Hafal 15 Juz Diberangkatkan Umroh

Melihat Kondisi Bustanul Quran Tempat Cetak Tahfidz Quran Pertama di Melawi

28
SETOR HAFALAN QURAN. Para santri di Pondok Pesantren Bustanul Quran, Nanga Pinoh, Melawi, ketika menyetor hafalan Alquran kepada pengasuhnya---Joko for Rakyat Kalbar

Bustanul Quran yang awalnya hanya sebatas yayasan pesantren non formal untuk mencetak Tahfidz Quran, tahun ini membuka sekolah formal di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan nama SMP Islam Tahfidz Quran. Pun membuka Madrasyah Aliyah.

Dedi Irawan, Nanga Pinoh

eQuator.co.id – Dua tingkatan sekolah formal tersebut menjadi unggulan untuk mencetak Tahfidz Quran atau penghafal Alquran pertama di Melawi. “Meskipun begitu, SMP dan Aliyah ini tidak menyampingkan pelajaran umum lainnya,” tutur Pengasuh Yayasan Pesantren Bustanul Quran, Joko Supeno Mukti, belum lama ini.

Para murid di SMP dan Aliyah yang juga santri di Pesantren Bustanul Quran ini banyak yang sudah hafal Alquran. Jumlah santri dan santriwati di yayasan tersebut mencapai 130 orang.

“Untuk yang sekolahSD masih sekolah di luar sebanyak 13 orang, yang SMP berjumlah 90 orang, kelas 2 ada 9 orang. Dan yang kelas 1 ada 70 orang sekolah di SMP Islam Tahfidz Quran, yang kelas 3 SMP sekolah di luar 6 orang karena kelas 3 belum ada,” terang Joko. “Untuk yang Aliyah kelas 1 ada kurang lebih 8 orang, dan yang kelas 3 sekolah keluar ada ada 9 orang,” sambungnya.

Dari jumlah murid ini, 2 orang hafal 20 juz, seorang hafal 15 juz, 3 orang hafal 13 juz, dan 5 orang hafal 10 juz. “Yang lainnya rata-rata sudah hafal 2 sampai 5 juz,” ungkap pria yang karib disapa Ustad Joko itu.

Murid di Yayasan Bustanul Quran ini tidak hanya dari sekitaran Melawi saja. Banyak yang datang dari luar kabupaten, mondok di pesantren tersebut.

“Ini murid-murid ada yang dari Sambas, Entikong, Sanggau, Sintang dan terlebih Melawi, semua kecamatan ada. Lokal kita yang ada 14, yang SMP 3 ruang, Aliyah 3 ruang, sisanya untuk kantor guru dan asrama tidur, dan asrama guru. Namun kita masih sangat membutuhkan bantuan, karena masih belum ada perpustakan, labolatorium,” paparnya.

Para santri tidak leluasa keluar-masuk. Hanya diizinkan ke pasar atau keperluan lain sebulan sekali. Itupun kalau bersama orangtua atau wali.

“Diizinkan pulang kampung dua bulan sekali, orangtua atau wali hendaknya memberi tahu lebih dahulu ke pihak pesantren jika ingin menjemput. Batas maksimal di rumah 5 hari kecuali libur semesteran dan tahunan. Aturan tersebut bisa ada pengecualian apabila ada hal khusus dan penting. Sementara untuk yang sekolah keluar, diantar jemput menggunakan bus Bustanul Quran,” ucap Joko.

Hari-hari para santri yang mondok serta bersekolah di yayasan Bustanul Quran tersebut terus dihadapkan dengan hafalan Alquran. Bagi santri yang sudah bisa menghafal 15 juz, sejak tahun lalu diberi hadiah untuk berangkat umroh oleh Anggota DPR RI, Sukiman.

Seorang santri asal Desa Tanjung Lay, Muhamad Remo Al Bustani bercerita, sejak pukul 03.00 dini hari, para santri maupun santriwati di pesantren tersebut sudah bangun untuk melaksanakan salat tahajud, hingga salat subuh. Sehabis subuh, harus menyetor hafalan baru ke pengasuh yayasan Bustanul Quran.

“Setoran hafalan baru itu dilakukan setiap hari kecuali Jumat dan Minggu. Setoran hafalan itu minimal satu halaman,” kisah remaja 17 tahun itu.

Ia duduk di bangku kelas 2 Aliyah Nanga Pinoh. Lanjut dia, setelah menyetor hafalan, dirinya membantu pengasuh pesantren untuk menyimak hafalan Alquran dari santri-santri yang sedang halangan atau datang bulan.

“Setelah itu barulah kami berangkat ke sekolah. Di sekolah kami pulang bakda zuhur atau sampai pukul 13.40 WIB. Sepulang sekolah, setelah makan, kami menyiapkan hafalan baru. Habis itu baru istirahat sebentar. Setelah shalat Asar para santri belajar tilawah, kemudian habis Maghrib setor hafalan yang mengulang. Setelah Isya, para santri terus mengulang hafalan-hafalan yang ada,” papar Remo.

Ia mengaku sangat senang dengan aktivitas di pesantren, para santri bisa terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Di samping itu, banyak pengetahuan agama yang didapat mereka.

“Saya di pesantren ini sudah hampir tiga tahun, dimana Alhamdulillah, saya sudah bisa menghafal 18 juz,” ungkapnya.

Sementara, santriwati asal Desa Bloyang, Nurul Fadilah mondok di pesantren ini sejak usia 12 tahun. Dua tahun berlalu, ia mengaku mendapat banyak pelajaran tentang agama. Terutama dalam hal menghafal Alquran.

“Alhamdulillah saya sudah hafal 19 juz. Dengan belajar agama ini, pastinya ada perubahan dalam hidup, lebih merasa hidup penuh barokah,” ucapnya.

Dua santri Bustanul Quran tersebut contoh dan motivasi bagi santri lainnya maupun calon santri. Pada tahun 2016 lalu, keduanya diberi hadiah berangkat umroh oleh Sukiman karena mampu menghafal 15 juz. (*)