G30S Pelajaran Berharga Bangsa Indonesia

PKI dari Kacamata Kawula Muda

16
Palupi Dwika Prameswari dan M Bahri Alfiansyah
MENGINGAT SEJARAH. Palupi Dwika Prameswari dan M Bahri Alfiansyah saat berdiskusi mengulas peristiwa G30S/PKI di lingkungan SMA Negeri 3 Pontianak, Minggu lalu. DESKA IRNANSYAFARA

Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menjadi cerita turun temurun. Peristiwa pahit itu terus dikenang setiap generasi bangsa. Selalu diingat dan tidak pernah dilupakan.

Deska Irnansyafara, Pontianak

eQuator.co.id – Generasi muda Indonesia tidak mau melupakan sejarah. Mereka tertarik mendalami cerita di zaman kakek dan neneknya kecil atau masih muda itu. Sehingga dapat memahami sejarah bangsa yang pahit. Rata-rata, tidak ada yang mau PKI eksis lagi.

“Jangan sampai ada komunis di Indonesia. Seperti kita ketahui, PKI sangat kejam,” kata Palupi Dwika Prameswari, siswi SMA Negeri 3 Pontianak dijumpai wartawan koran ini, Minggu lalu.

Menurut Palupi, PKI tidak senang dengan orang-orang yang tidak sependapat atas kehendak mereka. Golongan PKI kerap ‘membumi hanguskan’ siapa saja yang tidak mendukung pemikiran mereka.

“PKI kejam. Memberantas dan membunuh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka. Jadi kalau bisa, PKI jangan ada lagi selama-lamanya di negeri ini,” harap siswi Kelas XII itu.

Palupi berpendapat, komunis selalu merasa paling benar. Tentu sifat itu tidak cocok dengan kehidupan Indonesia yang berlandaskan demokrasi. “Peristiwa ini mesti dijadikan pelajaran oleh bangsa Indonesia. Supaya bersatu dan tidak berpisah-pisah lagi,” tegasnya.

Dia mengharapkan, pemerintah membasmi tuntas PKI di Indonesia. Termasuk bibit-bibitnya. “Kami sebagai generasi muda Indonesia tidak ingin PKI ada di negara ini,” tuturnya.

PKI juga tidak sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. “Sangat bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia,” timpalnya.

Sementara M Bahri Alfiansyah, siswa SMA Negeri 3 Pontianak lainnya berpandangan, PKI di zaman itu pandai berpolitik. Mereka menyesatkan pikiran masyarakat. “Sehingga membuat Presiden Soekarno dituduh sebagai pendukung,” ulasnya.

Bahri mengatakan, gara-gara G30S/PKI, banyak rakyat yang sebenarnya tidak bersalah jadi mati dibunuh. “Sewaktu zaman kejayaan PKI, yang beragama sulit beribadah,” ucapnya.

Siswa Kelas XII itu mengajak semua lapisan masyarakat Indonesia memahami sejarah itu. “Kita harus memaknai peristiwa itu. Agar persatuan dan kesatuan di Indonesia tak goyah,” serunya.

PKI dianggap sebagai golongan kiri. Sebab sering mengeluarkan perintah yang instan. “Misalnya mereka menjalankan rencana, pasti keras. Seperti G30S/PKI. Mereka sebelumnya ditentang oleh para jenderal. Tapi akhirnya tujuh jenderal itu dibunuh,” jelas Bahri. (bersambung)

Editor: Hamka Saptono