Matthew Alonso, Seniman Kopi

30
Matthew Alonso

”His name is Matthew. He is the youngest competitor of east java latte art competition. He just turned 12 yo (years old) yesterday. He looks so professional, very confidence and calm on the stage, I hope he can make it into the final. Good luck and happy belated birthday @matthew_alonso_123 You really inspired me today!!”

***

Itulah komentar panjang yang disampaikan salah seorang barista nasional Muhammad Aga. Apresiasi tersebut diungkapkan ketika Matthew Alonso berlaga dalam Latte Art Competition pada event East Java Coffee Show pekan lalu.

Matthew memang termasuk salah seorang barista berbakat tanah air. Kemampuannya mengolah kopi tidak sekadar bisa memaksimalkan alat-alat seduh manual. Pada usianya yang baru menapak 12 tahun, Matthew sudah piawai membuat kreasi gambar di segelas latte (latte art).

”Awalnya, saya hanya tertarik ketika melihat barista membuat kopi. Kebetulan Papa juga baru buka kedai saat itu,” ujarnya pelajar SMP Kr Petra 1 itu. Awal mula mempelajari latte art, Matthew membuat gambar hati.

Gambar hati atau heart dalam dunia latte art memang sering kali dianggap paling mudah. Tapi, jika tidak tahu tekniknya, pembuatannya tetaplah susah. Meskipun di hadapan kita sudah tersaji secangkir espreso dan susu yang sudah di-steam.

Meski sulit, Matthew tidak putus asa. Dia mengaku menikmati kesulitannya itu. ”Puas rasanya saat sudah berhasil. Serasa menggambar di atas kopi,” ucap anak pasangan Ary Satrio Wibowo dan Linda Sentosa itu. Saat ini Matthew mengaku sudah bisa membuat berbagai teknik gambar latte art.

Di dunia latte art, bentuk-bentuk dasar yang sering disajikan oleh barista, antara lain, heart (love), rosetta, tulip, angsa, dan ukir (etching). Dalam video yang dibagikan oleh ayah Matthew di YouTube, bocah kelahiran 22 September itu sudah piawai membuat aneka bentuk dasar latte art.

Kemampuan membuat latte art itu sering dilatih Matthew dengan mengikuti kompetisi. Tentu dalam berbagai ajang, Matthew sering menjadi peserta termuda. Tak jarang, banyak orang yang meragukan kemampuannya. ”Banyak yang kaget, mungkin dikira anak kecil cuma bisa main games,” ucapnya.

Saat ini prestasi tertinggi yang berhasil diraih Matthew adalah juara II latte art competition di Urban Coffee Week. Ajang itu diselenggarakan di salah satu mal di Surabaya pada Juli lalu. Meski kemampuannya terlatih di berbagai lomba, Matthew mengaku masih sering canggung ketika berhadapan dengan customer.

Di luar tiga nama di atas, tentu masih banyak bocah imut yang punya kemampuan meracik kopi bak orang dewasa. Mereka tersebar di berbagai daerah. Kebanyakan memang antusias mendalami kopi karena lingkungan. Salah satunya, pekerjaan orang tua yang memiliki kedai atau bahkan sekolah barista. (Jawa Pos/JPG)