Hasilnya, Sangat Bermanfaat untuk Industri Maritim

Kisah Peneliti Muda Meneliti Kekuatan Arus Laut untuk Listrik (BAG 3)

36
TUNTAS: Wajah sumringah M. Rizqi Mubarok (kiri) usai pengukuran arus laut di perairan Obi yang dikenal dengan gelombang dahsyatnya tuntas, Kamis (15/3).RUSTAM ODE NURU/MALUT POST
TUNTAS: Wajah sumringah M. Rizqi Mubarok (kiri) usai pengukuran arus laut di perairan Obi yang dikenal dengan gelombang dahsyatnya tuntas, Kamis (15/3).RUSTAM ODE NURU/MALUT POST

Pengembangan energi listrik terbarukan milik M. Rizqi Mubarok adalah sebuah proyek yang komplet. Ia mengukur kekuatan arus laut, mencari titik yang ideal untuk pengembangan, hingga memaparkan estimasi pembiayaan seputar proyeknya. Jaminan ramah lingkungan juga turut disertakan.

Rusdi Abdurrahman, Ternate

eQuator.co.id – Pengukuran arus laut di dua lokasi di Obi, Halmahera Selatan, memberikan hasil berbeda. Di Tanjung Pala yang terletak di antara Pulau Obi dan Pulau Obilatu, kekuatan arusnya berpotensi menghasilkan 0,8 hingga 2 meter perdetik. Sementara Batu Picah yang letaknya di ujung barat Obi Latu memiliki kekuatan 1 sampai 1,5 meter perdetik.

”Tapi di antara kedua lokasi itu Tanjung Pala lah yang paling layak (untuk dikembangkan energi listrik tenaga arus laut). Sebab di sekitar situ ada jumlah penduduk yang cukup banyak dan mereka belum memiliki listrik sampai sekarang,” ungkap M. Rizqi Mubarok, peneliti muda asal Jawa Timur, Sabtu (17/3).

Selain potensi arus yang cocok, pemanfaatan arus di Tanjung Pala juga akan membantu enam desa di Kecamatan Obi Barat untuk menikmati listrik. Di Pulau Obilatu yang masuk Obi Barat terdapat Desa Alam Kenanga, Alam Pelita, Jikohai, Manatahan, Soasangaji, dan Tapa.

”Ada sekitar 3 ribu jiwa di sana. Karena itu, jika hasil penilitian ini dapat diterapkan akan sangat bermanfaat. Masyarakat setempat saat saya temui memiliki harapan yang kuat pengembangan ini dapat terwujud,” tukasnya.

Usai melakukan pengukuran di Obi, Rizqi sempat mengukur kekuatan arus di Selat Maitara antara Pulau Maitara dan Tidore. Di situ, kekuatan arusnya 0,8 sampai 2 meter perdetik. Hanya saja, dayanya tak menyamai Tanjung Pala.

”Kalau di Maitara cepat, namun tidak kuat. Takutnya suatu saat bisa berhenti. Yang dibutuhkan kekuatan arus yang konstan,” terangnya.

Lalu bagaimana dengan potensi arus di Selat Capalulu yang mencapai 5 meter perdetik? Pemuda kelahiran 13 Juli 1996 itu menuturkan kekuatan Capalulu terlalu kuat sehingga bisa membahayakan.

”Kalau bicara kuat, memang paling kuat Capalulu. Tapi kita cari yang ideal dan idealnya memang di Tanjung Pala sejauh ini,” tutur Rizqi.

Setelah menemukan lokasi yang ideal, teorinya pembangunan alat pembangkit listrik tenaga arus laut dapat dilakukan. Alat yang dirancang Rizqi sebagai pembangkit memanfaatkan potensi arus laut (pasang surut) gelombang laut dan potensi angin. Semua energi kinetik tersebut akan diubah menjadi energi listrik melalui generator. Selanjutnya, listrik didistribusikan ke rumah-rumah penduduk.

Perubahan energi arus menggunakan Gorlov Helical Turbin (GHT), sedangkan untuk mengubah energi dari angin menggunakan Savonius Wind Turbine (SWT). Sementara perubahan gelombang ke listrik menggunakan Connected Surface Buoy System.

“Potensi arus dan angin yang ada di Selat Tanjung Pala Kepulauan Obi ini bisa menghasilkan listrik hingga 1 Megawatt. Jika daya listrik yang biasa digunakan masyarakat 900 Watt/VA, maka jumlah rumah yang bisa dilayani mencapai 900 rumah,” urainya.

Sistem listrik yang digagas Rizqi memiliki bahan seperti kapal tongkang, yang dibiarkan terapung dan diikat dengan jangkar. Bahan-bahan yang digunakan juga berupa bahan kapal, dengan daya tahan mencapai 30 sampai 35 tahun. Jika dihitung tingkat anggarannya bisa lebih efisien.

“Untuk satu unit, hasil analisis saya menghabiskan anggaran Rp 10 sampai Rp 15 miliar, namun itu belum termasuk sistem kabel bawah laut. Sebab biaya kabel di bawah laut biasanya lebih mahal,” katanya.

Kelebihan lain dari proyek anak muda ini adalah aspek ramah lingkungannya. Pembangkit listrik yang didesain Rizqi murni memanfaatkan potensi arus laut sehingga tak menggunakan mesin.

”Itu berarti tak ada polusi udara yang dihasilkan,” tambahnya.

Di Malut, khususnya wilayah Obi, potensi yang dominan dijual adalah ikan dan tambang. Di sisi lain, pasokan listrik di wilayah tersebut tergolong minim. Alhasil, pengembangan teknologi dan energi terbarukan memanfaatkan arus, gelombang dan angin ini dapat menjadi kesempatan besar bagi masyarakat. Salah satunya dengan pembangunan cold storage untuk menjaga kualitas ikan.

”Potensi arus yang ada di Tanjung Pala ini bisa dibangun hingga dua unit. Selain untuk konsumsi masyarakat, juga bisa dimanfaatkan untuk industri, sehingga kapal nelayan yang menangkap ikan di sekitar Pulau Obi bisa langsung singgah untuk mengawetkan hasil tangkapnya,” terangnya.

Hasil penelitian adik Risalatur Rohmah ini nantinya akan disampaikan kepada Dahlan Iskan. Dahlan lah yang bakal merekomendasikan ke kementerian terkait. Jika diterima untuk dikembangkan lebih lanjut, Rizqi mengaku siap kembali ke Malut untuk menindaklanjutinya.

”Setelah dari Ternate, saya akan ke Industri Kapal Indonesia di Makassar untuk mengambil data bahan bangunan konstruksi agar bisa dianalisis pembiayaan tepatnya,” tandasnya. (Malut Pos/JPG/selesai)