Ketika Kesabaran Asri Habis, Cuka Getah pun Jadi Senjata

Derita Penoreh Getah yang Statusnya Digantung Suami (Bagian 3/selesai)

304
LUKA KDRT. Asri Emiliyani ditemani anaknya, Si Bungsu Geri, menunjukkan lebam di tangannya yang ia nyatakan akibat dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Leben, di Komplek Aloevera, Jalan 28 oktober, Pontianak Utara, Senin (21/12). Dokumen

Ocsya Ade CP, Pontianak

 

eQuator – Usai melahirkan anak ke empat, Asri Emiliyani belum begitu sehat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai penoreh getah. Kondisi itu semakin buruk setelah Sang Buah Hati yang baru beberapa menit menghirup udara fana dipanggil kembali ke alam baka. Di awal Januari 2015 itu, kesedihan Asri tiada terkira.

Suaminya, Leben, tak lagi menafkahinya bahkan melakukan kekerasan kepadanya. Leben terjebak dalam balutan asmara dengan Mulyani, istri Marhawi, yang sudah beranak lima. Mereka tetangga Leben di pondokan Kampung Lombak, Toba, Sanggau. Di batas Ketapang-Sanggau itu, Leben menambang emas.

Memasuki Juli 2015, Asri dan tiga anaknya pun bingung mau makan apa. Hasil menoreh getah yang tak seberapa masih harus menutupi tuntutan biaya sekolah Si Sulung dan Si Tengah.

“Saya tanya anak saya, ‘Bagaimana Nak, yang mau dimakan tidak ada’. Anak saya menjawab, ‘Coba agak (datangi,red) Bapak’,” cerita Asri, Senin (21/12), di kediaman keluarganya, Komplek Aloevera, Jalan 28 oktober, Pontianak Utara.

Bingung hendak kemana, Asri pun mencoba melupakan kekerasan yang telah dialaminya. Bersama anak-anaknya, ia memutuskan menjumpai Leben.

“Pas lebaran (Idul Fitri) lalu, pergilah kami menyusul Leben di Lombak. Kami seperti keluarga biasanya, tanpa ada masalah,” ujarnya.

Asri pikir, mungkin Leben telah berubah, kembali mencintai keluarga. Namun, kekerasanlah yang kembali didapatnya. “Eh, tiba-tiba perempuan (Mulyani) itu telpon marah-marah dan menghasut. Saya langsung ditempeleng Leben. Ia mengikuti kata perempuan itu,” tutur dia.

Jauh-jauh datang dari Simpang Dua, Ketapang, untuk menemui Leben di Lombak, Toba, Sanggau, Asri malah dimarahi terus-terusan. Asri menegaskan bahwa ia masih istri Leben.

“Langsung dihantam lagi sama dia. Dicekik hingga tidak sadar, bangun-bangun sudah basah setelah disiram air galon. Tapi masih sabar. Belum mau lakukan apa-apa, belum,” ucap Asri, air matanya meleleh.

Pulanglah Asri ke Simpang Dua dengan tangan hampa. Pasrah dengan kondisinya, ia kerja tambahan sebagai penebas rumput. “Jam dua subuh sudah turun noreh getah, karena jam tujuh pagi anak saya sekolah. Si Kecil (bungsu) tak ada yang jaga,” jelasnya.

Sejak Idul Fitri itu hingga Desember 2015, Leben tak peduli lagi dengan anak dan istri sahnya. Asri kembali nekad untuk menemui Leben. Rabu, 16 Desember 2015, Asri pergi lagi ke Lombak.

“Ini terpaksa, kemauan anak saya. Kami mau Natalan, jadi butuh biaya. Kerjaan saya hanya penoreh getah dan nebas rumput. Mana cukup untuk Natalan,” tukasnya.

Sampai ke Lombak, Asri mencoba berbicara sambil duduk dekat Leben. Tapi, bukan uang yang didapat, Leben justru marah sambil bilang dirinya bukan pencetak uang.

“Saya lalu ditendang, jatuh ke bawah menimpa tunggul. Paha dan lengan saya memar. Masih kurang, saya ditinju lagi sama Leben. Saya langsung lari ke pondok milik orang lain di ujung,” paparnya, sambil menunjukkan sejumlah bekas memar di badannya.

Asri pun menyerah. Namun, sebelum pulang ke Simpang Dua, ia hendak pamitan dulu kepada Leben. “Dia langsung marah. Bangun dari duduknya dan ninju saya lagi. Untungnya di sekitar dia ramai orang, kami dilerai,” tukas dia.

Dari pondok Lombak itu, ia menumpang dump truck yang hanya sampai di jalan utama. Setelah sampai di jalan utama, dia menumpang mobil pembawa durian. Duit di tangan tak sampai Rp50 ribu.

Sebenarnya, dia sudah lama mengetahui hubungan gelap suaminya dengan Mulyani, istri Marhawi itu. Bahkan, Asri tahu alamat kontrakan Leben dan Mulyani di Pontianak. Tepatnya di Gang Teluk Mutiara, Siantan Hilir. Informasi alamat tersebut didapat Asri dari Marhawi.

Dan, tiba saatnya kesabaran Asri habis. Dia mendapat kabar suaminya sudah berada di kontrakan tersebut. Dipicu kondisi keuangannya yang riskan, dia gelap mata. Bersama Si Bungsu, Asri nekad pergi ke Pontianak pada 18 Desember 2015.

“Mau Natalan tak punya uang, disiksa lagi. Saya nekat ke Pontianak, bawa cuka getah asli hasil kerjaan saya, memang niat saya. Rencananya hanya mau menyiram Leben, tapi saat itu mereka tengah berduaan dalam kamar, kontrakan perempuan itu. Makanya kena keduanya,” jelasnya.

Sebelum menyiram cuka getah itu, Asri mendatangi Ketua RT setempat untuk melaporkan adanya perselingkuhan. Pasangan itu sempat ditegur, namun tak berarti apa-apa.

Usai menyiram cuka getah tersebut ke Leben dan Mulyani, Asri langsung kembali ke Simpang Dua. Sehari kemudian, anggota Polsek Pontianak Utara menangkap Asri di kediamannya tersebut. Penangkapan atas laporan Leben, dan ibunda Mulyani, Sutijah.

Polisi yang hendak menahan sempat tak tega setelah mengetahui alasan Asri melakukan tindakan yang melanggar hukum tersebut. Bahkan, ada yang menangis melihat lebam di tangan dan kaki Asri akibat dianiaya plus kondisi rumah gubuknya di Simpang Dua itu.

Asri sudah dilepaskan dari tahanan tapi tetap berstatus tersangka penganiayaan. “Jangan hanya kesalahan saya (Nyiram cuka getah, red) yang diketahui. Kesalahan mereka juga harus diketahui. Bahkan saya harus kehilangan nyawa anak keempat saya,” katanya dengan suara tersendat.

Kini, ia sedang berupaya berpisah dengan Leben. “Saya siap cerai. Tapi harus bayar adat cerai saya dan diketahui pengurus adat saya, itu baru sah,” imbuhnya. Asri pun sudah melaporkan Leben ke Polsek Simpang Dua atas tuduhan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. (*/Selesai)