Jelang 30 September, TNI di Kalbar Terus Putar Film Penghianatan G.30.S PKI

29
Pemerintah Desa KPK bekerja sama dengan Koramil 1202-08/Sekura menggelar nonton bareng film penumpasan penghianatan G.30.S. PKI,
NOBAR. Pemerintah Desa KPK bekerja sama dengan Koramil 1202-08/Sekura menggelar nonton bareng film penumpasan penghianatan G.30.S. PKI, Selasa (26/9) di halaman SD Negeri 25 Sekabau. Sairi-Rakyat Kalbar

eQuator.co.idRakyat Kalbar. Pemutaran kembali film pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G.30.S. PKI) masih menuai pro dan kontra. Tapi, Tentara Nasional Indonesia (TNI) pantang mundur. Sejumlah Komando Distrik Militer (Kodim) atas instruksi Komando Daerah Militer (Kodam) XII Tanjungpura telah dan akan menayangkan video tersebut. Rencana ini disambut baik berbagai kalangan masyarakat.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Singkawang, Dr. H. Arnadi Arkan, memandang positif pemutaran film G.30.S PKI tersebut. “Membangkitkan semangat nasionalisme bangsa, dan bangsa ini harus terus maju, tanpa melupakan sejarah di masa lalu sebagai pembelajaran,” ujar Arnadi, kepada awak media, Rabu (27/9).

Dia berharap, bangkitnya semangat kebangsaan bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Disinggung mengenai aksi 29 September 2017 yang akan digelar sejumlah Ormas di Jakarta, Arnadi menilainya sebagai perwujudan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan hidup bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

“Paham komunis tidak boleh ada di Indonesia, mereka telah membuat sejarah kelam bangsa ini, dan oleh sebab itu sah-sah saja melakukan aksi untuk memperbaharui jiwa patriotisme. Tapi, jangan sampai anarkis. Ingat, kita adalah bangsa yang damai dan cinta damai,” tegasnya.

Hanya saja, seorang aktivis pemuda Singkawang, Ahmad Maulana menyebut, alangkah lebih baik jika film tersebut tak diputar ulang. “Kita sudah merdeka sekian lama, dan peristiwa G.30.S PKI ini sudah lama terjadi, kenapa harus memperdebatkan ideologi negara lagi?” tuturnya.

Pendapatnya ini didasari tanya, apakah film tersebut murni? Atau film dokumenter sebatas propaganda rezim Orde Baru yang berkuasa saat itu.

“Terlalu banyak sejarah yang tidak sesuai kenyataan, dan benar-benar membuat saya kurang percaya atas sejarah negara,” tegas Maulana.

Meski begitu, ia menegaskan, apapun bentuknya, pembunuhan tetap melanggar hak azasi manusia. Maulana menyarankan, sebaiknya dilakukan rekonsiliasi konflik. Maksudnya, berdamai dengan masa lalu untuk sama-sama membahas tatanan masyarakat ke depan yang lebih baik.

“Bangsa ini banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai penjajahan melalui investasi asing, dan belum lagi kapitalis yang menggerus nasib rakyat, ditambah buruknya birokrat yang suka mencuri uang rakyat,” pungkasnya.

Apapun polemik di tengah masyarakat terkait pemutaran film tersebut, TNI jalan terus. Di wilayah tetangga Singkawang, Kabupaten Sambas, Pemerintah Desa Kuala Pangakalan (KPK) bekerja sama dengan Komando Rayon Militer (Koramil) 1202-08/Sekura menggelar nonton bareng (Nobar) film tersebut di halaman SD Negeri 25 Sekabau, Selasa (26/9).

“Motivasi pemutaran film dokumenter G.30.S. PKI ini agar kita semua tidak melupakan sejarah kelam yang terjadi pada tanggal 30 september 1965, pemberontakan dan pembunuhan berencana pahlawan revolusi oleh kelompok pemberontak PKI,” terang Kepala Desa KPK, Asmu’ie.

Antusiasme warga terlihat jelas dengan banyaknya yang hadir dalam pemutaran film itu. Asmu’ie berharap yang hadir dan menonton film tersebut bisa memetik pelajaran dari sejarah yang terjadi di NKRI pada masa lampau.

“Agar kita semua bisa menjaga keutuhan NKRI yang kita cintai dan kita banggakan ini,” tegasnya.

Danramil Sekura, diwakili Pembantu Letnan Satu Reihan mengungkapkan, Nobar dilakukan untuk mengingatkan kewaspadaan nasional akan bahaya laten komunis. “Mereka pernah melakukan upaya mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis dan berencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sah,” ujarnya.

Pemutaran film, menurut dia, sebenarnya lebih ditujukan kepada generasi muda agar tidak mudah terombang-ambing. Terlebih, sejak 1998, penayangan film pengkhianatan G.30.S. PKI sudah dihilangkan di media elektronik.

“Jelas hal tersebut berdampak pada keyakinan masyakarat pada Ideologi Pancasila,” pungkas Reihan.

Di sentral Kalbar, Nobar film G.30.S. PKI salah satunya digelar di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. Acara itu digagas Mausa Event Organizer didukung Koramil Parindu dan pemerintah Desa Pusat Damai. Mengambil tempat di Pasar Kenari, Kecamatan Parindu, Selasa (26/9) malam.

Ketua Panita Pelaksana, Edmon menyampaikan, pihaknya tergerak untuk melaksanakan kegiatan ini demi mengenang kembali peristiwa kelam tahun 1965. Event tersebut dihadiri Danramil dan jajarannya, Camat beserta pemerintah desa, jajaran Polsek, tokoh masyarakat, Dewan Adat Dayak (DAD), kalangan akademisi, serta warga setempat.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk menonton film yang mengenang peristiwa bersejarah itu,” tegas Edmon.

Sementara itu, di kabupaten ujung timur Kalbar, Kapuas Hulu, Kodim 1206/Putussibau berencana menggelar Nobar pada Sabtu (30/9) malam di Taman Alun Kapuas, Putussibau. Film karya Arifin C. Noor itu akan diputar secara penuh.

“Masyarakat kami ajak untuk sama-sama nonton, dan itu gratis,” tutur Dandim 1206/Psb. Letkol Inf. M. Ibnu Subroto, Rabu (27/9).

Dijelaskannya, tujuan pemutaran film tersebut untuk meluruskan sejarah peristiwa G.30.S. PKI. “Saya lahir tahun 1976, kejadian itu pada 1965. Kalau tidak nonton dan tidak belajar sejarah, bagaimana bisa tahu,” tegasnya.

Pemutaran film tersebut, lanjut Ibnu, merupakan imbauan langsung dari Panglima TNI agar generasi muda bisa mengingat sejarah. Sejarah kelam pengkhianatan PKI tidak bisa dibelokkan, itu benar-benar terjadi. Melalui pemutaran film PKI yang membantai para Jenderal TNI dan masyarakat itu, diharapkan paham komunis tidak pernah muncul lagi di Indonesia. Jangan menjadi ancaman seperti Narkoba.

“Kalau dari sekolah-sekolah perlu, nanti bisa diputarkan film itu juga. Pihak sekolah bisa hubungi Kodim,” pinta dia.

Sampai saat ini, Ibnu menyatakan, belum ditemukan paham-paham PKI di Kapuas Hulu, termasuk logo dan atributnya. Dulu, menurut dia, pernah ada DVD dengan cover bergambar logo PKI yang sempat jadi sorotan.

“Itu sudah dicari-cari petugas, namun di Kapuas Hulu tidak ada. Bentuk-bentuk gambar yang mencantumkan logo palu arit atau logo PKI itu dilarang undang-undang, kalau ada yang gunakan akan kami tangkap,” tegasnya.

Terpisah, Wakil Komandan Batalyon Infantri Rider Khusus 644 Walet Sakti, Mayor Inf. Hendra S. mengatakan, pihaknya sudah memutarkan film pengkhianatan G.30.S. PKI di Betang Bali Bulang, Jalan Lintas Utara KM 8 RT 02 RW 02, Dusun Danau Tuak, Desa Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara, pada Minggu (24/9) sekitar pukul 19.15.

“Diharapkan generasi muda lebih mengerti apa itu bahaya laten guna menghindari adu domba dari komunis maupun pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab,” ujar Hendra.

Kegiatan Nobar film G30S/PKI tersebut mendapat respon baik dari masyarakat Desa Sibau Hulu khususnya warga Betang Bali Bulang. Buktinya, pemutaran film tersebut ditonton 110 orang. Terdiri dari anggota Yonif RK 644/Wls sebanyak 30 orang dan warga Betang Bali Bulang berjumlah 80 orang.

Kepala Dusun Danau Tuak, Yohanes Negi mengapresiasi pemutaran film besutan Batalyon RK 644/Wls. Menurutnya, pemutaran film tersebut sangat penting bagi generasi muda supaya tahu sejarah kelam PKI.

“Sehingga ke depan masyarakat tidak mudah dihasut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, khususnya paham komunis. Kami juga berharap film-film tentang perjuangan dan sejarah lainya bisa diputarkan untuk mengingatkan masyarakat akan sebuah sejarah, terutama para generasi muda,” pinta Negi.

Di sisi lain, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII Tanjungpura, Kolonel Inf. Tri Rana Subekti telah mendapat perintah untuk mewadahi keinginan masyarakat menonton film penghianatan G.30.S. PKI secara penuh di halaman Markas Kodam pada 29 dan 30 September 2017. Tanpa sensor.

“Ini untuk mewadahi keinginan masyarakat, banyak masyarakat yang bertanya-tanya mengapa ditayangkan pada waktu sebelumnya hanya satu jam atau diedit,” tuturnya, Selasa (26/09).

Sebelumnya, Kodam XII Tanjungpura memang telah mengadakan Nobar. Antusiasme masyarakat luar biasa. Menurut Tri, malam pertama dan kedua dihadiri sekitar 6.500 penonton.

Ia menjelaskan, pemutaran film tersebut tidak hanya dilakukan pada hari libur, tetapi berdasarkan permintaan warga, juga dilakukan di siang hari. Contohnya sekolah-sekolah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Laporan: Suhendra, Sairi, Kiram Akbar, Andreas, Maulidi Murni

Editor: Mohamad iQbaL