Jokowi Kantongi Nama Cawapres

Tinggal Tunggu Waktu yang Tepat untuk Diumumkan

20
Jokowi - Net

eQuator.co.idJakarta–RK. Presiden Joko Widodo yang juga kandidat calon presiden pada Pemilu 2019 menanggapi santai munculnya nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon penantang dari oposisi. Jokowi menilai kemunculan Anies itu sebagai hal yang baik.

Menurut dia, dalam konteks demokrasi, munculnya banyak nama dalam kontestasi pemilu adalah hal yang positif. Sebab, hal itu menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat.

“Saya kira semakin banyak pilihan-pilihan yang disodorkan, saya kira sangat bagus. Siapa pun, sangat bagus,’’ ujarnya saat menutup Rembuk Nasional Aktivis 98 di JIExpo, Jakarta, kemarin (7/7).

Sebagaimana diketahui, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan bahwa pihaknya memberikan jalan bagi Anies untuk maju dalam ajang Pilpres 2019. Prabowo menilai, mantan menteri pendidikan itu cocok untuk merepresentasikan pemilih muda. Nama Anies sendiri menjadi salah satu nama yang juga disodorkan PKS.

Jokowi juga mengklaim, pihaknya sudah memiliki sosok calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Namun, dia enggan membeberkan terlalu cepat. Juga dari latar belakang mana si calon berasal: sipil, militer, Jawa, atau non-Jawa.

“Sudah ada, tinggal diumumin,’’ imbuhnya.

Saat didesak kapan nama itu akan diumumkan, Jokowi menjawab diplomatis. Dia menyebut tidak akan lama lagi mengingat pendaftaran dimulai bulan depan.

“Pada saat yang tepat nanti akan kita umumkan. Tunggu, ini kan tinggal nunggu beberapa hari, masak gak sabar,’’ tuturnya.

Sementara itu, dukungan terhadap Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan kursi pemerintahan kembali datang. Setelah Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, kemarin sejumlah eksponen aktivis 98 mendeklarasikan dukungannya dalam Rembuk Nasional Aktivis 98 di JIExpo, Jakarta.

Aktivis 98 Wahab Talaohu mengungkapkan, dukungan terhadap Jokowi pada Pemilu 2019 menjadi salah satu poin kesepakatan. Selain itu, ada sejumlah komitmen lain yang disepakati. Di antaranya, mengusulkan 7 Juli sebagai Hari Bhinneka Tunggal Ika, menyematkan gelar pahlawan nasional bagi korban 98, dan menuntaskan kejahatan HAM.

Terkait dukungan terhadap Jokowi, Wahab menilai, mantan wali kota Solo itu memiliki kemampuan mewujudkan cita-cita reformasi. “Kenapa? Karena Jokowi tidak punya kejahatan ekonomi, tidak punya kejahatan politik, dan tidak punya kejahatan kemanusiaan,’’ pungkasnya.

Sebelumnya, wacana Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB, berpasangan dengan Jokowi di pilpres 2019 kian menguat. Sebagai rivalnya, muncul duet Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Ketua Komando Satuan Tugas Bersama DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namun, Partai Gerindra menganggap pasangan Anies-AHY adalah aneh dan tidak konsisten.

Pengamat politik Ziyad Falahi mengatakan, TGB menilai Jokowi layak untuk diberi kesempatan memimpin Indonesia selama dua periode akan sangat menguntungkan. Pasalnya, Gubernur NTB itu punya dua kelebihan yang sangat dibutuhkan Jokowi.

“TGB memiliki dua kelebihan, yaitu muda dan berasal dari kalangan ulama. Jadi sinyal untuk mendampingi Jokowi di pilpres nanti menguat,” ungkapnya kepada wartawan saat dihubungi, Jumat (6/7).

Direktur Pusat Kajian Survei Opini Publik itu menuturkan, kelebihan TGB yang dekat dengan kalangan ulama dibutuhkan Jokowi, untuk mengubah opini bahwa presiden ke-tujuh itu menzalimi umat Islam.

“Jokowi butuh imej dekat dengan ulama. Karena itu sekali lagi, Jokowi sangat diuntungkan dengan statement TGB yang mendukungnya dua periode,” ucapnya.

Apakah penyataan TGB sebagai sinyalemen Jokowi bakal menggandeng TGB sebagai calon wakil presiden (cawapres)? Ziyad mengatakan, peluang itu juga tergantung pada tim pendukung TGB.

“Saya kira sangat tergantung timnya, apakah mampu bersinergi dengan tim Jokowi. Tapi dari pengamatan saya, tim TGB belum mampu membuat profil dirinya sehingga memiliki kesan agak kaku, terutama bagi generasi milenial,” pungkasnya.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago ikut angkat bicara. Dia mengatakan, jika Jokowi yang mengajukan calon pendamping akan memilih calon profesional untuk tetap menjaga soliditas partai koalisi atau figur partai dengan elektabilitas tinggi. Sementara bila Megawati yang menawarkan cawapres, yang muncul kemudian adalah kader PDIP atau figur profesional yang tidak berpotensi ‘merebut kekuasan’ di pilpres 2024.

Karena bagi Jokowi, sebut Pangi, elektabilitas itu sangat penting dan ia tidak lagi bicara 2024. Sementara logika PDIP bicara setelah 2024. Karena itu, PDIP tidak mau kalau bukan kader mereka untuk keberlanjutan partai.

“Kalau panggung cawapres ini diambil oleh orang yang masih terang di 2024 itu membahayakan PDIP,” ujarnya.

Lalu siapa nama-nama aktornya, itu akan jadi menarik. Pangi menilai, TGB mempunyai peluang untuk bersanding dengan Jokowi. Duet Jokowi-TGB dinilai kombinasi ideal karena perpaduan nasionalis-religis. Dari sisi historis, TGB yang gubernur dua periode juga memiliki rekam jejak baik, punya visi misi yang jelas dan mendapat dukungan luas dari kelompok Islam.

“Walaupun TGB juga punya kelemahan. Beliau tidak punya basis suara yang besar karena bukan berasal dari Jawa dan lumbung elektoral di NTB itu kan sedikit,” imbuhnya.

Pengamat Politik dari Universitas Gajah Mada (UGM), Arie Sujito mengatakan, ada tiga hal yang patut dijelaskan dari dukungan TGB terhadap Jokowi untuk memimpin Indonesia selama dua periode. Pertama, keinginan TGB untuk memperjelas posisinya dalam peta politik Indonesia.

Dalam konfigurasi politik, sambung Arie, setiap tokoh harus memiliki posisi yang jelas, termasuk dalam memberikan dukungan. Keputusan TGB untuk mendukung Jokowi memperlihatkan bahwa ia ingin memperjelas posisinya, yakni di lingkup partai pemerintah. “Gestur positioning ini hal yang biasa,” imbuhnya kepada INDOPOS saat dihubungi, Jumat (6/7).

Poin kedua, lanjutnya, dukungan TGB bukan tanpa alasan. Menurut Arie, gelombang pasang tentang konfigurasi pencapresan Jokowi relatif besar dari daya dukung dan hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak terakhir. Mesin kefiguran Jokowi yang begitu kuat ini disinyalir menjadi alasan TGB memberinya dukungan. Poin ketiganya, TGB pernah masuk ke bursa pilpres 2019,  baik sebagai capres maupun cawapres.

“Dukungan ini menjadi bagian dari upaya TGB dalam membangun image positifnya,” kata lulusan doktor Sosiologi Fisipol UGM itu.

Dia juga menguraikan, dukungan TGB terhadap Jokowi menjadi perbincangan mengingat partai tempatnya bernaung, Partai Demokrat, belum memiliki posisi jelas dalam pilpres 2019. Langkah TGB merupakan hal wajar mengingat tidak ada loyalitas tinggi di Demokrat.

Arie menuturkan, sejak SBY lengser dari kursi kepemimpinan, partai ini mengalami penurunan drastis dari segi loyalitas tokoh. Artinya, Demokrat sebagai partai belum kuat termasuk dalam menahan para politisinya untuk berdiam di satu partai. Perpindahan aktor menjadi hal biasa. Ini yang kemudian membuat TGB tidak takut untuk membuat langkah mendukung Jokowi kembali memimpin pada periode 2019-2024.

Terlebih, kata Arie, TGB memiliki kekuatan sebagai individu. Arie melihat, TGB merupakan tokoh yang bisa dibutuhkan di partai manapun dengan modal kemampuan sebagai pemimpin maupun kepercayaan dirinya.

“Ia juga tidak besar karena Demokrat. Kalaupun ditegur Demokrat, ia memiliki kemungkinan besar untuk dipinang partai besar lain,” ujarnya. (Jawa Pos/INDOPOS/JPG)