Jangan Tunggu Ada yang Mati

190
TURUN TANGAN. Camat Sekadau Hilir, Hermanto (berbaju singlet putih) dibantu warga membuat drainase untuk mengeringkan air yang menggenangi sebagian ruas Jalan Nasional Sekadau-Sintang, KM-7, jumat 22/1) sore. Akibat genangan air itu, Jalan menjadi berlobang dan sempat ditanami pohon pisang oleh warga. Abdu Syukri_RK

Jengkel dengan kerusakan Jalan Nasional di KM. 7, Jalan Sekadau-Sintang, sejumlah warga menanam tanaman di badan jalan, Jumat (22/1) siang. Sedikitnya dua pohon pisang didi akses jalan yang rusak itu.

“Penanaman pisang ini kami lakukan supaya pemerintah bisa memperhatikan kerusakan jalan ini,” kata Abang Ann, salah seorang warga KM. 7 Jalan Sintang kepada Rakyat Kalbar, Jumat (22/1) siang.

Setidaknya ada tiga lubang besar yang berdekatan satu dengan lainnya, berada di sisi kiri badan jalan dari akses Sekadau menuju Sintang sekitar semeter dari bahu jalan. Diameter lubang terbesar lebih dari 50 cm dengan kedalaman sekitar 30 cm.

“Kami minta ditambal, jangan dibiarkan seperti itu,” ucap Aan.

Warga RT 20 RW 4, Desa Mungguk, Sekadau Hilir, itu mengatakan, lubang tersebut sangat membahayakan yang melintas, terutama pengendara kendaraan roda dua. Menurutnya, sudah banyak yang terjatuh akibat ban sepeda motornya masuk ke dalam lubang itu.

“Dari pagi tadi hingga siang ini saja ada tiga orang yang terperosok,” ungkapnya.

Terparah terjadi saat hujan. “Sebab, lubang itu digenangi air sehingga banyak pengendara tidak tahu bahwa di situ ada lubang besar,” ujar Nardik, warga lainnya.

Sebenarnya, mereka sempat menulis surat kepada pemerintah. “Jangan menunggu ada yang mati baru diperbaiki,” desak Nardik.

Mengetahui adanya penanaman pisang di ruas jalan nasional itu, Camat Sekadau Hilir, Hermanto langsung turun tangan. Ketika pulang dari kantor, dia yang melintas di kawasan tersebut langsung melakukan upaya perbaikan.

Tanpa sungkan, Hermanto membawa pacul untuk membuat saluran drainase agar air yang menggenangi ruas jalan bisa segera dikeringkan. Warga sekitar yang melihat camatnya beraksi pun langsung membantu. Warga kemudian gotong royong membuat saluran drainase. Bahkan, patungan membeli pasir dan semen untuk menambal jalan tersebut.

Saat berita ini ditulis, proses penambalan sudah hampir rampung. “Soal protes warga ini, saya tidak mempermasalahkannya. Warga tentu tidak ingin ada korban akibat kondisi jalan yang berlubang itu,” tutur Hermanto.

Namun sebagai pimpinan di kecamatan itu, Hermanto mengaku memiliki tanggung jawab terhadap kondisi jalan tersebut. Karena itu, ia pun tergerak melakukan penambalan. “Mudah-mudahan kedepan tidak ada lagi jalan yang rusak. Kita juga berharap tidak ada warga yang celaka akibat kondisi jalan yang tidak bagus seperti di sini,” tukasnya.

 

Laporan: Abdu Syukri

Editor: Mohamad iQbaL