Konon, Ada Ilmu Hikmah sehingga Penggunanya Kebal dan Kuat

Kisah di Balik Baju Rajah Datuk Ahim, Panglima Selempang Merah

17
KOLEKSI. Helmi memperlihatkan Baju Rajah Datuk Ahim di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. FAIZARMAN-JAMBI EKSPRES

Baju Rajah Datuk Ahim merupakan bukti perjuangan rakyat Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) mengusir agresi kedua penjajahan Belanda tahun 1949. Baju ini bernilai sejarah yang belum terangkat. Pihak keluarga bersama museum akan menulis sejarah ini.

FAIZARMAN, Jambi

eQuator.co.id – MUSEUM Perjuangan Rakyat Jambi memiliki banyak koleksi benda bersejarah. Salah satunya Baju Rajah Datuk Ahim, yang merupakan bukti perjuangan rakyat Timur Provinsi Jambi mengusir angresi kedua penjajahan Belanda tahun 1949.

Baju Rajah merupakan benda pusaka yang dimiliki Ibrahim Abdul Gani yang bergelar Datuk Ahim. Ia merupakan seorang Panglima Selempang Merah yang bertempur mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Desa Parit Deli Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar).

Dalam pertempuran itu, rombongan yang dipimpin Datuk Ahim berhasil memukul mundur tentara Belanda. Datuk Ahim yang menggunakan senjata tradisional melayu selamat dari baku tembak para penjajah asal Negeri Kincir Angin tersebut.

Dalam pertempuran sengit kala itu, Datuk Ahim menggunakan Baju Rajah untuk perlindungan dari serangan musuh. Konon baju ini mempunyai ilmu hikmah yang mengandung kekuatan dan kekebalan bagi penggunanya.

Baju Rajah sendiri berjeniskan rompi dengan bertuliskan sekumpulan huruf arab di semua sisi. Dibagian depan terlihat Allah didada kiri dan Muhammad di bagian dada sebelah kanan.

Helmiyati, Kasi Koleksi Mesum Perjuangan Rakyat Jambi mengatakan, Baju Rajah Datuk Ahim sudah menjadi milik museum. Baju ini miliki Datuk Ahim, merupakan Panglima Selempang Merah.

“Baju ini dipergunakan untuk kekebalan tubuh menghadapi penjajahan Belanda,” ujarnya.

Menurutnya, baju ini merupakan anti peluru sehingga tembakkan para penjajah meleset. Sehingga baju ini disebut sebagai pelindung.  “Baju Rajah yang kita miliki asli. Kita ambil tahun 2014 dari ahli waris Datuk Ahim,” jelasnya.

Beberapa tulisan di baju rajah sejuah ini belum diterjemahkan pihak museum. Karena beberapa bagian terlihat kabur dan perlu dikaji. “Tulisan dibaju itu belum kita terjemahkan. Semuanya masih utuh,” ucapnya.

Datuk Ahim memang belum banyak diceritakan dan ditulis. Namun Datuk Ahim merupakan bagian dari kelompok perjuangan yang  angkatan H. Saman yang tenggelam di laut Kuala Tungkal.

“Sejarah Datuk Ahim di Parit Deli belum lengkap. Rencannya pihak keluarga bersama museum akan menulis sejarah ini. Sehingga belum terangkat,” pungkasnya. (Jambi Ekspres/JPG)