Kenaikan BBM Perlu Jadi Perhatian

Harga Tiket Pesawat Picu Inflasi Kalbar

14
Ilustrasi : Internet

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Inflasi pada Juni 2018 di Kalbar terjadi kenaikan. Penyebab utamanya tarif transportasi udara dan harga komoditas bahan pangan.

Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalbar pada Juni 2018 sebesar 1,36 (Mtm) atau 3,46 persen (yoy). Jika dilihat secara bulanan, angka ini cukup tinggi jika dibandingkan IHK nasional yang tercatat 0,59 persen (mtm).

“Sama halnya dengan data tahunannya inflasi IHK Kalbar sebesar 3,46 persen (yoy) juga lebih tinggi dibandingkan dengan IHK nasional yang tercatat sebesar 3,12 persen,” ungkap Kepala Bank Indonesia Kalbar Prijono, Kamis (4/7).

Meningkatnya tiket pesawat lantaran dibarengi musim libur panjang. Mulai Idul Fitri hingga libur sekolah. “Sehingga terjadi peningkatan utamanya pada tiket pesawat terbang,” sebutnya.

Harga pangan yang menyumbang inflasi cukup tinggi seperti telur ayam ras, sawi hijau, wortel dan kangkung. Sebab komoditas ini merupakan bahan pokok yang paling tinggi permintaannya.

“Kalau telur tentu karena permintaan yang cukup tinggi, sementara wortel, pasokannya yang menurun sebab diambil dari luar Kalbar. Sama halnya dengan sawi hijau dan kangkung pasokannya juga menurun utamanya dari produsen lokal lantaran memasuki periode Lebaran,” paparnya.

Pihaknya memprediksi tekanan harga masih akan terjadi. Namun pada tingkat yang lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Hal ini juga dikarenakan berakhirnya momen Idul Fitri.

“Akan tetapi untuk dampak lanjutannya (multiflyer effect) kenaikan Bahan bakar Minyak (BBM) non subsidi juga perlu menjadi perhatian,” jelasnya.

Ada beberapa risiko perlu menjadi perhatian. Di antaranya penyesuaian harga komoditas administrated prices seiring peningkatan harga minyak dunia. Kemudian penyesuian harga batas bawah tiket pesawat, kebakaran lahan dan bencana asap.

Selanjutnya, anomali cuaca yang dapat mengganggu distribusi pasokan bahan pangan, wacana kenaikan gaji PNS yang dapat meningkatkan ekspektasi harga serta stabilitas keamanan pasca Pilkada serentak 2018.

“Akan tetapi dalam hal ini Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalbar akan terus memperkuat koordinasi kebijakan,” tukas prijono.

Kenaikan inflasi yang dicatat BI ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar. Juni 2018, Kota Pontianak terjadi inflasi sebesar 1,44 persen dengan IHK sebesar 144,45. Hal ini juga berasal dari harga dibeberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks, utamanya enam kelompok yang diurutkan. Seperti bahan makanan 3,56 persen; transpotasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,68 persen; sandang 0,55 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,41 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,15 persen; kesehatan 0,01 persen.

“Sedangkan untuk kelompok pendidikan, rekreasi dn olahraga tidak mengalami perubahan,” kata Kepala BPS Kalbar, Pitono.

Untuk tingkat inflasi Juni sebesar 3,18 persen. Sedangkan tingkat inflasi dari tahun ke tahun (Juni 2018 terhadap Juni 2017) sebesar 3,22 persen. (nov)