Fokus Vaksinasi, Bukan Eliminasi Anjing

70
ilustrasi.net

eQuator.co.id – Sintang-RK. Apabila memelihara anjing, masyarakat diimbau untuk segera melaporkannya ke Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sintang. Tenang saja, bukan untuk dibunuh (eliminasi), tetapi untuk diberi Vaksin Anti Rabies (VAR).

“Kita belum menjadikan eliminasi anjing sebagai kebijakan utama dalam menangani kasus rabies. Saat ini lebih pada vaksinasi anjing,” kata Jarot Winarno, Bupati Sintang ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/8).

Jarot mengungkapkan, kendati pemerintah belum mengutamakan eliminasi anjing, warga sudah melakukannya sejak 2015. “Tetapi kini, kesadaran masyarakat sudah tinggi untuk memvaksin anjingnya,” ujarnya.

Kendati belum mengutamakan eliminasi, bukan berarti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang berpangku tangan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Rabies ini. “Hari ini (Senin, red), saya mengumpulkan Camat untuk membahas penangan rabies,” kata Jarot.

Persoalan ketersediaan vaksin untuk manusia dalam penanganan rabies tersebut, tambah dia, juga menjadi salah satu topic pembahasan dalam pertemuan tersebut. “Memang vaksin untuk manusia itu kosong. Karena itu, kita terus berkoordinasi bagaima supaya kita memperoleh stoknya,” ujar Jarot.

Pemenuhan stok vaksin untuk manusia ini menjadi sangat penting dan mendesak, jelas Jarot, lantaran sudah diambil kebijakan, bahwa setiap korban yang digigit Hewan Penyebar Rabies (HPR) harus divaksin di unit kesehatan atau langsung ke Dinas Kesehatan Sintang. “Stok ada cuma jumlahnya sangat terbatas,” ungkapnya.
Seperti diketahui, berdasarkan data Dinas Kesehatan Sintang, sejak Januari hingga Juli 2016 sudah terjadi 179 gigitan anjing. Tiga korbannya menghembuskan napas terakhirnya. Kasus terbaru, pada Sabtu (30/1) di Sepauk. Kini korbannya sedang menjalani perawatan.

Terpisah,  Juru Bicara Fraksi Nasdem DPRD Sintang, Florensius Roni mendorong Pemkab Sintang segera menuntaskan kasus rabies ini. “Sehingga tidak menimbulkan banyak korban,” katanya.

Laporan: Achmad Munandar

Editor: Mordiadi