Jantung Borneo Inspirasi Bona Fortuna

Las! Band Pontianak yang Mulai Mencuri Perhatian (Bagian 1)

197
PERSONEL LAS!. Dari kiri ke kanan: Bob, Diaz, Ferdinand Mahendra, dan Kajol. Las! for Rakyat Kalbar

Grup musisi lokal Pontianak sudah melanglang buana seperti Coffternoon, Secret Weapon, Wai Rejected, dan Manjakani. Belum dihitung Seventeen dan Sidepony yang telah manggung dimana-mana dengan penggemarnya yang bejibun. Belakangan, muncul satu nama yang mulai mencuri perhatian: Las!.

IGK Yudha Dharma, Pontianak

eQuator.co.id – Awalnya Las! dinamai Lost at Sea. Digawangi Diaz Muhammad Fadel (Diaz), Hanifan Muhammad Akbar (Kajol), dan Avery, yang sempat melahirkan satu mini album.

Sayang, Lost at Sea tak berumur panjang. Avery sang vokalis keluar dari grup tersebut. Pria asal Australia itu pulang ke kampung halamannya.

Tersisa lah Diaz dan Kajol yang memutuskan untuk tetap berkarya. Kebetulan, abang kandung Diaz bernama Diaz Muhammad Reza yang karib disapa Bob, pulang ke tanah khatulistiwa setelah tujuh tahun merantau di Jakarta.

Pada awal 2015 itu, mereka berniat menggarap film dokumenter dengan angle perjalanan ke jantung Borneo. Tepatnya ke  Danau Sentarum dan Betung Karihun, Kapuas Hulu.

Bertajuk “Live on The Road”, film tersebut mengisahkan perjalanan mereka berkendara dengan minivan dari Pontianak menjelajah Sanggau, Sintang, Landak, Sekadau. Sampai akhirnya tiba di Kapuas Hulu. Sesampainya di taman nasional Danau Sentarum dan Beting Karihun, banyak hal yang merubah pandangan mereka tentang lingkungan hidup.

“Kite pergi tuh di medio 2015, dimana pada saat itu bulan Juli adalah periode kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap terparah selama sejarah Borneo,” ujar Diaz ditemui Rakyat Kalbar tengah bersantai di camp Las!, Jalan Selat Panjang No. 93, Pontianak, Senin (27/2).

Saat itu, mereka sampai di titik pusat kebakaran di sana. “Jadi, kita lihat orang bakar hutan tapi asapnya gak terlalu berasa di situ. Setelah sebulan, kita pulang dari Putussibau menuju ke Pontianak, di situ baru berasa bahwa asap kiriman itu benar-benar parah. Extreme,” tuturnya.

Beranjak dari perjalanan ke jantung Borneo yang didokumentasikan dalam “Live on The Road”, album Las! bertajuk “Bona Fortuna” pun dirilis. “Seperti sudah terintegrasi dengan film Live on The Road, apa yang tertuang di dalam Bona Fortuna adalah apa yang tertangkap di Live on The Road tadi,” terang Bob menimpali adiknya.

Bona Fortuna sendiri sebenarnya sebutan dari para pelaut Portugis untuk Pulau Borneo pada abad 18. Bona Fortuna atau tanah keberuntungan merupakan bahasa Spanyol.

“Istilah tanah keberuntungan itu tepat lho. Borneo adalah tanah keberuntungan karena kaya akan sumber daya alam. Dan bagi pelaut, jalur laut Borneo merupakan yang paling aman ketimbang melewati Laut China Selatan, sehingga perdagangannya dulu sangat hidup sekali di sini,” tutur Diaz.

Ada empat lagu di dalam mini album Bona Fortuna. Salah satunya lagu Borneo is Calling yang diciptakan beranjak dari keprihatinan mereka terhadap diri sendiri dan juga generasi muda yang memandang sebelah mata terhadap tanah kelahirannya.

Borneo is Calling terinspirasi dari omongan teman Diaz. Sesama kelahiran Pontianak yang kuliah di Bandung dan Jakarta.

“Ini true story loh bang, aku tanya ke dia ‘eh, habis tamat mau kemana?’. Dia jawab, ‘cari kerje sih Ndung, tapi kalau bise sih di Jakarta atau Bandung, amit-amit di Pontianak’,” cerita Diaz yang juga kerap dipanggil Ndung.

Ia mengaku sempat naik darah mendengar itu. Walaupun sebenarnya, kata Diaz, itu hak setiap orang dalam memutuskan kelanjutan hidup.

“Tapi, dengan menambahkan kate “amit-amit”? Come on man, i’ve been travelled a lot, aku banyak sekali pergi ke beberapa tempat, Borneo nih ndak seburuk itu. Dan, kau lahir, makan, minum, berak di tanah ini. Masa’ kau ndak mau sedikit memberikan apa yang udah tanah Borneo ini kasih,” geramnya.

Menurut dia, fanatik terhadap tanah kelahiran bukan berarti dirinya premordial. Toh, semua manusia itu sama, mau dimanapun lahirnya, menginjak bumi yang sama.

Ada lagi “Seperti Perduli”, yang di dalamnya Las! beranggapan terdapat hal yang menyebalkan dengan semakin banyaknya pemuda yang perlahan-lahan terkikis jiwa kepemudaannya. Merasa tidak ada yang perlu diperjuangkan dalam hidupnya, karena hidup mereka aman-aman saja.

“Selesai kuliah, kerja, nikah,” tukas Diaz.

Bob menimpali, pendahulu kita seperti Pramoedya Ananta Toer selalu menekankan untuk terus berjuang dan jangan berpura-pura bodoh atau apatis. Kini pemuda banyak yang lebih peduli dengan diri sendiri sedangkan di sekelilingnya ada yang tidak beres.

“Padahal intelegensi punya, sekolah tinggi, tapi peduli setan (dengan sekitar),” cetusnya.

Pada hakikatnya, Las! percaya bahwa Indonesia adalah sebuah peradaban yang besar dan maju. Dulunya. Sebab memiliki ciri-ciri adanya gunung berapi, adanya hewan lembu, dan musim bercocok panen sepanjang tahun. Mirip kisah negeri Atlantis yang melegenda.

Dalam benak para personel Las!, negara-negara besar di luar sana yang memiliki pendidikan maju pasti sudah mengenal bangsa besar dari Asia ini, dan berusaha untuk mengecilkannya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan “Devide Et Impera” atau politik adu domba yang hingga kini masih dijalankan secara malu-malu kucing di Indonesia.

Bagi para punggawanya, Las! bukan media bermusik semata, tapi juga media campaign untuk menyampaikan suara-suara sosial. Kebanyakan yang mendengar Las! adalah mereka yang betul-betul masih sangat muda (pelajar).

“Maka dari itu, kita berharap karya-karya kita mampu memberikan edukasi serta pencerahan di pikiran mereka, sehingga bisa memahami apa yang ada di otak anak-anak Las!. Las! itu pola pikir”, ungkap Bob.

Ia menjelaskan, Live on The Road benar-benar memberikannya banyak nutrisi hati dan pikiran. Kata dia, we’ve got a generation to build with our music.

“Bahwa, dari musik kita, aku pengen membangun generasi, aku pengen mereka yang mendengar benar-benar berkembang pemikirannya, open minded. Aku kepengen ngebuka pemikiran mereka supaya bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda, setidaknya mereka bisa jadi trigger (pemicu perubahan) lah,” paparnya.

Musik memang punya power membangkitkan kesadaran sosial publik. Contohnya kultur musik pergerakan di era 60-an hingga medio 70-an. Saat itu, flower generation yang dipicu Perang Vietnam lahir. Sebuah generasi antipeperangan dan kemapanan dengan semangat fight with flower atau melawan dengan bunga.

“Di situ kenapa aku suka sekali dengan John Lennon yang benar-benar memanfaatkan popularitasnya untuk menyampaikan pesan sosial,” ucap Bob.

Meski begitu, dia tidak sependapat dengan paham sex, drugs, rock ‘n roll, yang lekat dengan rata-rata musisi pada masa itu. Kata Bob, music is more better than that, bermusik sesuatu yang lebih baikdari sekedar seks bebas, obat-obatan terlarang.

“Sekarang ini, bangsa kita jauh sekali tertinggal, sudah saatnya kita bubuhkan sedikit pesan di lagu kita. Contohnya tentang hidup dalam diversitas, atau tentang aset negara kita yang sedang diambil. Tapi bukan berarti kita harus xenofobia, alangkah baiknya jika kita yang bertanggung jawab mengolah (kekayaan negara), tidak menyerahkan 100% penuh ke mereka,” tukasnya.

Itu sebabnya, ia juga punya kritik tersendiri terhadap para seniman yang sudah mapan. Seharusnya, para pemusik yang sudah tenar menyisihkan sedikit idealismenya untuk mencerahkan kehidupan sosial kalangan muda. Sebab, berbicara musik ya berbicara mengenai youth culture (generasi muda).

“Itu dari awal udah menjadi kewajiban buat Las!,” tandas Bob. (*)