IMWA 2017, Upaya Memperhatikan Buruh Migran di Sarawak

TKI asal Sambas Juara 3 Kategori Timber Industry

35

eQuator.co.idKuching-RK. Konsulat Jenderal RI di Kuching menggelar malam anugerah untuk para buruh migran Indonesia yang bekerja di Sarawak, Malaysia, di Ballroom Pullman Hotel, Sabtu (28/10). Ajang pemberian penghargaan kepada TKI ini dikemas dalam “The Indonesian Migrant Workers Award (IMWA) 2017”.

Sebanyak sembilan TKI dari berbagai provinsi di Indonesia mendapat penghargaan tersebut. Setiap kepala daerah dimana TKI itu berasal dihadirkan. Tampak Bupati Sambas Atbah Rohim Suhaili dan Bupati Bengkayang Suryadman Gidot. Kedua Bupati wilayah perbatasan ini menyumbang cukup banyak TKI di Sarawak.

SANG JUARA. Bupati Atbah berfoto bersama Bambang Kartiko Dirun, TKI asal Sambas yang mendapat juara tiga kategori Timber Industry dalam ajang IMWA 2017 di Kuching, Sarawak, Malaysia, Sabtu (28/10) malam. Ocsya Ade CP/RK

Konsul Jenderal RI Kuching, Jahar Gultom mengatakan, malam anugerah ini sebagai bentuk keseriusan KJRI memperhatikan para buruh migran. Dengan cara memberikan penghargaan kepada buruh migran yang berprestasi.

Namun semua itu tak terlepas dari sinergitas pihak KJRI, para pekerja dan perusahan. “Selama ini banyak pemberitaan yang menyatakan perusahaan di Sarawak Malaysia tidak memerhatikan buruh migran Indonesia. Namun, dengan adanya IMWA ini, masyarakat bisa menilai ternyata banyak yang memerhatikan tenaga kerja, termasuk dari Indonesia,” jelasnya, kemarin.

Menurut dia, IMWA 2017 berbeda dengan tahun sebelumnya. Kegiatan di tahun kedua ini, jumlah pesertanya lebih banyak. Begitu juga dengan perusahaan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, jauh lebih banyak. “Pada kegiatan IMWA yang pertama, banyak perusahaan melihat keseriusan KJRI dalam memperhatikan tenaga kerja kita yang ada di sini. Sehingga mereka terkesan dan pada IMWA 2017 ini, mereka antusias untuk ikut berpatisipasi,” katanya.

Jahar Gultom menjelaskan, sembilan TKI yang menang ini berhasil menyisihkan 108 nominasi TKI terbaik. Para nominasi tersebut sebelumnya diseleksi dari seluruh perusahaan yang ada di Sarawak.

Sembilan TKI tersebut menjadi juara 1, 2 dan 3 untuk tiga kategori. Untuk Kategori “Plantation Industry” juara pertama Kennedy Amizan, juara kedua Nawir Bendo dan juara ketiga Abdul Rahman Sail. Kategori “Timber Industry”, juara pertama Supriadi, juara kedua Wngisan dan juara ketiga Bambang Kartiko Dirun.

Sedangkan Kategori “Contruction and Manufakturing Industry” juara pertama Rahmat, juara kedua Rudi Wardoyo dan juara ketiga Abdul Muslim Lakajo. Juara pertama mendapatkan uang sebesar RM12.000, juara kedua RM10.000 dan juara ketiga RM7.000.

Sementara itu, Rahmat juga terpilih menjadi “Overall Winner IMWA 2017”. Selain RM12.000, Rahmat juga mendapat tambahan RM3.000. Secara keseluruhan dia berhasil membawa hadiah sebesar RM15.000. “Kami sangat bersyukur, karena tahun ini kami mendapat respon positif dari berbagai pihak. Dengan IMWA ini, terjalin kerja sama yang baik antara KJRI dan pihak perusahaan,” terang Jahar Gultom.

Di tahun sebelumnya, Jahar Gultom mengakui terjadi kesulitan untuk mendapatkan data dari perusahaan terkait TKI yang bekerja. “Namun dengan adanya IMWA ini, perusahaan yang ada di sini lebih terbuka,” jelasnya.

Jahar Gultom berharap, kegiatan ini kedepannya bisa semakin baik. Meski dirinya tidak lagi menjabat sebagai Konjen RI, namun tim yang sudah dibentuk saat ini bisa terus melanjutkan IMWA tersebut. Karena, IMWA ini juga berdampak pada menurunnya angka TKI ilegal.

“Akhir Desember nanti, saya sudah tidak menjabat lagi sebagai Konjen RI untuk Kuching. Namun saya yakin kegiatan ini masih bisa terus dilanjutkan,” ucap Jahar Gultom.

Yang membanggakan, salah satu pemenang IMWA 2017 berasal dari Kabupaten Sambas. Dialah Bambang Kartiko Dirun. Bersama Bupati Atbah, Dirun naik ke panggung untuk menerima penghargaan itu. Dirun mengaku sangat bersyukur dengan perolehan penghargaan dari IMWA ini.

Menurutnya, dengan adanya penghargaan ini menjadikan pahlawan devisa ini lebih giat bekerja dan mematuhi aturan yang berlaku di perusahaan. “Saya senang sekali. Dan saya berharap kegiatan ini terus dilaksanakan dengan baik agar dapat membuka komunikasi yang baik pula antara karyawan dan perusahaan. Dengan adanya perhatian ini, tentu karyawan akan bekerja semakin baik,” tutur Dirun.

Ditambahkan Atbah, IMWA merupakan ajang yang luar biasa. Kegiatan ini bisa menjadi motivasi anak-anak negeri yang bekerja di Malaysia. Selain itu dapat pula menekan angka TKI ilegal. “Kita bangga, dengan kondisi yang jauh dari keluarga, tetapi warga kita tetap semangat, termotivasi dan tetap ingin berprestasi,” ujarnya.

Ia berharap, prestasi yang diukir Dirun menjadi contoh baik untuk para buruh migran lainnya. Supaya selalu dan senantiasa bersemangat serta terus berprestasi dalam kerja.

Dijelaskan Atbah, di Sambas, pihaknya membuat inovasi baru untuk menekan angka TKI ilegal. Karena sebagaimana diketahui, warganya banyak mengais rezeki di negeri Jiran. “Kami di Sambas sebentar lagi akan mengaktifkan izin satu pintu terkait dengan TKI. Upaya kami adalah semua pekerja dari Sambas itu legal. Kami akan membantu seoptimal mungkin agar warga kita bisa tenang dan nyaman bekerja di luar negeri,” paparnya.

Dalam waktu dekat, program tersebut akan di-launching. Pemkab sifatnya jemput bola. Selain itu, pihaknya juga akan memberikan pelatihan kepada setiap calon TKI. “Jadi, mereka akan dibekali pelatihan untuk bekerja ke luar negeri. Setelah pelatihan, mereka memiliki bekal sertifikat dah keahlian. Karena pertarungan ke depan adalah skill,” pungkas Atbah.

Sementara Bupati Gidot mengatakan, IMWA ini bisa dijadikan sarana pemerintah membangun komunikasi dengan para TKI yang ada di Sarawak.

“Ini sangat bagus dan penting, karena bagaimana pun tenaga kerja kita ini harus selalu mendapat pembinaan dari pemerintah. Salah satunya ya dengan IMWA ini,” ujarnya.

Ia berpandangan, sampai saat ini masih banyak TKI-TKI yang perlu dorongan motivasi agar mereka bisa bekerja lebih baik. “Kita berharap dengan IMWA ini semangat persatuan para pekerja Indonesia dari berbagai pulau ini semakin terbangun dan baik,” katanya.

Menurut Gidot, untuk menekan angka TKI ilegal, pemerintah harus selalu memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri. “Memang kita akui masih banyak masyarakat kita yang bekerja di Sarawak, apalagi kita ini perbatasan. Nah, pihak Malaysia juga harusnya membantu pengurusan mereka yang bekerja ini. Karena mereka banyak yang tidak tahu,” terangnya.

Tak kalah penting dalam acara ini, juga dihibur dengan penampilan anak-anak Community Learning Centre (CLC) atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berada di Sarawak, Malaysia Timur. Puluhan anak buruh migran Indonesia ini menampilkan tarian dan lagu-lagu kebudayaan Indonesia di hadapan ratusan tamu dari berbagai negara.

 

Laporan: Ocsya Ade CP