Ingat, Santri Punya Peran Vital Bagi Revolusi Mental

63
SANTRI. Upacara Hari Santri Nasional di Silang Monas, Sabtu (22/10). JPNN.Com

eQuator.co.id – Jakarta-RK. Untuk kedua kalinya Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, Sabtu (22/10). Peringatan itu merujuk pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sejak awal menyuarakan perlunya Hari Santri Nasional menganggap santri merupakan aset penting bangsa. Menurut Sekjen PKB Abdul Kadir Karding, jumlah santri yang mencapai jutaan dengan sebaran hingga ke berbagai daerah merupakan potensi yang bisa dioptimalkan.

“Santri dengan karakternya yang adaptif, ulet, dan tekun berjuang bisa menjadi aktor penting memajukan bangsa dan menjawab persaingan global,” ujar Karding dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Minggu (23/10).

Anggota Komisi III DPR itu menambahkan, para santri hidup dalam berbagai tempaan. Mereka tidak saja dibekali ilmu agama dan pengetahuan umum, namun juga pendidikan moral serta budi pekerti.

Karenanya, lanjut Karding, tidak berlebihan jika santri dijadikan sebagai salah satu tulang punggung dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Bahkan santri, katanya, punya posisi penting dalam mewujudkan revolusi mental dan mewujudkan program Nawacita yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Karding menambahkan bahwa untuk memulai langkah itu, pemerintah bisa mengawalinya dengan cara menguatkan pesantren sebagai institusi pendidikan bangsa. Pesantren sebagai kawah candradimuka para santri perlu mendapat dukungan nyata baik secara moril, materil, maupun legislasi.

Menurut Karding, keputusan Presiden Jokowi yang telah menetapkan Hari Santri Nasional merupakan wujud nyata penghargaan negara atas eksistensi dan kontribusi kaum santri yang sebelumnya terabaikan. “Suara santri juga perlu didengar dalam wacana pembangunan,” katanya.

Karding juga mengatakan, Hari Santri Nasional menjadi penegasan bahwa santri bukanlah kaum pinggiran dalam dunia pendidikan di Tanah Air. “Kini peran santri kembali meruap ke permukaan,” katanya. (JPG)

Facebook Comments