Jalani Hidup dengan Mengajar Ngaji, Bertani dan Mengurut

Bu Amnah, IRT yang Merangkap

108
Suami Bu Amnah, Pak Hasan hanya bisa bersabar menjalani sakit stroke yang belasan tahun dialaminya. Akibat sakitnya itu, Ia hanya di rumah dan tak dapat membantu istrinya yang pergi berladang di Parit Pangeran, Kamis (17/12). KAMIRILUDDIN/RAKYAT KALBAR

Oleh: Kamiriluddin

 

Selain sebagai ibu rumah tangga, perempuan yang sudah dipenuhi rambut putih di kepalanya ini, juga harus kerja di luar rumah layaknya kaum lelaki untuk menopang kehidupan rumah tangganya.

 

eQuator – Tak semua orang bisa seperti Bu Amnah. Perempuan yang usia sekitar 60 tahun ini, tampak tabah menapaki kehidupan. Ditengah kondisi ekonomi keluarga yang serba kurang.

Bu Amnah hanya tingal berdua bersama suami tercintanya, Pak Hasan. Rumah sederhana berbahan kayu di RT 02/RW 02, Dusun Siduk, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana ini, sudah ditempatinya sejak puluhan tahun silam.

Suami yang menikahinya pada puluhan tahun lalu itu, sudah bertahun-tahun tak dapat bekerja. Pak Hasan mendera penyakit stroke sehingga tak sanggup lagi mengais rezeki untuk nafkah keluarga. “Sakitnya sudah lama,” kata Bu Amnah yang tampak sibuk sambil mengemas rumahnya yang tak begitu luas.

Pak Hasan hanya bisa duduk dan sedikit berjalan walau terbata-bata dibantu tongkat dari rotan. Selain tubuhnya mati sebelah, Pak Hasan juga sering berobat ke Puskesmas setempat karena sering batuk. “Kalau sudah batuk, biasanya sampai sesak,” Bu Amnah menambahkan.

Hasil pernikahannya itu, dikaruniai dua orang anak. Namun, dua anaknya kini sudah hidup mandiri karena sudah berumah tangga. Sementara Bu Amnah sendiri bukanlah perempuan pertama dalam hidup Pak Hasan. Sebelum bersama Bu Amnah, Pak Hasan telah memiliki istri dan juga dikarunia sejumlah anak dan semuanya sudah berumah tangga. Istri pertamanya meninggal, ia pun membangun rumah tangga bersama Bu Amnah.

Walau memiliki anak, namun Bu Amnah tak ingin berharap belas kasih anak. Ia tak ingin berharap sekalipun anak, sehingga Bu Amnah pun merangkap dalam kerja. Selain sebagai ibu rumah tangga, perempuan yang sudah dipenuhi rambut putih di kepalanya ini, juga harus kerja di luar rumah layaknya kaum lelaki untuk menopang kehidupan rumah tangganya.

Di luar rumah, Bu Amnah melakoni profesi sebagai petani. Ia memiliki sepetak tanah pertanian di Parit Pangeran, Dusun Semanai. Tiap subuh, ia berjalan kaki yang lumayan jauh sambil menjinjing parang panjang untuk pergi ke lahan pertanian.

Disana, Bu Amnah memelihara sejumlah batang pohon kelapa. Ia pun menanam pisang dan tanaman-tanaman lainnya. Tiap tahun seperti saat ini, ia juga menanam padi. Tak jarang, ia pun mengambil upah nandor (menanam padi) kepada orang lain. Semua dilakukannya dengan penuh keikhlasan. Demi rezeki yang berkah, agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya bersama suami yang ditaatinya.

Selain bertani, Bu Amnah pun sering membantu orang karena tulang bergeser (terseleo) karena jatuh. Kemahirannya dalam mengurut, turut dihargai setiap orag yang meminta bantuannya. “Tidak pernah menetapkan harga, hanya sekedar bantu dan terkadang orang memberi, ya Alhamdulillah,” kata Bu Amnah dengan suara rendah.

Walau hidup dibawah garis kemiskinan, namun Bu Amnah tetap ingin memberi manfaat bagi orang lain. Di rumahnya, ia ramaikan dengan kegiatan belajar membaca kitab suci Alquran. Disana, sejumlah anak-anak ia terima dan diajarkan untuk mengenal huruf hijaiyah satu persatu hingga sampai bisa mengaji. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here