Drift Trike, Kendaraan Unik Karya Anggota TNI

Sekadar Mengisi Waktu Kosong Kala Bebas Tugas

43
NGEDRIFTING. Para anggota TNI menyusuri Jalan Ahmad Yani Pontianak dengan mengendarai Drift Trike, Minggu (11/3). Suci Nurdini Setiowati-RK
NGEDRIFTING. Para anggota TNI menyusuri Jalan Ahmad Yani Pontianak dengan mengendarai Drift Trike, Minggu (11/3). Suci Nurdini Setiowati-RK

Tampaknya hanya biasa saja sekolompok pria bertubuh besar tinggi dan gagah berkumpul bersama di lokasi Car Free Day (CFD) Jalan Ahmad Yani Pontianak, Minggu (11/3). Tapi ada yang baru dan jarang terlihat di Kota Pontianak. Mereka menggunakan Drift Trike.

SUCI NURDINI SETIOWATI, Pontianak

eQuator.co.id – Pengendara Drift Trike ini ternyata semuanya merupakan anggota TNI. Kehadiran mereka dengan alat transportasi unik itu pun mencuri perhatian pengunjung CFD lainnya. Banyak warga penasaran dan bertanya, apa sebenarnya yang mereka tunggangi tersebut.

Sekelompok pemain Drift Trike ini pun dengan ramah menjawab pertanyaan warga. Beberapa kali mereka menunjukkan aksi drifting kepada para pengunjung yang sedang berkunjung di lokasi CFD. Dan memang, khusus setiap hari Minggu mereka konvoi menggunakan di Drift Trike menyusuri Kota Pontianak.

Beda dengan Drift Trike yang ada di kota-kota lain di Indonesia. Komunitas Drift Trike Pontianak ini menggunakan mesin sebagai tenaga penggerak. Bukan dengan cara menuruni jalanan yang tinggi.

Kehadiran mereka di Kota Pontianak ini berawal dari salah satu anggota yang hobi otomotif dan menonton video Drift Trike di internet. Bermaksud sekadar membuang kebosanan saat tidak bertugas, mereka malah serius ingin membuat Drift Trike sendiri.

“Awalnya gini, kan ada teman yang iseng-iseng nonton video di YouTube, eh tiba-tiba ada lihat Drift Trike. Terus nampaknya asyik ini kalau dibuat. Terus bilang sama teman-teman yang lain, ya udah kebuat benar-benar,” tutur Ahmad Rifki, salah seorang pemilik Drift Trike.

Untuk membuat satu unit Drift Trike, mereka harus mengeluarkan dana sekitar Rp8 juta. Proses pengerjaannya memerlukan waktu sekitar 2 minggu. Dalam merangkai dan memodifikasi sendiri Drift Trike ini, para anggota TNI ini tidak kesulitan. Hanya saja kendalanya, beberapa onderdil tidak ada dijual di Kota Pontianak.

“Kita semuanya ngerakit sendiri, ada barang-barang yang beli di sini (Kota Pontianak, red) dan ada juga yang beli online seperti ban, kapas kopling dan velg,” ujarnya. Awalnya mereka menggunakan ban gerobak sorong yang agak besar. Namun tidak bisa ngedrift alias ngepot. Sehingga tidak asyik. “Terus di bannya kita kasi paralon, biar  ngedriftnya lebih kuat lagi,” jelas Rifki.

Komunitas ini bahkan memiliki bengkel dan garasi sendiri di Bekangdam XII/Tpr di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kubu Raya. “Di sana alat-alatnya lengkap. Mulai alat ngelas besi, potong-potong dan ngerakit. Saya kalau buatnya tergantung request dari mereka mau kaya gimana, ya saya buat,” jelas M. Yusuf, salah seorang anggota TNI yang merupakan mekanik dari pembuatan Drift Trike ini.

Drift Trike karya prajurit Kodam XII Tanjungpura ini berbahan bakar bensin dan menggunakan mesin Alkon. Kecepatan melajunya maksimum 60 km/jam.

Sedangkan untuk cara penggunaan Drift Trike cukup mudah, seperti motor matic. Sementara untuk perawatan hanya dengan mengganti oli dan pipa pelapis ban.

Salah seorang perwira TNI dari markas Bekangdam XII/Tpr, Prio Utomo mengaku mendukung hobi bawahannya ini. Selain menyalurkan hobi, Drift Trike dapat menjadi pengikat tali silaturahmi antar-sesama anggota. Hanya saja, dia mengingatkan, karena Drift Trike bukan merupakan alat transportasi resmi, ia menghimbau anggotanya untuk tetap menjaga keamanan dalam berlalu lintas. “Mendukung, intinya safety seperti ini. Karena kita jugakan berhubungan dengan penggunaan jalan lainnya,” lugasnya.

Prio juga berharap agar para pecinta otomotif dan kendaraan unik lainnya dapat memiliki fasilitas sendiri agar tidak menggangu pengguna jalan dalam menyalurkan bakat dan hobinya.

“Hal ini juga bisa dijadikan ajang promosi pemerintah daerah. Siapa tahu melihat seperti ini mau dibuatkan sirkuitnya. Apalagi sekarang banyak muncul balapan liar, kan malah berbahaya,” pungkas Prio. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi