Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak

Cornelis: Jaga Budaya Dayak

120
KONGRES. Presiden MADN Drs.Cornelis.MH membuka Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak di Aula Kantor Bupati Bengkayang, Sabtu (3/6) malam. Foto: Kurnadi

eQuator.co.id-BENGKAYANG. Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak diawali dengan Pesta Gawia Sowa, adat dan tradisi Dayak Bidayuh, di Dusun Jagoi Kindau, Desa Sekida, Kecamatan Jagoi Babang, Sabtu (3/6).

Pesta yang dimulai pukul 09.00 itu dihadiri sekitar 3000 warga.

Sementara Kongres dipusatkan di Aula Utama Lantai V Kantor Bupati Bengkayang, yang dibuka oleh Presiden MADN Kalimantan Drs.Cornelis.MH.

Cornelis mengajak agar Dayak di Kalbar tetap menjaga NKRI dan berada pada garda terdepan untuk membela Pancasila, UUD 1945, serta menjaga kebhinekaan.

“Masyarakat Dayak agar tetap menjaga dan melestarikan Kebudayaan Dayak. Jaga kerukunan serta bersatu membela NKRI,” tegas Cornelis.

Dikatakan Cornelis yang juga Gubernur Kalbar, bahwa perayaan adat budaya Dayak seperti Gawai sudah diselenggarakan sejak 1974 atau sudah 32 tahun ketika Gubernur Kadarusno dan Soedjiman.

Ketua Panitia Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak Bambang Bider kepada eQuator.co.id Sabtu (3/6) malam berharap, seluruh rangkaian  acara berjalan lancar dan sukses.

“Kongres ini dalam rangka kembali mempersatukan Dayak agar mengenal  dan tetap mempertahankan budaya dan tradisinya di masa depan,” katanya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kalbar yang membuka acara kongres, sebagai inisiatif masyarakat untuk mendiskusikan kebudayaan Dayak di masa datang dengan memotret kebudayaan Dayak masa lalu apakah ada perkembangan atau tidak melalui fase fase. Ada 52 pembicra untuk 6 classter, politik, ekonomi, kebudayaan, sosial, teknologi, hukum.

Peserta kongres dari Amerika, Malaysia, Brunei, dan indonesia hadir dari 12 sesi pada 3-6 Juni. Kongres dikunjungi Miss Malaysia 2014, Dewi Liana Serisestha, Dayak Bidayuh yang berprestasi internasional.

“Ia diundang untuk menunjukan ada Dayak yang berprestasi, agar jadi contoh seperti Dewi,” ungkap Bambang.

Suryadman Gidot dalam sambutanya menyampaikan terima kasih atas kehadiran Presiden MADN Drs. Cornelis. MH, Darem 121/ABW beserta tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri.

“Dayak harus hadir dan ada sampai dunia kiamat. Kongres internasional diharapkan dapat menghasilkan pokok pikiran yang menjadi dasar agar Dayak semakin maju dan dapat mengembangkan diri pada dunia,” kata Gidot.

Kongres menurutnya menjadi pegangan pada masa yang akan datang dalam mempertahankan identitasnya.

Miss Malaysia Dewi Liana Serisestha mengatakan, bahwa tradisi Dayak harus tetap ada jangan sampai pupus di muka bumi.

“Dua tahun lalu saya sudah buat dokumen ring lady yang sebelumnya hanya dipakai orang tua. Sekarang jangan malu menbiasakan agar yang muda dapat melanjutkan ring lady,” ujarnya.

Ring Lady dimaksud Dewi tak lain dari anting-anting ciri khas suku Iban dan Bidayuh. “Dan jangan lupa bahasa, budaya, adat dan jangan malu sebagai orang Dayak,” tambah Dewi.

Diuraikannya, perbedaan Dayak Malaysia dan indonesia adalah pengelompokan Iban, Bidayuh dan Dayak Ulu berdasarkan kaum masing masing namun tetap bersatu.

“Begitu juga di Indonesia walau Dayak berkelompok diharapkan tetap bersatu,” ujarnya.

Hadir pada pembukaan Kongres sejumlah tokoh diantaranya Milton Crosby, Yakobus Kumis Ketua Harian DAD Provinsi Kalbar, DR.Kristianus Atok,Thadeus Yus, Martinus Kajot Ketua DPRD Bengkayang, Dandim 1202/SKW Letkol Inf.ABD Rahman, para Kepala SKPD, Forkopinda. (Kur)