Mahasiswa Fakultas Pertanian Dikeroyok Senior dalam Ruangan BEM

48
ilustrasi - net

eQuator.co.id-Pontianak-RK. Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Panca Bhakti (UPB), Laurensius Toto Prabowo dikeroyok enam seniornya di ruangan BEM UPB, Selasa (7/11) sekitar pukul 13.00 WIB. Akibatnya, pemuda 21 tahun asal Desa Nanga Tayap, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang itu luka memar di sekujur tubuhnya.

Informasi yang didapat di lapangan, pengeroyokan itu bermula saat korban berjalan dari ruang Rektorat menuju bangunan Mapala Arkha di ujung area kampus. Tepat di pinggir Sungai Kapuas. Setibanya di depan ruangan BEM, dia langsung dicegat oleh empat seniornya Fakultas Pertanian.

Kerah baju korban kemudian ditari dan rambutnya dijambak. Dalam keadaan ketakutan, korban dimasukan ke ruangan BEM. Pintu ditutup.

Setelah dalam ruangan, korban dikeroyok oleh sekitar enam seniornya. Dan, kejadian yang mencoreng dunia pendidikan ini disaksikan lebih dari 30 senior lainnya. Kejadian ini pun tanpa diketahui rekan korban.

Atas pengeroyokan itu, baju korban robek-robek. Korban mengaku merasa sakit di bagian pipi sebelah kanan karena dipukul, pipi sebelah kiri karena ditampar, kaki kiri karena ditendang, punggung dipukul.

Tak hanya itu, korban juga mengaku mendapatkan intimidasi dari senior yang mengeroyok dan yang tak dikenalinya. Namun, salah satu pelaku ada juga yang dikenalinya.

Setelah dikeroyok, korban keluar dari ruangan dan melapor kejadian itu kepada para senior Mapala, Angga Satria, 30, dan Anwar, 30. Kemudian bersama senior lainnya, korban membuat laporan di Polsek Pontianak Barata.

“Korban ada buat laporan di kita, atas nama Laurensius,” ucap Kapolsek Pontianak Barat, Kompol Bermawis kepada sejumlah wartawan ditemui di kantornya, Selasa siang.

Saat ini, kata Bermawis, pihaknya masih mendalami penyebab dugaan pengeroyokan tersebut. “Apa yang membuat (latar belakang) kok ribut, ini masih penyidikan dan penyelidikan (kami),” tegasnya.

Kejadian ini, ditegaskan Bermawis, akan ditelusuri pihaknya. “Apakah kejadian ini sering kali, sudah puncaknya, spontan dan sudah direncanakan atau terorganisir, kan kebetulan saja di lingkungan kampus, kita belum bisa memeberikan kesimpulan,” tegasnya.

Sementara itu, korban enggan memberikan keterangan kepada awak media yang mencoba mewawancarainya. Termasuk para senior yang mendampinginya membuat laporan dan perwakilan kampus. Mereka langsung bergegas kembali ke kampus yang bersebelahan dengan Mapolsek tersebut.

Lalu, informasi yang kembali didapati pemicu dari kekerasan ini karena para seniornya tidak terima oleh ulah korban yang seakan-akan mengejek menyoal keorganisasian. (amb)