Masih Amankah Menunggu di Ruang Tunggu Bandara Supadio?

Langit-langit Runtuh Lagi, Dua Orang Luka Ringan

80
RONTOK. Plafon dari bahan PVC berjatuhan menimpa calon penumpang pesawat di Bandara Supadio Kubu Raya, Minggu (26/3). Foto Repro

eQuator.co.id – Sungai Raya-RK. Gubraaaaak. Langit-langit di ruang tunggu lantai dua terminal keberangkatan domestik Bandara Internasional Supadio di Kubu Raya kembali ambruk, Minggu (26/3). Menyusul peristiwa serupa pada Selasa (21/3).

“Hari ini (kemarin), 26 Maret pukul 15.15 WIB, untuk kedua kalinya plafon Bandara Supadio Pontianak, tepatnya di atas ruang tunggu keberangkatan terlepas dan terjatuh dalam luasan cukup besar. dan menimbulkan suara keras yang menyebabkan kepanikan pengunjung,” tutur Wakil Ketua DPRD Kalbar, Suriansyah, kepada Rakyat Kalbar.

Dari rekaman CCTV yang didapat koran ini, kejadian begitu cepat. Ratusan penumpang tengah menunggu keberangkatan. Saat itu pula lembar-lembar plafon terjatuh menimpa mereka. Kontan saja, semua berhamburan menyelamatkan diri. Peristiwa itu berlangsung sekitar 15 detik.

Suriansyah membenarkan robohnya langit-langit Bandara tersebut memang sempat mengundang kepanikan pengunjung yang kebetulan melintas ataupun lagi duduk bersantai. Setelah kejadian, area yang terdampak dari jatuhnya plafon tersebut dilokalisir dan sisa-sisa reruntuhan plafon langsung dibersihkan.

Ketika diwawancarai, ia belum mengetahui apakah ada korban dalam peristiwa itu. “Karena lokasi kami yang melihat berada di ruang tunggu kedatangan,” tuturnya.

Imbuh Suriansyah, “Nah, kalaupun ada korban dari kejadian tersebut,  itu sudah sangat disesali. Pihak kontraktor atau Angkasa Pura (PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Supadio,red) harus bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut.”

Sebab, lanjut politisi Partai Gerindra ini, hal tersebut bukan kejadian pertama. “Kalau perlu, Bandara Supadio ditutup untuk sementara demi mencegah korban berikutnya,” pinta Suriansyah.

Menyikapi peristiwa itu, hari ini (Senin, 27/3), Komisi IV DPRD Kalbar berencana mengunjungi Bandara Supadio. Ia mengimbau pihak Angkasa Pura segera mengambil langkah pengamanan sebelum korban jiwa berjatuhan.

“Untuk memastikan material dan konstruksi yang digunakan aman untuk manusia dan tahan segala cuaca” tukasnya.

Menurut dia, material yang digunakan untuk plafon tersebut mirip plastik. Ia menduga kurang cocok dengan udara Pontianak yang panas. Itu sebabnya, otoritas Bandara harus segera melakukan pemeriksaan soal konstruksi dan bahan bangunan yang dipakai.

“Agar tidak terjadi lagi (robohnya plafon), baik dalam jangka pendek maupun panjang” pungkas Suriansyah.

Informasi yang dihimpun belakangan, dua orang penumpang yang berada di ruang tunggu tersebut mengalami luka ringan akibat tertimpa puing material plafon. Dua korban kemudian dibawa ke ruangan khusus untuk diberi tindakan medis oleh Dinas Kesehatan Pelabuhan Udara. Setelah dinyatakan pulih, mereka melanjutkan penerbangannya.

Saat ini, kabarnya otoritas bandara telah melakukan pengecekan dan perbaikan guna mengantisipasi terulangnya kembali hal serupa. Untuk sementara, situasi di ruang tunggu keberangkatan berjalan aman lancar.

Untuk peristiwa copotnya plafon Bandara Supadio sebelumnya (Selasa, 21/3), Airport Project Management PT Angkasa Pura II, Cuanda menyalahkan faktor alam. Angin kencang lah yang disebut sebagai penyebab lepasnya sebagian langit-langit Bandara itu.

Ketika ditemui Rakyat Kalbar di kantornya Jumat (24/3), ia mengkalkulasikan plafon yang copot sekitar 114 meter persegi dari 6.000 meter persegi. “Ketika itu angin kencang,” tutur dia.

Plafon berbahan Polyvinyl Chloride (PVC) sudah dipasang selama dua bulan kalender. Sejak proyek multiyears tahap III pembangunan Bandara Internasional Supadio mulai dikerjakan Agustus 2016.

“Hampir dua bulan tidak ada masalah. Pembangunan konstruksi plafon ini belum selesai. Sisi luar bangunan baru mau dipasang plafon, tapi keburu angin masuk duluan, jadi kemarin yang di dalam lepas. Penyebabnya karena hujan lebat dan angin kencang,” ujarnya.

Berdasarkan catatannya, pekerjaaan plafon masih dalam masa konstruksi dan sudah 80 persen. “Dipastikan bahwa spesfikasi teknis itu sudah sesuai dengan perencanaan. Karena Manajemen Konstruksi (MK) langsung mengawasi pekerjaan tersebut,” yakin Cuanda.

Sayangnya, ketika koran ini meminta informasi dan contact person kontraktor pembangunan Bandara Supadio, BUMN PT Nindya Karya, Cuanda terkesan menutup-nutupi. “Sampeyan tidak perlu tahu siapa perwakilan PT Nindya di Pontianak,” tuturnya.

Perusahaan konstruksi plat merah itu bermarkas di Gedung Nindya Jalan Letjend MT Haryono Jakarta. Di Kalimantan, perwakilannya ada di Kaltim dan Kalsel.

Nah, untuk peristiwa terbaru, Cuanda pun masih enggan buka-bukaan. “Kita lagi bentuk tim investigasi. Kami akan panggil semua kontraktor. Sekian dulu ya mas,” tukasnya, tadi malam (26/3).

Ketika ditanya lebih jauh, ia kembali menyebut faktor “alam” sebagai penyebab copotnya langit-langit Bandara Supadio.  “Mungkin kejadian ini gara-gara angin minggu lalu,” duga Cuanda.

Sebelum mengakhiri keterangannya, ia menyatakan ada 200 meter persegi plafon berbahan PVC yang jatuh. “Malam ini (tadi malam,red) mau kita lepas,” tutupnya.

Perlu diketahui, pembangunan Bandara Internasional Supadio dipecah menjadi dua paket. Paket pertama interior, dimulai sejak 30 November dan diprediksi selesai pada Agustus 2017. Paket kedua, tahap tiga adalah pembangunan plafon dan sebagainya, dimulai sejak Agustus 2016 dan diprediksi selesai pada Juli 2017.

Dengan keterangan terbaru ini, berarti sudah 314 meter persegi yang runtuh dari keseluruhan 6.000 meter persegi. Dari rentang waktu kejadian yang hanya berjeda beberapa hari, pertanyaan yang mencuat adalah: masih amankah menunggu di ruang tunggu Bandara Supadio?

 

Laporan: Zainudin, Ocsya Ade CP, Deska Irnansyafara

Editor: Mohamad iQbaL