Lawan LGBT dengan Gerakan Terorganisir

137
Ilustrasi - NET

eQuator.co.id – MAKASSAR, FAJAR – Lesbi, gay, biseks, dan transgender (LGBT) merupakan gerakan terorganisir. Untuk menghadapinya harus dilawan dengan gerakan yang lebih terorganisir. “LGBT adalah penyimpangan. Bisa direhabilitasi dan disembuhkan,” ujar Prof Tahir Kasnawi pada diskusi bulanan Ikatan Masjid Musallah Indonesia Muttahidah (IMMIM) yang berlangsung di gedung IMMIM, Sabtu 27 Februari.

Selain dia, pembicara lainnya ada Abdul Rivai Ras (pakar ketahanan nasional dan kemaritiman), dan Prof Hamdan Juhannis (pakar sosiologi UIN Alauddin). Diskusi dipandu Ishaq Samad.

Menurut Hamdan Juhannis, kesamaan Gafatar dan LGBT adalah sama-sama gerakan terorganisir dan produk dari kebebasan. Akar persoalannya, antara lain karena kebebasan yang kebablasan. Selain itu, googelisasi pemahaman keberagamaan.

“Keduanya harus dilawan karena bisa meruntuhkan nilai luhur agama,” sebutnya.

Hamdan bilang, sebagai mubalig jangan jadikan masyarakat di menara gading yang cenderung asosial dan pragmatik. MUI perlu bantu pemerintah buatkan roadmap kehancuran moral bangsa bila LGBT dibiarkan.

Abdul Rivai Ras menambahkan, yang tejadi saat ini perkembangan geopolitik memengaruhi belahan dunia. Konsep kebebasan berlebihan membuat LGBT hadir. Di Indonesia, kata dia, komunitas ini terdapat di 28 provinsi dan paling banyak di kota besar termasuk di Sulsel. “Perlu konsep melawannya dengan tegas. Jangan perangi individunya namun perangi penyimpangannya,” katanya. (sam/iad)