penjajah kala itu,” jelas Raja. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi