Hujan dan Dermaga Licin, Truk Nyemplung Sungai saat Masuk Fery

PT ASDP Gunakan Kapal Tak Layak

44
Ilustrasi.NET

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Insiden kendaraan dan penumpang nyempung sungai Kapuas di kapal fery Kota Pontianak kembali terjadi. Kali ini menimpa sebuah truk bermuatan air mineral, Kamis (7/6).

Truk naas tersebut nyemplung sungai saat hendak masuk ke KM Saluang di Feri Penyeberangan Bardan-Siantan. Beruntung dalam insiden tersebut tak ada korban jiwa. “Peristiwanya terjadi sekitar pukul 14. 30 Wib,” kata Manajer Usaha PT ASDP Pontianak, Heriyanto, Jumat (8/6).

Truk bermuatan 600 dus air mineral tersebut sebelumnya hendak masuk ke dalam kapal yang saat itu dalam kondisi hujan. Sementara semua kendaraan sudah masuk di dalam kapal. “Hanya satu yang belom masuk di depan ramdor. Karena kondisi yang berat dan hujan lalu licin, sehingga saat masuk ke dalam gardek, rem tetap tidak makan ban pun lari,” ceritanya, Jumat (8/6).
Saat itu ABK sudah mengganjal truk sampai dua kali. Lantaran berat dan menjadi beban di sebelah kanan, truk terjun bebas ke sungai Kapuas beserta sopirnya. Beruntung sopir tidak panik, sehingga bisa menyelamatkan diri melalui jendela truk. Usai diberi minum dan baju pengganti, sopir sempat diintrogasi. “Langkah-langkah evakuasi truk langsung diambil bersama Dinas Perhubungan dan Pol Airud,” jelasnya. Ia menyebutkan, untuk ke dalaman di luar dermaga sekitar 12 meter.
Heriyanto mengatakan, semua kendaraan yang ada di dalam feri sudah diasuransikan. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pengelola asuransi. Setelah berita acara dibuat, koordinasi selanjutnya antara pihak asuransi dengan korban. “Evakuasi truk tergantung dari asuransi,” ujanrya.

Ia menjelaskan, di asuransi ada TLO (Total Los Only). Arti, mobil di anggap hilang. Antara pemilik mobil dan asuransi akan negosiasi. Besaran ganti rugi asuransi apabila pemilik mobil menyetujui harga yang ditawarkan. “Untuk tafsiran dari pihak asuransi,” jelasnya.
Sebenarnya kata dia, pihaknya sudah mengantisipasi musibah seperti ini. Safety yang ada sudah standar nasional. Hanya saja musibah itu lantaran hujan dan licin. “Kedepan kita berikan pengarahan kepada kru kapal untuk berhati-hati,” janjinya.
Dikatakannya, truk malang tersebut sebenarnya over kapasitas. 600 dus air mineral yang diangkut setara sekitar tujuh ton. Tapi pihak PT. ASDP Pontianak tidak bisa melarang kendaraan yang berlebihan kapasitas. Pihaknya hanya menghitung jumlah kendaraan yang diangkut kapal feri.

“ASDP hanya loss faktor muatan, bukan tonase muatan. Mungkin pihak terkait akan memberikan pengarahan kepada pengguna jasa,” sebutnya.
Dia memastikan kapal feri yang dimiliki PT. ASDP Pontianak sudah layak. Setiap tahun dilakukan doking. Pihaknya juga memenuhi persyaratan untuk operasional dan perawatan setiap bulan.
Diakuinya, Pemkot Pontianak pernah meminta PT. ASDP Pontianak mengganti kapal fery yang besar. Sejauh ini pihaknya sudah berusaha memenuhi permintaan tersebut. Tapi 29 cabang di berapa lintasan, semua kekurangan kapal.
“Malah kita kemarin meminta untuk pergantian penambahan juga di Rasau – Telok Batang, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” tuntas Heriyanto.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Pontianak Utin Srilena Candramidi menuturkan, insiden tercebur tersebut lantaran truk over kapasitas dan rem blong. Setelah dicek, truk tahun 2000-an itu membawa minuman air mineral sekitar 8000-an kilogram atau 8 ton. Seharusnya 5000 kilogram atau 5 ton. “Kemudian juga ditambah kondisi hujan, sehingga plat atau lantainya menjadi licin,” pungkasnya.
Utin pun menagih janji PT. ASDP Pontianak untuk mengganti kapal feri. Mengingat KM Saluang sudah tidak layak lagi. Minimal harus diganti KM Billy. “Sesuai janji mereka, kan lebih dari KM Billy itu yang saya tuntut,” tegasnya.
Ditegaskan Utin, pihaknya meminta PT ASDP Pontianak merealisasikan janjinya untuk mengganti kapal feri yang standar. “Jangan sampai peristiwa tersebut terus berulang,” harapnya.
Utin mengaku empat mendapatkan informasi, KM Siluk yang khusus mengangkut roda dua, terkadang digunakan mengangkut mobil. Hanya saja, ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Lantaran tidak setuju dengan cara-cara begitu, Utin memastikan akan melaporkannya ke Wali Kota Pontianak. Supaya nanti MoU dikaji ulang.
“Harus komitmen, KM Siluk roda dua, ya roda dua. Untuk KM Saluang sudah tidak layak lagi sudah kami beri tahu, ya komitmen lah, konsekuen dari ASDP-nya. Minimal Pontianak itu sudah seperti KM Billy,” lugas Utin.
PT ASDP Pontianak harus terus kooperatif. Janjinya harus dipenuhi. Karena sesuai janjinya, jika kendaraan di Kota Pontianak ini semakin bertambah. “Saat ini kendaraan banyak menggunakan feri, karena itu jalur alternatif. Warga tidak melewati jembatan Kapuas dan Landak untuk mengurai kemacetan,” ulasnya.
Utin mengimbau para sopir angkutan jangan semuanya naik jembatan, tapi dapat memanfaatkan feri. Kendati ada biaya, tapi lebih cepat dan aman. Makanya ia meminta PT ASDP Pontianak harus menunjang dengan kapal representatif. Layak untuk mengangkut kendaraan yang fungsi utamanya mengutamakan keselamatan.
Dia juga berharap mudah-mudahan ke depan dermaga feri lebih baik. Dermaganya tidak lurus, tapi leter L. “Jadi untuk kapal tidak lagi berbelok, tapi langsung pas pintu ramdown-nya,” imbuhnya.
Utin juga berharap dermaganya bisa seperti dermaga lain. Pasalnya, dermaga feri di Kota Pontianak agak berbeda. “Mudah-mudahan bisa dilaksanakan, apakah lewat APBD, provinsi atau pusat,” harapnya.
Utin minta truk ada pembatas atau portal. Apabila melebihi portal yang di pasang, tidak boleh melewatinya. Artinya muatan truk lebih kapasitas. “Kami harap Dishub nanti memiliki timbangan portable,” tukasnya.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan GM Pelindo. Meminta secarik kertas setiap kendaraan ke luar dipegang sopir kontainer bahwa hasil timbangannya sekian. Sehingga bisa dilihat kalau tidak sesuai dengan kapasitas yang ditempel distiker, maka tidak layak. “Suruh dikembalikan ke Pelindo. Kapal tidak layak untuk Saluang kalau untuk roda dua masih mungkin,” demikian Utin.

 

Laporan: Maulidi Murni

Editor: Arman Hairiadi