Ekonomi Melemah, Harga Sembako Relatif Stabil

Pasokan Telur dari Malaysia Normal

11
PANTAU TELUR MALAYSIA. Petugas di PLBN Entikong memantau masuknya telur ayam dari Malaysia, di Entikong, Sanggau, Rabu (23/5). Warga for Rakyat Kalbar
PANTAU TELUR MALAYSIA. Petugas di PLBN Entikong memantau masuknya telur ayam dari Malaysia, di Entikong, Sanggau, Rabu (23/5). Warga for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – TIMUR KALBAR-RK. Hingga memasuki hari ke-7 puasa, kenaikan harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar di Nanga Pinoh masih terbilang stabil. Meskipun ada sejumlah kebutuhan pokok seperti daging ayam yang mengalami kenaikan tidak signifikan.

Pedagang di Pasar Laja Nanga Pinoh, Joni mengungkapkan, hanya ada beberapa kebutuhan pokok saja yang mengalami kenaikan harga. Namun ada pula beberapa kebutuhan pokok yang mengalami penurunan harga.

“Yang naik itu harga bawang merah dan bawang putih. Untuk bawang merah satu karung ukuran 20 kilogram harganya Rp500 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp370 ribu. Sementara untuk harga bawang putih sudah naik menjadi Rp380 ribu per karung. Padahal sebelumnya hanya Rp280 ribu per karung,” ungkap Joni ditemui di Pasar Laja, Rabu (23/5).

Menurutnya, untuk kebutuhan pokok yang mengalami penurunan yakni cabai. Jika sebelumnya cabai merah atau cabai rawit mencapai Rp80 ribu per kilogram. Namun kini sudah turun menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara untuk cabai hijau sebelumnya Rp50 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp25 ribu per kilogram.

“Ekonomi saat inipun sedang lemah. Bayangkan saja dengan harga yang turun saja, tingkat pembelinya menurun,” keluhnya.

Berbeda dengan bawang dan cabai, harga daging sapi di pasaran Nanga Pinoh juga tidak bergerak atau masih dalam keadaan stabil. Seperti yang disampaikan Edi, seorang penjual daging sapi di Pasar Markasan Nanga Pinoh bahwa stok sapi masih cukup banyak dan harganya pun tak ada perubahan dari sebelumnya.

“Untuk daging lokal itu harganya tetap diangka Rp150 ribu per kilogram. Sementara untuk daging beku yang diambil dari Bulog harganya antara Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Menurutnya, harga yang stabil tersebut dipengaruhi karena permintaan konsumen yang kurang, sehingga stok yang ada tidak begitu berkurang. “Untuk permintaan sangat kurang. Ini karena ekonomi melemah. Bisa jadi karena harga karet yang murah dan bisa jadi karena APBD yang belum berjalan maksimal. Bayangkan saja dalam satu hari paling banyak lakunya hanya 5 kilogram saja,” tuturnya.

Di tempat yang sama, penjual daging ayam di Pasar Markasan, Ahmad Uton mengatakan, untuk harga daging ayam mengalami kenaikan sejak sebelum puasa. Kenaikan tersebut diakibatkan kenaikan harga pakan serta harga bibit ayam yang naik.

“Harga ayam sudah naik Rp45 ribu. Sebelumnya hanya Rp35 ribu per kilogram. Sehari hanya bisa laku rata-rata 40 kilogram. Kenaikan harga itu terjadi karena pengaruh dari harga pakan dan bibit yang naik. Pakan harganya per karung sudah Rp425 ribu dari harga sebelumnya Rp380 ribu hingga Rp400 ribu. Sementara untuk bibit dari harga Rp600 ribu per satu boks naik menjadi Rp1 juta per satu boks,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskukmdag) Melawi, Alexander mengatakan, besok Kamis (hari ini, red)) pihaknya akan melaksanakaan operasi terpadu yang bekerja sama dengan Dinkes, TNI dan Polri. Hal itu sebagai langkah antisipasi adanya kenaikan harga sekaligus memantau stok serta memantau peredaran makanan kedaluwarsa maupun makanan luar yang beredar tanpa ada label halal dan BPOM.

“Antisipasi ini kita lakukan jangan sampai ada kenaikan harga menjelang lebaran. Kita juga akan memberikan imbauan kepada distributor ataupun pengusaha daging ayam dan sapi untuk tidak menaikan harga,” tuturnya.

Di sisi lain, di kabupaten lain, selama pekan pertama Ramadan 1439 H, masuknya telur ayam ras dari Malaysia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, terpantau normal.

“Untuk telur ayam itu masih normal pemasukannya, belum ada peningkatan. Sekarang rata-rata perbulan itu sekitar lima ribu butir yang masuk, masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya,” kata Medik Veteriner Stasiun Karantina Pertanian Entikong, drh. Dwi Santosa, Rabu (23/5).

Dia memprediksi, peningkatan pemasukan telur ayam akan terjadi menjelang Idul Fitri nanti. Meski diperkirakan akan ada peningkatan volume pemasukan telur ayam, namun jumlahnya tidak banyak.

“Yang jelas kami memperketat pengawasan terhadap barang-barang yang didatangkan dari Malaysia, terutama yang terkait dengan produk pertanian dan hewan. Pemeriksaan lebih intensif lagi kita lakukan daripada hari-hari biasanya,” tegasnya.

 

Laporan: Dedi Irawan, Kiram Akbar

Editor: Andriy Soe