Efek Samping Intensnya Hujan, Buaya Nongol?

Bencana Banjir Terus Mengintai di Pantai Utara Kalbar, Pengungsi Banjir Sambas dan Singkawang Mengharap Bantuan

2304
NONGOL. Inilah buaya berukuran besar yang dikabarkan muncul ke permukaan air beberapa waktu lalu di pintu Area 06 Pelabuhan Dwikora Pontianak. Warga Pontianak for Rakyat Kalbar.

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Hujan yang mengguyur setiap hari di Pontianak sepertinya membawa bahaya lain. Dikabarkan buaya berukuran besar nongol di Sungai Kapuas, sekitar pintu 06 Pelabuhan Dwikora Pontianak, sekitar ujung Geretak I, Pontianak Kota.

Konon, buaya itu menampakkan dirinya di samping kapal yang bersandar di pelabuhan. Warnanya hitam pekat dan berenang menuju pinggir Sungai Kapuas. Kemunculannya sempat diabadikan warga setempat.

Masyarakat yang tinggal di pinggir sungai pun meminta aparat terkait memeriksa informasi tersebut. “Jika ini benar, bisa bahaya,” tutur seorang warga Pontianak, Edi, kepada Rakyat Kalbar, belum lama ini.

Sambung dia, “Banyak aktivitas di sungai saat ini, jadi bahaya jika tidak dicek,” terangnya.

Kata Edi, ia mendapatkan informasi dan foto buaya itu dari seorang temannya yang bekerja di Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi. Saat itu, Si Petugas berada di dekat Dwikora melakukan patroli.

Rakyat Kalbar kemudian menghubungi Si Petugas Dishun yang enggan namanya disebut. “Yang melihat persis dan mengambil fotonya adalah pekerja pelabuhan di pintu 06. Cek saja, banyak yang tahu info tentang buaya tersebut,” tuturnya.

Ditambahkannya, waktu itu dia sedang patrol. Dan kemudian mendapatkan info ada buaya menampakkan diri di tepian dermaga dari anggota polisi yang bertugas di Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan Laut (KP3L) Pontianak.

“Coba cek saja dulu ke pelabuhan dan KP3L-nya,” terangnya.

Kapolsek KP3L Pontianak, AKP Raden Real Mahendra yang dikonfirmasi menyatakan, informasi munculnya buaya sudah sampai kepada pihaknya. “Anggota yang piket tak ada melihat itu (buaya),” jelasnya.

Namun, jika dilihat dari foto tersebut, ia melanjutkan, gambar diambil dari orang yang ada atau berdiri di dermaga. “Saya belum berani memastikan benar atau tidaknya buaya berukuran besar itu muncul,” pungkas Real.

BANJIR DI PANTAI UTARA MELUAS

Sementara itu, hujan deras beberapa hari terakhir membawa petaka di Bengkayang. Beberapa rumah warga tergenang banjir dan terpaksa mengungsi.

Peristiwa itu terjadi Jumat (2/12) sekitar pukul 12.00 di Dusun Segedong, Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Bengkayang. Warga setempat diungsikan ke tempat yang disiapkan Pemerintah Desa Sungai Duri di SDN 01 Sungai Duri.
Total masyarakat yang mengungsi ke sana untuk sementara ini tercatat 9 Kepala Keluarga, 12 Jiwa. Semuanya wanita, terdiri dari seorang Lansia dan 8 anak-anak.

Kepala Desa Sungai Duri, Rezza Praba Herlambang menyatakan, lebih kurang 350 KK masih belum mau mengungsi. Mereka tinggal di Dusun Segedong, Sungai Belanga, Dusun Sumbawa I, dan Dusun Sumbawa II.

“Alasan belum mau mengungsi karena menunggu sampai sore hari, berharap air surut,” tuturnya.

Kapolres Bengkayang, AKBP Bambang Irawan, melalui Kabag Ops Kompol Paino, SE, menyatakan telah mendapat kabar banjir itu. “Kami segera meluncur di TKP dan lakukan pengamanan serta mengungsikan Warga. Banjir terjadi mulai Kamis (1/12) pukul 17.00,” tuturnya.

Imbuh dia, “Waktu itu, saya bersama Kasat Shabara Polres Bengkayang AKP Ruly Rusli  beserta dua pegawai BPBD Bengkayang, Timon Wen dan Arkadius Didin”.
Lanjut Paino, mereka mengecek lokasi rawan banjir dan TKP tenggelamnya siswa SDN 12 Sungai Duri. “Mungkin siswa itu terjatuh di sungai depan SDN 12 Sungai Duri. Karena saat dicek, posisi jembatan cukup tinggi,” ungkapnya.

Kepala Pelaksana BPBD Bengkayang Ir.Yosef, M.Si mengatakan, telah mengambil langkah untuk mengatasi banjir ini. “Personil BPBD sudah turun memberikan bantuan penanganan banjir langsung,” singkat dia.

Banjir Rendam Padi dan Lada warga

Di kabupaten tetangga Bengkayang, tepatnya Dusun Semayong, Desa Sungai Kumpai, Teluk Keramat, Sambas, hingga saat ini masih terendam banjir. Sejumlah tanaman padi dan lada masyarakat menjadi rusak.

Salah seorang warga Semayong, Jepriadi mengatakan, cukup besar kerugian dialami mayarakat disebabkan perkebunan lada yang rusak.

“Sebagian besar penduduk di Desa Kumpai Dusun Semayong sebagai petani padi. Diperkirakan mencapai puluhan hektar yang terendam banjir tersebut,” tuturnya, kemarin.

Banjir kali ini, lanjut dia, juga kembali merendam sejumlah rumah warga dan fasilitas umum seperti sekolah, mesjid dan Puskesmas pembantu. “Untuk hewan peliharaan, sapi yang sulit, karena besar. Untuk menyelamatkan hewan tersebut peternak  sampai membuat panggauan (meninggikan lantai kandang sapi),” beber Jepriadi.

Selama banjir yang terjadi hingga hari ketiga di Semayong, belum ada bantuan dari pemerintah. Warga pun tetap bertahan di rumah masing-masing.

“Meski hingga saat ini masih belum ada yang jatuh sakit,  namun perlu antisipasi oleh pemerintah, terutama terhadap anak-anak agar tidak terserang penyakit,” tutupnya.

Di kawasan pantai utara lainnya, korban banjir yang mengungsi di Posko Pengungsian Kantor Lurah Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, belum dijenguk Pemkot Singkawang.

Menurut Ketua Tagana Singkawang, Zulfian Agus, Jumat (2/12), keinginan korban banjir adalah ketersediaan air bersih.

“Guna memenuhi kebutuhan itu, kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 150 ribu. Karena Pemkot Singkawang tidak ada menyalurkan bantuan, mau tidak mau kita yang harus keluarkan uang,” tuturnya.

Ia menyatakan, persediaan air bersih semakin menipis. “Apakah kita harus membeli lagi? Kita berharap Pemkot Singkawang mengeluarkan waktunya sedikit untuk menjenguk korban banjir di posko pengungsian,” terang Agus.

Imbuh dia, “Mereka inikan rakyat yang memerlukan perhatian pemerintah. Jadi luangkan lah waktu sedikit untuk memantau mereka”.

Jumlah korban banjir yang dievakuasi Tagana Singkawang mencapai 70 jiwa. Terdiri dari laki-laki dewasa sebanyak 17 orang, perempuan dewasa sebanyak 22 orang, anak laki-laki 18 orang, dan anak perempuan 13 orang.

“Ini kita evakuasi pada Kamis sore kemarin, semuanya merupakan korban banjir yang berada di bantaran sungai Kompleks Pasar Baru Singkawang,” ungkap Agus.

Meskipun ketinggian air sudah tidak terlalu tinggi, namun jika hujan kembali mengguyur, ia khawatir banjir besar terjadi lagi.

“Kita lihat sampai tiga atau empat hari ke depan. Apabila kondisi banjir sudah surut, maka akan kita pulangkan ke rumahnya masing-masing,” pungkasnya

 

Laporan: Achmad Mundzirin, Kurnadi, Sairi, Suhendra

Editor: Mohamad iQbaL