Hidupkan Kembali Pelita Lelikuran dan Keriang Bandong

Sambut Malam Lailatul Qadar

16
MALAM BERCAHAYA. Obor dibentuk lafaz Allah menandai festival Pelita Lelikuran dan Keriang Bandong di Sukadana, Kayong Utara, Jumat (16/6). KAMIRILUDDIN

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kayong Utara berusaha menggairahkan kembali tradisi masyarakat Melayu menyambut malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam ajaran Islam, pada salah satu malam yang penanggalan hijriyahnya bernomor ganjil akan turun Lailatul Qadar. Satu malam itu lebih baik dari seribu bulan.

Kamiriluddin, Sukadana

eQuator.co.id – Dalam kepercayaan muslim, doa saat Lailatul Qadar hadir di dunia akan langsung dikabulkan Allah. Menurut sejarawan muslim, orang yang pernah dapat malam Lailatul Qodar adalah Nabi Samsum atau Sam’un. Yang lain menyebutnya Simson.

Umat Islam mempercayai 25 Rasul dan sekitar 124.000 ribu Nabi. Perbedaannya, Rasul dapat wahyu dari Allah untuk disebarkan umatnya. Sedangkan Nabi dapat wahyu dari Allah untuk diri sendiri.

Samsum orang saleh dari Bani Israel yang mengajak kebaikan dan hidup. Ia meninggal di kota Gaza, Palestina sekarang. Nabi Samsun orang yang mampu melompat tinggi, berlari sangat cepat, dan bertenaga setara seratus tentara terbaik. Sehingga besi sangat mudah dibengkokkan, batu besar mampu diangkat dengan mudah.

Nabi Samsun melawan penguasa yang menyembah berhala. Akhirnya penguasa mengutus banyak orang untuk menangkapnya namun tidak mampu melawannya. Diikat pakai tali yang besar, mudah diputuskannya. Diikat dengan rantai besi besar sekujur tubuhnya, tetap putus juga.

Akhirnya, penguasa berupaya menyogoknya dengan jabatan tinggi, emas berlimpah, dan kemuliaan dunia lainnya. Namun, Nabi Samsun menolak dan lantang menyerukan Allah itu maha satu alias tidak banyak dan hanya Allah yang patut disembah.

Sang penguasa memilih lewat jalan belakang. Menyogok istri Nabi Samsun. Berhasil. Suatu hari, istri Nabi Samsun bertanya ke suaminya, “apakah yang mampu mengikat badanmu”. Sang Nabi menjawab, bila rambutnya dicukur habis, hilanglah kekuatannya. Rambutnya juga dapat mengikatnya hingga tak berdaya.

Kelemahan ini disampaikan ke penguasa dan istrinya menggunduli Nabi Samsum. Rambut itu digunakan untuk mengikat suaminya. Ketika bangun pagi, Nabi Samsun sudah tidak berdaya dan dibawa pasukan penguasa untuk dipenjara di bawah tanah istana sang raja penyembah berhala.

Ia disiksa hingga lumpuh, matanya dibutakan, indera tubuhnya dirusak. Bertahun-tahun Nabi Samsun mengalami siksaan amat pedih, namun ia tetap tidak mau menyekutukan Allah.

Mengetahui kemungkaran dari sang penguasa akan merajalela, pada malam ganjil di sekitar sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi Samsun berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati. Minta tubuhnya yang lumpuh dan buta diberi kesembuhan. Allah mengabulkan doa itu, kekuatan Nabi Samsun kembali. Penjara bawah tanah dan istana sang penguasa ia obrak-abrik.

Setelah bebas, Nabi Samsun masih hidup sekitar seribu bulan atau 83 tahun berikutnya. Berjuang sendiri memerangi penguasa zalim dan menyebarkan kebaikan di jalan Allah.

Nabi Samsun sampai saat ini dihargai umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Masing-masing agama menceritakan kisahnya dengan versi masing-masing. Versi Islam melalui hadis yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Kala itu, Rasulullah Muhammad pernah tersenyum sendiri. Sahabat-sahabatnya pun bertanya kenapa ia tersenyum sendiri.

“Setiap Nabi dan Rasul masuk ke surga bersama-sama umatnya namun hanya satu Nabi yang masuk surga sendirian dengan gagahnya, yaitu Samsum,” tutur Rasulullah.

Ia menerangkan, bukti seorang muslim mendapat malam Lailatul Qodar selain doanya langsung dikabulkan Allah, setelah Ramadan orang tersebut akan lebih baik dan lebih bertakwa dalam berjihad di jalan Allah.

Nah, begitu sakralnya malam Lailatul Qodar di sepuluh malam hari terakhir ini, warga Melayu di selatan Kalbar menyambutnya dengan tradisi iktikaf (berdiam di masjid untuk berzikir dan membaca Alquran) dan bersedekah. Juga keliling kampung membawa pelita yang disebut Pelite Likuran, serta menerangi kampung dengan Keriang Bandong.

“Dalam bahasa kami, di wilayah Ketapang dan Kayong Utara, colo’ atau colok adalah sebutan penamaan untuk obor yang dibuat dari batang buluh atau bambu. Diberi sumbu entah percak kain atau sabut kelapa kering, sebelumnya di dalam batang buluh itu diisi minyak tanah terlebih dahulu,” ungkap Rudi Handoko, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kayong Utara (KKU) dari Kecamatan Teluk Batang kepada Rakyat Kalbar.

Dikatakannya, Pawai Colok jamak dilakukan saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan. Warga setempat mengenalnya dengan nama malam likor atau lelikoran (dalam dialek Melayu). Mulai dari selikor (21) dan sampai terakhir malam sembilan likur. Dan jelang malam takbiran menyambut hari raya.

Dulu, malam takbiran diramaikan dengan pawai colok ini sambil bertakbir keliling kampung. “Selain pawai colok, sepuluh malam di akhir Ramadan itu akan disemarakkan juga dengan membuat, memasang, dan “memantong” pelita likoran di depan-depan rumah, masjid, surau, dan sebagainya,” papar Rudi.

Ia menerangkan Pelita Likuran inipun umumnya dibuat dari batang buluh, dibentuk dan disusun beraneka-ragam supaya elok dan bagus. Menerangi malam yang sudah gelap karena bulan sudah tidak timbul. Tradisi inipun konon dibuat untuk membuat malam-malam akhir Ramadan jadi terang benderang untuk menyambut datangnya hari kemenangan (Idul Fitri) setelah berpuasa sebulan penuh.

“Sekaligus menambah semangat beribadah malam sampai menjelang hari raya. Kamipun dulu riang gembira bermain bunga api dan berlomba meletopkan (membunyikan) meriam yang dentuman bunyinya ‘lentam-lentum’ bersahutan. Itulah keriangan Ramadan di masa kecil. Sekarang, tradisi pawai colok ini coba disemarakkan lagi, setelah lama hampir pudar menghilang,” papar Rudi.

Menurut sejarah, tradisi Lelikoran ini dimulai dari Kesultanan Demak pada 1500 Masehi, kemudian menyebar ke Kalimantan. Sebagaimana diketahui, Kesultanan Demak membina hubungan dagang dengan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia.

Ketika Armada (sebutan untuk angkalan laut Portugis dan Spanyol) Portugis menaklukkan Malaka tahun 1511 dan Samudera Pasai setahun selanjutnya, tentara-tentara Malaka dan Samudera Pasai banyak yang lari ke Demak. Tahun 1521, Sultan Demak kedua, Patih Yunus (Pati Unus) menyerbu Portugis di Malaka dengan seribu kapal perang.

Namun, di tengah peperangan, Pati Unus terkena bedil sniper Portugis dan meninggal. Akhirnya, perlawanan dihentikan dan gagal mengalahkan Portugis. Banyak tentara Islam dari Jawa tinggal dan memperkenalkan tradisi Lelikuran.

Likor sendiri dari bahasa Jawa untuk menyebut kata khusus akhiran angka 21 sampai 29. Setelah angka itu, digunakan kata-kata sebagaimana bahasa-bahasa lain di dunia. Lelikuran tidak dikenal angka-angka yang lain.

Selikor artinya 21, yang memiliki makna sebagai awal malam ganjil di sepuluh hari terakhir dimana satu diantaranya merupakan Lailatul Qadar. Malam ke-21 Ramadan juga istimewa karena menandai peristiwa turunnya Nabi Muhammad dari Gua Hira di Jabal Nur setelah menerima wahyu (Alquran) pertama dari Allah lewat malaikat Jibril pada hari ke-17 Ramadan. Saat Nabi turun dari Jabal Nur di malam yang gelap di malam 21, 23, dan 25, para sahabat dan pengikutnya selalu membawa obor-obor untuk menyambut dan menerangi jalannya menuju ke rumah.

Di Kayong Utara, ada kirab lampu ting untuk mengingat dan melestarikan peristiwa Nabi mendapatkan wahyu pertama kali tersebut. Lampu ting juga menggambarkan cahaya seribu bulan yang menandai turunnya Alquran di bulan Ramadan. Ini mengandung ajaran bahwa cahaya itulah (Alquran) yang menjadi penunjuk jalan bagi manusia untuk melangkah. Namun, untuk mendapatkan cahaya itu, setiap pemeluk Islam harus mempelajari dan mengamalkannya.

Lampu ting merupakan teplok –lampu minyak dengan kaca semprong– yang diberi tangkai sebagai penerang jalan kirab. Namun, saat ini, panitia juga menggunakan petromaks. (*)

 

 

Facebook Comments