HPR “Serang” 16 Kecamatan

103
BIMTEK: Pj Bupati Marius Marcellus TJ membuka Bimtek pengendalian rabies di Kapuas Hulu, Kamis (3/12) pagi di Hotel Merpati, Putussibau. Arman Hairiadi-RK

eQuator – Putussibau-rk. Hewan Penular Rabies (HPR) dilaporkan telah menggigit warga di 16 kecamatan dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Kasus gigitan HPR ini harus ditangani dengan baik.
“Karena rabies ini tentunya menimbulkan keresahan dan ketaktutan di masyarakat,” kata Penjabat (Pj) Bupati Kapuas Hulu Marius Marcellus TJ SH MM, saat membuka Bimbingingan Teknis (Bimtek) Pengendalian Rabies Kabupaten Kapuas Hulu, Kamis (3/12) pagi di Hotel Merpati, Putussibau.
Marcellus berharap kedepan tidak ada lagi laporan warga digigit HPR. Untuk itu, kepada Dinas pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kapuas Hulu dapat berperan mengantisipasinya. “Seluruh elemen masyarakat pun harus dapat dalam menanggulangi rabies sehingga tidak ada lagi penambahan kasus gigitan,” ujarnya.

Kepada petugas pengendalian rabies di Kecamatan sebagai perpanjangan tangan Dinas terkait harus memberi informasi yang akurat ketika ada kasus gigitan. Sehingga dapat segera diantisipasi penyebarannya. Begitu juga kepada Satgas Pengendalian dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB ) rabies terus melaksanakan penyuluhan di daerah terancam. “Seperti Bunut Hulu, Boyan Tanjung, Mentebah dan Kalis. Karena memang beberapa Kecamatan ini berbtaasan dengan Kalteng yang merupakan daerah tertular,” terang Marcellus.
Ia juga meminta petugas responsif terhadap kejadian yang ada. Selain itu, masyarakat harus diberi pemahaman tentang bahaya rabies, sehingga ketika HPR-nya akan divaksin mereka mau. “Namun karena tantangan kesadaran masyarakat masih minim dan kekurangan petugas. Maka kerjasama dengan penyuluh dan para Kepala Desa sangat penting,” jelas Marcellus.

Kepala Distanak Kapuas Hulu, Gunawan SE mengakyi pihaknya masih memiliki kendala dalam penanggulangan penyebar rabies dibeberapa kecamatan tertular. Saat ini hanya ada enam orang petugas. Jumlah petugas tidak sebanding dengan banyaknya HPR dan lokasi yang divaksinasi. Belum lagi dengan lokasi yang sulit dijangkau. “Maka, kita akan terus melakukan pemantapan Sumber Daya Manusia (SDM) petugas yang ada di 23 Kecamatan, dengan memberikan Bimtek pengendalian rabies,” ungkapnya.
Dijelaskan Gunawan, kegiatan Bimtek ini merupakan tindaklanjut dari penetapan status KLB rabies Kapuas Hulu dan laporan kasus gigitan HPR dari beberapa kecamatan. Berdasarkan data yang ada populasi HPR diperkirakan mencapai 31 ribu lebih. Sebanyak 12 ribu HPR jenis anjing, 19 ribu HPR jenis kera dan kucing. “Petugas juga kesulitan mendapatkan sarana pendingin vaksin di daerah. Belum adanya listrik untuk menghidupkan alat pendingin. Karena sulitnya memperoleh sarana pendingin sehingga menyebabkan kerusakan vaksin,” kata Gunawan.
Sulitnya memberi pemahaman kepada masyarakat juga menjadi kendala di lapangan, seperti banyak yang enggan HPR-nya divaksin oleh petugas, dengan berbagai alasan. “Dari data yang ada, kasus gigitan hingga bulan November mencapai 167 orang yang tersebar di beberapa kecamatan. Namun tidak semua kasus gigitan positif rabies,” jelasnya.
Saat ini, lanjut Gunawan, petugas pengendalian rabies tengah fokus melakukan penyuluhan dan vaksin di empat Kecamatan, yaitu Bunut Hulu, Kalis, Mentebah dan Boyan Tanjung. Adapun total HPR di empat Kecamatan ini mencapai  6.100 ekor. “Kita masih kekurangan vaksin HPR untuk beberapa daerah,” tuntas Gunawan.

 

Laporan: Arman Hairiadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here