Jiwa Bertinju Daud Warisan Sang Kakek

Tempat Membentuk Pria-pria Jantan di Kalbar (Bagian 2)

143
BOXING MANIA. Damianus Yordan (kedua dari kiri) dan Daud Yordan (memegang sabuk) berfoto bersama sejumlah promotor dan Chris John (paling kanan) pada tahun 2013. DAMI for RAKYAT KALBAR

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah gambaran pria jantan asal Kayong Utara yang satu ini, Daud Yordan. Abangnya, Damianus Yordan, mengisahkan pembentukan sosok juara dunia tinju kelas ringan (61,2 kilogram) versi WBO itu di Sasana Kayong Utara.

Deska Irnansyafara, Pontianak

Skill bertinju Daud tak didapat secara otodidak. Konon, Sang Kakek yang mewariskannya. “Saya tidak begitu ingat, tapi kakek memang guru silat,” ucap Damianus dijumpai Rakyat Kalbar di kawasan Pontianak Selatan, Minggu (6/3).

Pria yang karib disapa Bang Dami ini terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali masa kecilnya. “Kakek kami kan orang Tionghoa. Mungkin kakek punya ilmu bela diri kungfu atau apa. Cuma memang tidak turun ke ayah, tapi turun ke cucu-cucunya,” tuturnya, tersenyum.

Daud lahir di Ketapang, 10 Juni 1987. Julukan Cino disematkan ke dirinya oleh salah seorang mantan pelatih Daud saat masih amatir, Carlos Jesus Renate Tores. Pria asal Kuba itu merujuk kata Chino dalam bahasa Spanyol yang berarti ‘Cina’ karena wajah Daud yang sangat oriental.

Memang, Dami dan Daud serta ayah mereka, Hermanus Lay Tjun, beretnis Tionghoa. Dami yang pertama mendapat ‘heritage’ Sang Kakek yang menular kepada adik-adiknya. Diantaranya, Petrus dan Yohanes Yordan yang sudah gantung sarung tinju. Sementara, dua saudara lainnya tak menggeluti tinju.

“Kami berempat milih bermain tinju,” terang Dami.

Ia mengakui, mereka memang gandrung ‘berkelahi’. “Jujur, setelah main tinju kami malah tidak suka berantem. Tidak pernah lagi. Daud dan Yohanes juga demikian,” bebernya.

Daud karib dengan dunia tinju sejak melihat abang-abangnya naik ring. Karena basic Dami tinju amatir, Daud pun dibawa berlatih bersama-sama. “Saya katakan kepada Daud, mungkin ini jalan kita. Ya sebaiknya dicoba tekuni dan ikuti. Akhirnya dia ikut latihan,” kisah dia.

Dami memandang Daud punya talenta luar biasa. Makanya, sejak umur enam tahun, Daud sudah berlatih. “Setelah melihat abang-abangnya jadi juara, Daud semakin semangat latihan. Kami tuntun dia dalam bertinju,” kenangnya.

Memang, kala masih berstatus petinju muda, Daud memiliki pukulan keras dan bertanding di kelas bulu. Waktu itu, ia digadang-gadang jadi juara dunia masa depan dari Indonesia.

Tapi, Dami tak langsung menaikkan Daud ke atas ring. “Awalnya kami kenalkan dulu dengan teknik dasar tinju. Seperti memukul dan bergerak. Tidak langsung sparring atau diadu,” ungkap dia.

Lagipula, hal itu tak diperbolehkan. Usia 13 tahun, barulah Daud ikut kompetisi perdananya di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. “Ada aturannya. Kita juga menjaga keselamatan anak-anak,” tambah Dami.

Ia masih ingat sewaktu mengajarkan adik kelimanya itu bertinju. “Yang paling sulit dulu diajarkan maju mundur. Bergerak ke kiri dan kanan sambil mukul,” ulasnya.

Daud terbilang lama tinggal seatap bersama Dami. Sejak umur tujuh tahun. “Saya doktrin Daud untuk bersikap disiplin. Karena tinju itu, kalau dua hari saja tidak latihan, yang kita latih selama seminggu akan hilang,” papar dia.

Dan sampailah 13 September 2008, Daud melakukan debut tinju profesional di Las Vegas, Amerika Serikat. Dia tampil cemerlang menundukkan Antonio Meza dari Meksiko dengan angka mayoritas. Hanya saja, Dami selalu mengingatkan Sang Pria Jantan itu untuk berlaga semampunya saja di atas ring. Hingga kini. (*/bersambung pada terbitan 10 Maret 2016)