Harga Karet Anjlok, Musim Buah Bawa Berkah

319
KUMPULKAN EMPAKAN. Philipus (kiri) dan Gito (kanan) sedang menjajakan buah empakan di kampungnya, Kedamin Darat, Minggu (3/1).ANDREAS-RK

Buah-buahan lokal yang lagi musim di kawasan hulu Kalimantan Barat membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Di tengah suramnya harga jual komoditi karet yang merupakan mata pencaharian pokok rakyat di sana, buah-buahan itu jadi berkah tersendiri.

Andreas, Putussibau

eQuator – Contoh paling nyata terlihat di Desa Kedamin Darat, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Buah hutan seperti cempedak, durian, dan empakan (mirip durian, isinya berwarna oranye) dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peluang tersebut tidak hanya dimanfaatkan orang tua, anak-anak pun meraup ‘uang jajannya’ sendiri dari hasil penjualan buah itu. Buah tersebut masak di pohon kemudian jatuh dan mereka tinggal memungutnya.

Philipus, salah satunya. Remaja 14 tahun yang tinggal di Desa Kedamin Darat ini hampir setiap pagi mencari buah ke hutan. “Biasanya sekitar jam lima subuh. Saya bersama teman-teman, setelah dapat kami langsung jual keliling dari rumah ke rumah di kampung pakai sepeda,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar, Minggu (3/1) pagi.

Dikatakan Lep, biasa dia dipanggil, setiap kali turun ke lokasi bisa mendapat belasan buah empakan maupun durian. Jarak tempuh dari rumah ke lokasi memakan waktu 15-25 menit berjalan kaki. Setelah dapat, buah tersebut diikat dua hingga tiga biji sesuai ukuran kemudian dijual seharga Rp10 ribu perikat.

“Hasilnya saya tabung. Tapi sedikit untuk beli kebutuhan hari-hari seperti indomie, telur dan jajan di sekolah,” ungkapnya.

Siswa kelas II SMP ini sebelumnya rajin membantu orangtuanya menyadap karet sepulang dari sekolah. Namun, sejak harga karet anjlok, ia mengurangi aktivitas menyadap tersebut.

“Harga karet murah, paling sekarang Rp4-5 ribu perkilo. Kalau dibanding masih mahal buah, carinya pun gampang. Tapi itulah, musim buah ini ndak lama lagi habis,” ucap Lep.

Uang hasil penjualan buah yang sudah terkumpul dalam tabungannya sekitar Rp500 ribu. “Kalau dengan yang sudah digunakan, lumayan banyak karena sehari kami biasa dapat Rp45 – Rp50 ribu . Tapi hasilnya dibagi dua, kalau dua orang yang nyari buah. Kalau tiga orang, ya dibagi tiga,” paparnya.

Gito, seorang teman Lep menambahkan, aktivitas mencari buah ke hutan itu sudah berlangsung hampir sebulan. Buah yang pertama masak, kata bocah sepuluh tahun ini, durian. Disusul empakan dan cempedak.

“Durian dah hampir habis musimnya. Sekarang musim empakan dan cempedak. Tapi yang banyak laku buah empakan,” tutur siswa kelas IV SD ini.

Senada, Yohanes Baner. Ia mengatakan, hasil penjualan buah tersebut sangat membantu meringankan beban orangtua untuk membiayai pendidikannya yang masih di tingkat SMP. “Hasilnya ditabung untuk beli sepatu sekolah nanti dan untuk perlengkapan lainnya,” ungkap remaja berusia 15 tahun ini. (*)

Editor: Mohamad iQbaL