Jangan Rindu, Berat, Kau Tak akan Kuat, Biar Aku Saja

Dia, Dilanku 1990

95
DEMI DILAN. Antrean panjang di depan loket Ayani XXI Pontianak demi mendengar dialog Dilan-Milea yang bikin bawa perasaan (baper), Jumat (2/2). Rizka Nanda-RK

“Dia, Dilanku 1990”, sineas yang baru tayang di seluruh bioskop Indonesia pada tanggal 25 Januari 2018 itu, konon sudah menyedot dua juta penonton dari seluruh Nusantara sampai hari ini. Di Kota Pontianak, Ayani XXI harus membuka lima teater untuk pemutarannya. Antrean panjang di loket tiket bioskop itu sepertinya akan terus berlanjut selama sebulan ke depan.

Rizka Nanda, Pontianak

eQuator.co.id – Jerit lunglai nan manja dari para penonton di studio 4 Ayani XXI Pontianak kerap terdengar di setiap adegan yang diperankan oleh Iqbal Dhiafakri Ramadhan sebagai Dilan, dan Vanesha Prescilla sebagai Milea. Terutama pada bagian percakapan ketika Dilan melarang Milea rindu padanya.

“Dilan aku rindu,” ujar Milea lewat telpon.

“Jangan rindu, berat. Kau tak akan kuat, biar aku saja,” jawab Dilan tegas.

Selain itu, setiap percakapan Dilan-Milea berhasil mengundang helaan nafas para penonton (termasuk lah wartawan koran ini yang menonton). Seperti ketika Dilan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Milea dengan datang ke dalam kelas saat pelajaran berlangsung.

“Milea ada titipan selamat ulang tahun nih dari Dilan.

Panjang umur katanya. Dia sayang,” tutur Dilan.

Ia memberikan kado buku teka-teki silang yang telah diisi seluruhnya. Kemudian, ada tulisan selamat ulang tahun di bagian cover dengan foto artis Jepang.

“Chemistry mereka berdua ada pokoknya feelnya dapat,” ujar Elsa Nabila (19) setelah nonton film Dilan 1990 di Bioskop AYANI XXI, Jumat (2/2).

Untuk peran Iqbal, Elsa menuturkan telah sesuai dengan jalur cerita  yang dituliskan didalam novel. Dengan kesuksesan film ini dianggap mampu menampar desas-desus ucapan tak suka untuk Iqbal yang terpilih memerankan Dilan.

“Dia bisa buktikan ke orang banyak yang sempat protes kok dia yang merankan Dilan,dengan akting die yang keren,” tutur wanita berjilbab itu.

Ia pun merasa penasaran  dengan kelanjutan Dilan 1991 yang diucapkan dalam bentuk tulisan pada ending pemutaran film. “Penasaran sih bakalan die agik atau bukan yang merankan. Soalnya kalau  diliat-liat, nanti di Dilan 1991 bukan Vanessa yang merankan. Kemungkinan juga yang merankan Dilan diganti. Tapi siapapun pemerannya, aku tetap suka Dilan,” papar Elsa.

Tak sedikit pula para penonton yang bawa perasaan (Baper) berlebihan karena sudah tahu ending yang sebenarnya dari film yang diadopsi dari novel berseri tiga kali itu. Dimana pada novel terakhir yang berjudul Milea, menceritakan bahwa dua pasang kekasih itu akhirnya berpisah.

“Setelah nonton Dilan saya sadar kalau di-PHP-in (pemberi harapan palsu/baca: diberi harapan palsu) itu gak enak. Mending jangan bilang rindu tapi langsung akad, daripada dijagain, diromantisin, diperhatiin, habis itu dijauhin.. ha ha ha,” seloroh penonton lainnya, Dina.

Desis tajam dari bibir kaum adam yang dipaksa nonton oleh teman mereka juga terlontar. Salah satunya, Mirza yang mengaku dipaksa dua teman wanitanya untuk menonton film itu.

“Filmnya sedikit alay, saya ketiduran di pertengahan film. Tapi itu mirip saya waktu SMA, gaya Dilan yang pergi sekolah cuma bawa satu buku itu mirip banget. Cara speak-speak perempuan ala tahun 90an itu memang benar begitu,” ungkapnya.

Film yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq itu menceritakan seorang gadis bernama Milea yang merupakan siswi pindahan dari Jakarta kemudin bertemu dengan Dilan di sebuah SMA di Bandung. Pertemuan itu pada tahun 1990. Perkenalan yang tidak biasa kemudian membawa Milea mulai mengenal keunikan Dilan lebih jauh. Dilan yang pintar, baik hati, dan romantic, melakukan semua dengan caranya sendiri.

Cara Dilan mendekati Milea tidak sama dengan teman-teman lelakinya yang lain. Bahkan beda jauh dengan Beni, pacar Milea di Jakarta. Cara berbicara Dilan yang terdengar kaku, lambat laun justru membuat Milea kerap merindukannya. Jika sehari saja ia tak mendengar suara itu.

Perjalanan hubungan mereka tak selalu mulus. Beni, gank motor, tawuran, Anhar, Kang Adi, semua mewarnai perjalanan itu. Dan Dilan, dengan caranya sendiri selalu bisa membuat Milea percaya ia bisa tiba di tujuan dengan selamat. Tujuan dari perjalanan ini, perjalanan mereka berdua. Katanya, dunia SMA adalah dunia paling indah. Dunia Milea dan Dilan satu tingkat lebih indah daripada itu. (*)