Gepeng Kota Nanga Pinoh Dirazia

144
RAZIA GEPENG. Petugas membina gelandangan dan pengemis (Gepeng) yang terjaring razia di beberapa titik Kota Nanga Pinoh, Selasa (12/1). Sukartaji-RK

eQuator – Nanga Pinoh-RK. Petugas gabungan, terdiri dari Satpol PP, Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), plus Polres Melawi merazia para gelandangan dan pengemis (Gepeng) yang mulai marak di Kota Naga Pinoh, Selasa (12/1).

“Setelah kita sisir di beberapa lokasi, kita bawa ke lapangan kantor kecamatan. Untuk hari ini kita sifatnya hanya pembinaan saja,” kata Saibun Sibarani, Kabid Perlindungan Masyarakat Satpol PP Melawi di sela-sela razia.

Dijelaskannya, razia yang dilakukan kali ini sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Melawi yang melarang adanya aktivitas meminta sumbangan atau mengemis tanpa adanya izin dari pemerintah setempat. “Namun jika setelah dilakukan penertiban ternyata masih ada lagi aktivitas serupa, kita tidak segan-segan untuk mengamankannya. Kita juga akan mencari tahu apakah mereka ini dikoordinir atau tidak” ujarnya.

Dari hasil pendataan, teranyata sebagian besar pengemis yang ada di Melawi merupakan pendatang, mereka juga rata-rata tidak memiliki KTP. “Sementara kita bina dulu, karena kita ini juga mendampingi aparat Satpol PP melakukan razia,” ungkap Kabid Sosial Dinsosnakertrans Melawi, Sudadi.

Disinggung mengenai langkah kedepan terhadap hasil razia tersebut, Sudadi mengaku, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinsosnakertrans, apakah akan memulangkannya atau memberikannya pembinaan.

“Kalau semuanya berasal dari luar, sepertinya sulit. Ya kita akan pikirkan nanti, apakah akan disuruh pulang nanti, sebab keberadaan mereka ini memang sudah meresahkan masyarakat,” tandasnya.

Satu di antara pengemis yang terjaring, Satona asal Sumenep mengaku kedatangannya ke Melawi atas inisiatif sendiri. “Dulu saya memang pernah ikut bos, namun saya tidak dikasi duit, sekarang saya ngemis sendiri,” tandasnya.

Dalam sehari, Satona mengaku bisa meraup Rp 50 ribu terkadang juga lebih. Uang tersebut dia pergunakan untuk biaya hidup dan membayar sewa kontrakan di kawasan terminal Sido Mulyo. Saat diintrogasi petugas Satona sempat menangis, dan berharap tidak ditangkap petugas.

Pengemis lainnya yang terjaring, Kinjun mengaku berasal dari Darit Kabupaten Landak. Dia datang ke Melawi juga atas inisiatif sendiri karena di daerah asalnya sudah tidak bisa bekerja lagi.

“Dulu saya kerja di Malaysia, di kapal, namun karena ada musibah sebagian tangan saya lumpuh tidak bisa digerakan lagi, kaki kiri saya juga tidak bisa digerakan lagi, jadi saya tidak bisa kerja apa-apa lagi, makanya saya ngemis,” tandasnya.

Di Darit, Kinjun mengaku tak memiliki famili. “Saya di sini (Melawi, red) cuma cari makan saja,” tandasnya.

 

Laporan: Sukartaji

Editor: Kiram Akbar