Kazan, Ibu Kotanya Olahraga Rusia

Menikmati Kota Penting Sepak Bola Negeri Beruang Merah

12
Suasana Stadion Kazan Arena, Rusia, yang memiliki layar LED raksasa di bagian luarnya, Sabtu (30/6). FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos

Sepak bola Kazan mencapai puncak kejayaannya hampir satu dakade silam. Tepatnya ketika tim kebanggaan mereka, FC Rubin, menjadi juara back-to-back Liga Premier Rusia. Rubin—yang di Liga Champion kita kenal sebagai Rubin Kazan, mencatat sejarah. Ia menjadi tim ketiga di luar Moskow yang sukses menjadi kampiun kompetisi sepak bola tertinggi Negeri Beruang Merah.

Laporan Wartawan Jawa Pos

Candra Wahyudi, Ainur Rohman, dan Angger Bondan

eQuator.co.id – PIALA Dunia 2018 seolah menjadi penegas status Kazan sebagai ibu kota olahraga Rusia. Pada 2009, saat Rubin Kazan menjadi juara Liga Premier Rusia dua kali secara beruntun, pemerintah Rusia menetapkan kota terbesar sekaligus ibu kota Republik Tatarstan tersebut sebagai wilayah olahraga terpenting negara tersebut.

Selain Rubin Kazan, hanya ada dua tim dari luar Moskow yang pernah menjadi juara liga kasta tertinggi Rusia. Yakni Zenit St Petersburg (lima kali) dan Spartak Vladikavkaz (sekali).

Nah, sejak 2009 itu, Kazan menegaskan citra sebagai kota olahraga. Empat tahun kemudian, Kazan Arena, sebuah stadion megah berkapasitas lebih dari 45 ribu selesai dibangun. Arena ini memiliki ciri khas yang keren berupa LED raksasa yang menempel di bagian fasad stadion. Layar tersebut diklaim merupakan yang terbesar dari seluruh stadion yang ada di Eropa.

Sebelum menjadi tuan rumah enam pertandingan di Piala Dunia 2018, Kazan Arena memanggungkan empat laga Piala Konfederasi 2017. Termasuk partai semifinal ketika Chile mengalahkan Portugal lewat adu penalti 3-0 (0-0).

Kazan Arena dibangun awalnya sebagai tuan rumah World University Games musim panas 2013. Lalu berlanjut sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia Anggar 2014 dan Kejuaraan Dunia Renang 2015.

Namun, dari semuanya, tidak ada yang mengalahkan gaung Piala Dunia 2018. Penonton di Kazan beruntung karena empat pertandingan fase grup, dan seluruhnya menarik. Puncaknya adalah ketika Korea Selatan mengejutkan dunia dengan mengirim pulang Jerman lewat kemenangan 2-0 pada pertandingan terakhir Grup F. Sebelumnya, penduduk Kazan dihibur dengan penampilan bintang-bintang Prancis, Spanyol, serta Kolombia.

Minggu lalu (30/6), Kazan menjadi tuan rumah saat Argentina kalah oleh Prancis dengan skor 3-4 pada babak 16 besar. Laga itu berjalan sangat menarik. Banyak gol, dan mungkin menjadi Piala Dunia terakhir Lionel Messi dan laga penahbisan untuk calon bintang masa depan, Kylian Mbappe. Nah, Sabtu nanti, kota dengan populasi hampir 1,1 juta penduduk itu bakal laga prestisius lainnya. Yakni antara Brasil melawan Belgia yang bentrok di perempat final.

Selain menonton Piala Dunia, penggila sepak bola wajib menuliskan nama Centralni Stadion alias Central Stadium sebagai daftar teratas tempat yang harus dikunjungi. Arena tersebut adalah markas lama Rubin Kazan. Berkapasitas sekitar 25 ribu tempat duduk, stadion yang dibangun mulai 1960 itulah yang menjadi saksi sejarah naiknya Rubin sebagai salah satu tim yang paling disegani di Rusia. Arena itu juga menjadi tuan rumah ajang Liga Champions dan Europa League.

Dua kali Barcelona bertandang ke sana. Inter Milan, Chelsea, dan Liverpool juga pernah merasakan rumput Central Stadium. Rubin Kazan secara mengejutkan pernah mengalahkan Barcelona 2-1 di Camp Nou pada musim 2009-2010. Padahal ketika itu, Barca berstatus juara bertahan Liga Champions.

Meskipun saat ini prestasi Rubin Kazan sedang melorot (peringkat 10 pada akhir musim lalu), namun tim berjuluk Volzhane (orang-orang di sekitar Sungai Volga) tersebut masih sangat disegani di Rusia. ”Ini adalah tim yang bersejarah, salah satu yang terhebat di Rusia. Kurasa orang-orang Kazan bangga dengan tim ini,” kata Kamil Niyazov, salah seorang pendukung Rubin yang ditemui Jawa Pos di FIFA Fan Fest Kazan (3/7).

Kemarin, Jawa Pos mengunjungi Centralni Stadion. Letaknya sangat strategis, berada di seberang Kremlin Kazan. Selain stadion, di sana juga berdiri Dvorets Sporta, sebuah kompleks olahraga yang terdiri atas arena hoki es, sebuah hall, tempat latihan sepak bola, plus media center.

Di sana juga berdiri museum olahraga yang memiliki koleksi sampai 11 ribu barang. Salah satu yang terkenal adalah barang-barang peninggalan Viktor Kolotov, gelandang legendaris Uni Sovyet yang pernah menjadi juara Piala Winners musim 1974-1975. Kolotov mencapai puncak kejayaan saat bermain untuk Dynamo Kiev selama 10 tahun (1971-1981). Namun, dia sempat merumput semusim di Rubin. Yakni pada 1969-1970.

Sayang, kemarin, arena stadion, kompleks olahraga, dan museum tertutup untuk fans dan jurnalis. Toko resmi mereka juga tidak aktif dan pindah ke pusat perbelanjaan selama Piala Dunia 2018.

“Kami sama sekali tidak melakukan aktivitas di sini. Ini adalah kebijakan dari pemerintah. Kegiatan apapun yang berhubungan dengan sepak bola Rubin Kazan non aktif selama kejuaraan,” jelas Emil Ishvitin, koordinator keamanan Rubin.

Meski tertutup, namun kami masih bisa mengelilingi kompleks luar stadion dan mengagumi lambang naga dan angka 1958 yang merupakan tahun berdirinya Rubin Kazan. “Warga Kazan tidak segila Moskow dalam urusan sepak bola. Namun, sejak Rubin Kazan berprestasi bagus, kami cukup antusias juga,” kata Ishvitin. (Jawa Pos/JPG)