“Kami Tidak Takut Teror”

Polisi Sekadau Sita Mandau, Sangkur, dan Keris

20
SITA SAJAM. Polisi dibantu TNI merazia kendaraan yang melintas di Jalan Sekadau-Sintang, persis di depan Mapolres Sekadau, Senin malam (14/5). Dalam razia itu, polisi menyita mandau, keris dan sangkur dari empat orang warga. Polisi for Rakyat Kalbar
SITA SAJAM. Polisi dibantu TNI merazia kendaraan yang melintas di Jalan Sekadau-Sintang, persis di depan Mapolres Sekadau, Senin malam (14/5). Dalam razia itu, polisi menyita mandau, keris dan sangkur dari empat orang warga. Polisi for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Rakyat Kalbar. Pascateror yang merobek Indonesia di Jakarta dan Surabaya, Polres-Polres semakin getol melakukan antisipasi. Dukungan masyarakat Kalbar terhadap kepolisian pun terus ditunjukkan.

Hashtag #KamiTidakTakutTeror dan #DukaKamiUntukPahlawan tercantum dalam spanduk dukungan untuk Polri di Desa Ngarak, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Selasa (15/5). Spanduk duka cita untuk polisi yang tewas dalam aksi terorisme di Mako Brimob Jakarta itu juga dipenuhi tanda tangan masyarakat setempat.

“Antusias masyarakat yang datang terlihat, mereka membubuhkan tanda tangan dan ucapan duka cita di spanduk tersebut,” ujar Bhabinkamtimas Desa Ngarak, Bripka Yakob, kepada Rakyat Kalbar.

Menurut dia, tanda tangan tersebut merupakan aksi spontanitas warga untuk mendukung Polri agar aksi teror di Indonesia dapat diberantas. Sehingga keutuhan NKRI terjaga.

“Dukungan dan peran serta masyarakat dalam memberikan informasi sangatlah penting, saya berharap apabila ada hal-hal yang mencurigakan segera dilaporkan, jangan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum,” pesannya.

Hal serupa juga dilakukan masyarakat Kecamatan Air Besar. Kapolsek Air Besar, Iptu Elfis Satria Efdi, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua masyarakat yang selalu mendukung kepolisian, untuk menanggulangi segala bentuk gangguan Kamtibmas.

“Jika ada paham radikalisme agar segera melapor kepada pihak kepolisian, kita bersama-sama menjaga keutuhan NKRI, antisipasi tindak terorisme dan paham radikalisme, jangan sampai terjadi di wilayah kita,” harap Elfis.

Dari ujung utara Kalbar, Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili, mengajak seluruh masyarakat di kabupaten yang dia pimpin untuk menolak segala bentuk aksi teror. Pun menolak paham-paham terorisme. Hal tersebut diwujudkan dalam deklarasi persatuan dan kesatuan masyarakat Kabupaten Sambas menolak terorisme, Selasa (15/5), di halaman Kantor Bupati Sambas.

Paham terorisme dalam berbangsa, bernegara, dan beragama, kata Atbah, tidak diakui oleh pihak manapun. Kecuali orang-orang yang mempunyai ideologi kekerasan.

“Dalam semua agama di Indonesia, kita tidak mengenal paham ini, di dalam Islam diutus Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan kasih sayang, keamanan, dan kedamaian di muka bumi,” tegasnya. Sambung dia, “Dan dalam ajaran Kristen, jika ada orang berbuat jahat kepadamu jangan balas kejahatan, jika dia menampari pipi kirimu maka berikanlah pipi kananmu, tapi jangan dilawan”.

Disampaikan bupati, semua agama menolak kekerasan atau teror, sebab teror bisa menakutkan semua orang. “Dan itu perbuatan biadab yang tidak berperikemanusiaan,” tandas Atbah.

Dari ujung timur Kalbar, Polres Kapuas Hulu menggelar tatap muka dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan para pemuda serta pelajar, di Mapolres, Selasa (15/5).

Asisten I Setda Kapuas Hulu, Frans Leonardus, menyampaikan kegiatan yang dimotori Polres sangat penting. Guna menindaklanjuti kejadian–kejadian yang mengejutkan di daerah lainnya.

“Belakangan situasi banyak terjadi diluar kehendak, ini rawan dimanfaatkan oleh orang tertentu dan dapat memicu perpecahan,” kata Frans Leonardus.

Frans mencontohkan, kerusuhan Mako Brimob hingga menimbulkan korban, kemudian aksi teror di Surabaya Jawa Timur. Terhadap kejadian tersebut, Frans menegaskan perlu diambil tindakan tegas.

“Kita harus tegas terhadap aksi terorisme, kita tidak takut. Mari kita nyatakan tolak terorisme, ini jadi semangat bagi aparat. Masyarakat dan aparat harus bersatu – padu menjaga NKRI, khususnya di Kapuas Hulu,” serunya.

Menurut Frans, hal terpenting adalah masyarakat harus hindari konten keras seperti aksi terorisme, sebab ini akan mempengaruhi emosi dan mindset individu. Terutama informasi dari berita hoax.

“Ini bisa mengarahkan kita pada aksis tindakan terorisme, karena emosi pada konten yang tidak benar,” kata dia.

Dikatakan Frans, Indonesia adalah negara Pancasila, ini harus menjadi pegangan setiap masyarakat. Pancasila adalah pondasi utama untuk menjaga NKRI.

“Semoga dengan adanya pertemuan di Polres ini, kita terus komitmen membangkitkan semangat Pancasila tersebut,” harapnya.

Kapolres Kapuas Hulu, AKBP Imam Riyadi, SIK, MH mengungkapkan, kejadian dan perkembangan situasi global memang cukup banyak konflik. Ada dominasi negara eropa di timur tengah, terhadap kantong ISIS di suriah. Ada lagi perebutan sumberdaya laut cina selatan kemudian konflik Korea Selatan dan Korea Utara yang jadi perhatian internasional.

“Kemudian masyarakat tentu monitor kejadian yang terjadi Mako Brimob Polri. Dari ini muncul tindakan bom bunuh diri secara berentetan di Surabaya,” kata dia.

Kapolres meminta, kejadian bom tersebut jangan dikaitkan dengan agama, karena ini sangat rentan. Dikatakan Imam, semua tahu bahwa tidak ada agama yang menghendaki permusuhan, saling membunuh dan menyerang.

“Kita harus terima situasi ini dengan saling bahu membahu dan bekerjasama mengantisipasi segala kejadian di daerah kita. Ketika ada permasalahan harus dicegah secepat mungkin, agar kamtibmas kondusif, jangan dibiarkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini sel teroris ada di berbagai daerah, bahkan tercatat sekitar 500 – an warga Indonesia ke Suriah, 103 diantaranya sudah meninggal di Suriah. Kemudian sisanya sudah kembali dan tersebar di seluruh Indonesia.

“Kita jangan apatis Kapuas Hulu aman saja. Ini harus sama – sama diwaspadai, sebab bom bunuh diri tidak ada obatnya,” ucap Imam.

Makanya, dia mengingatkan, jajaran masyarakat di tingkat paling bawah harus aktif memperhatikan situasi dilingkungannya. Seperti adanya pekerja di perusahaan, pekerja tersebut bisa lintas pulau dan lintas daerah. Pekerja yang masuk harus diawasi bersama dari masyarakat.

“Bentuk sistem keamanan yang efektif, agar orang keluar masuk bisa diawasi. Sehingga kita bisa deteksi dini terhadap hal – hal buruk,” imbaunya.

Ditambahkan Kasdim 1206/Psb, Mayor Arm. Hadi Sutrisno, TNI selalu mengajak seluru tokoh masyarakat dan generasi muda untuk menangkal permasalahan yang ada, termasuk terorisme. Cara mengatasinya adalah masyarakat harus membangun persatuan dan kesatuan.

“NKRI harga mati jangan sekedar slogan,” tegasnya.

Ia memaparkan, Indonesia secara geografis dan demografis sangat menggiurkan bangsa lain. Kekayaan alam Indonesia itu menjadi daya tarik. Maka tentu ada berbagai cara untuk menguasainya.

“Salah satunya gunakan proxywar. Ini gunakan pihak ketiga, melalui ideologi, politik, ekonomi dan lainnya. Maka bangsa ini harus hati – hati,” pesan Hadi.

Untuk itu, dia menghimbau pada seluruh pihak, agar selalu kerjasama diseluruh bidang, terutama keamanan daerah. Mulai dari tingkat desa, bahkan RT/RW harus ikut mengawasi lingkungan sekitar.

“Lakukan cegah dini, kita cegah kelompok radikal yang mau kacau negara kita,” pungkasnya.

Bupati Sekadau, Rupinus, pun ikut angkat bicara terkait aksi terorisme tersebut. Ia menyampaikan duka cita atas kejadian teror yang mengguncang Surabaya. Dimana sebelumnya, penyerangan terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

“Karena itu, kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Sekadau agar berhati-hati,” ujar Rupinus, Selasa (15/5).

Ia mengakui, pascateror tersebut, masyarakat dilanda ketakutan. Untuk itu, Rupinus juga mengingatkan masyarakat agar tidak takut.

“Kita harus mawas diri. Jaga diri, jaga lingkungan. Kalau ada orang yang tidak dikenal, tanyai identitasnya. Bila ada hal-hal yang mencurigakan laporkan kepada aparat keamanan,” imbuhnya.

Namun, sambung dia, ketakutan itu jangan justru diperparah oleh masyarakat sendiri. Bentuk memperparah dimaksud, bisa dengan membawa senjata tajam yang mungkin tujuannya untuk menjaga diri.

“Tapi membawa senjata tajam itu, jutsru bisa menimbulkan ketakutan bagi masyarakat lainnya. Jadi jangan karena ketakutan kepada teroris itu, kita justru membuat masyarakat lain takut,” ulas Rupinus.

Masyarakat juga diminta agar tidak main hakim sendiri. Rupinus menegaskan, jika ada pihak-pihak tertentu yang tidak dikenali atau mencurigakan sebaiknya dilaporkan kepada pihak berwajib.

Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan. Masyarakat, jangan lantas membuat sesuatu atau hal-hal yang dapat memicu ketakutan ditengah-tengah masyarakat. Besar harapan khususnya di Bumi Lawang Kuari tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

“Jangan sampai lengah, karena ini kapan saja, dimana saja bisa terjadi yang paling penting waspada. Saling komunikasi antar teman, keluarga,” pesannya.

Sependapat, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Sekadau Hilir. Mereka bersuara lantang terkait teror bom yang mengunjang sejumlah daerah di Indonesia, akhir-akhir ini. Mereka juga mengukuk keras aksi tersebut.

Kutukan itu disampaikan melalui deklarasi di Radio Dermaga Sekadau, Selasa (15/5) siang. Deklarasi ikut dihadiri Kapolsek Sekadau Hilir, Iptu Masdar dan perwakilan pihak Kecamatan Sekadau Hilir.

“Atas nama FKUB Sekadau Hilir, kami mengutuk keras teror bom yang terjadi di Surabaya, dua hari belakangan,” ujar Niko Bohot, Ketua FKUB Kecamatan Sekadau Hilir, disela deklarasi tersebut.

Selain mengutuk aksi terorisme, FKUB Kecamatan Sekadau Hilir juga mengutuk aksi radikalisme. FKUB Kecamatan Sekadau Hilir juga menyatakan tidak takut dan siap mewalan radikalisme. Bagi FKUB, NKRI merupakan harga mati.

“Kami juga menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya terhadap para korban serangan teror bom itu,” imbuhnya.

Lanjut dia, pihaknya mendukung pelaksanaan ibadah semua agama dan kepercayaan di Sekadau. FKUB mengajak seluruh umat beragama bersatu dan tidak terpancing upaya adu domba antar agama, apalagi sekarang menjelang Pilgub di Kalbar.

“Mari kita menguatkan rasa persatuan dengan menolak terorisme. Kita berharap apa yang kita lakukan bisa terus menguatkan agar kebersamaan antar umat, khususnya di Kecamatan Sekadau Hilir bisa tetap terjaga,” harapnya. “Kebersamaan antar umat agar tidak saling menyalahkan. Kita mengutuk tindakan teroris,” tambah Niko.

Di sisi lain, Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalbar, Hatta, menilai adanya ketakutan masyarakat merupakan hal yang wajar. Ia mengatakan, yang paling terpenting adalah bersama-sama menangkal terorisme agar tidak lagi terjadi.

“Ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, melainkan tanggungjawab besama. Tanggungjawab semua warga negara Indonesia,” tegasnya.

Terorisme, kata Kepala Badan Kesbangpol Kalbar ini, merupakan musuk bersama. Sebab, kata Hatta, tidak ada agama apapun yang mengajarkan perbuatan terorisme. “Itu oknum. Orang tertentu yang menjual dan menjelakan suatu agama. Jadi jangan dikaitkan dengan agama tertentu,” ingatnya.

Hatta juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuat ketakutan lain dengan membawa senajata tajam dan lainnya. Masyarakat harus tetap tetang sembari mewaspadai aksi teror di sekelilingnya.

Sementara itu, pihak kepolisian Polres Sekadau dibantu unsur TNI terus melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan menggelar operasi atau razia yang masih dalam rangkaian operasi Pekat.

Seperti yang terlihat Senin malam (14/5). Polisi dibantu TNI melakukan razia terhadap kendaraan dan penumpang kendaraan yang melintas di Jalan Sekadau-Sintang, KM 3, persis di depan Mapolres Sekadau.

“Dalam razia itu, kita mengamankan empat senjata tajam,” ujar AKBP Anggon Salazar Tarmizi SIK, Kapolres Sekadau kepada Rakyat Kalbar, Selasa (15/5).

Ke empat senajata tajam itu diamankan dari empat orang berbeda. Mereka ada yang berprofesi sebagai penumpang dan sopir kendaraan.

“Pemiliknya sudah kita data dan kita mintakan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatan serupa,” imbuh Anggon.

Kabag Ops Polres Sekadau, Kompol Agus DC S Ik yang memimpin operasi pekat tersebut membenarkan peyiatan empat bilah Sajam itu. “Dua jenis mandau, satu keris dan satu sangkur,” beber Agus.

Agus mengakui, para pemilik Sajam tidak ditahan, namun hanya dimintakan membuat surat pernyataan. “Pemiliknya mengatakan jika Sajam itu untuk oleh-oleh kepada kerabatnya,” tukas Agus.

 

Laporan: Antonius, Sairi, Abdu Syukri, Andreas

Editor: Mohamad iQbaL