Dihalangi Menikah Kajot Khawatir Putri Bunuh Diri

Mengaku Normal di Ranjang, Sehari 3 Kali

6379
SELFIE. Martinus Kajot dan Putri Lasiando. KURNADI

Bengkayang-RK. Dituding tidak pantas Ketua DPRD Bengkayang membawa anak gadis orang ke hotel dan memajang foto berduaan di Facebook, Martinus Kajot, 43, ternyata biasa-biasa saja.

Dia malah menyesalkan keluarga Putri Lasiando, 26, begitu terburu-buru tak koordinasi melapor ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Bengkayang.

“Apa yang terjadi antara saya dan Putri sejak bertemu awal Januari 2016 sudah saling tertarik. Putri juga memiliki perasaan yang sama,” ungkap Kajot kepada Rakyat Kalbar, Jumat (11/3).

Kenyataan bahwa pihak keluarga Putri menolak diperistri berusaha memisahkan mereka, Kajot juga menyayangkannya. “Saya malah khawatir kalau tidak kawin dengan saya, Putri akan bunuh diri. Sehingga saya juga merasa terbebani dengan pernyataan Putri itu,” ungkap Kajot via selulernya sebelum memimpin rapat di Gedung Dewan.

Ditanya bukankah sudah menikahi 11 perempuan namun masih mengejar Putri, Kajot pun menjelaskan status pernikahannya itu. Kesebelas istrinya sudah meninggalkannya, bahkan ada yang baru dinikahi tiga bulan lantas ke Malaysia menjadi TKI.

“Masalah sebelas mantan istri saya semuanya sudah saya ceritakan kepada Putri. Termasuk enam anak saya dan Putri siap mengurusnya jika jadi istri saya. Makanya saya memilih PL dan nekat akan menikahinya. Karena saya anggap Putri adalah wanita yang cocok buat saya dan juga anak anak,” ungkap Kajot dengan nada bersemangat.

Dijelaskannya dengan gamblang, 11 istrinya sudah cerai dengan baik-baik. Dan enam anak menjadi tanggung jawabnya. Karena sudah resmi bercerai itulah Kajot mengaku berani melamar Putri untuk menjadi istri pendamping hidupnya.

“Jika keluarga Putri mau mengurus kami secara baik, saya bertanggung jawab penuh atas semua permasalahan. Saya segera mengurus pernikahan dengan Putri karena kami berdua sebenarnya sudah menyiapkan cincin tunangan,” ujar Kajot.

Menikah Adat

Walaupun Rakyat Kalbar belum berhasil mengonfirmasi para bekas istri Kajot,

Ketua DPRD Bengkayang ini mengaku tidak ada masalah yang mengganggu antara dirinya dengan mereka.

“Tidak ada permasalahan yang serius dengan para mantan istri saya. Namun, entah kenapa mereka pergi begitu saja. Karena mereka pergi tidak mungkin saya terus menunggu tanpa kepastian, dan terpaksa saya menikah lagi,” itu alas an yang dikemukakan Kajot mengapa pernikahannya tidak kekal.

“Jika selama ini ada anggapan saya selalu suka cerai dan menikah itu, itu karena mantan istri yang pergi bukan karena saya ceraikan. Contoh terbaru, kami nikah awal Agustus 2015 dan Oktober 2015 istri ke 11 saya justru pergi kerja ke Malaysia. Padahal sudah dibuatkan rumah serta usaha di kampungnya, tetap juga pergi. Tidak mungkin saya terus menduda menunggu istri yang kerja di Malaysia, ya mau tidak mau saya harus bercerai karena sudah tidak cocok lagi.” Terang Kajot.

Setelah bercerai pun hubungan dengan mantan istri diakuinya baik-baik saja. Tak ada masalah pribadi dan anak-anak setiap bulan dibiayainya. “Kadang juga jika mantan istri datang saya tetap membantu keperluannya,” ujarnya.

Martinus Kajot adalah pemeluk Katolik. Namun demikian dia tidak menikahi ke 11 istrinya di gereja. “Saya menikah secara adat di kampung dan belum pernah dicatat di Kantor Catatan Sipil, jadi tidak ada surat nikah selembar pun,” jelasnya.

Sehari Bisa 3 Kali

Rajutan cinta Martinus Kajot dengan Putri Lasiando memang bukan seperti Romeo dan Juliet. Diawali ketika acara Open House Ketua DPRD Bengkayang pada Perayaan Natal 2015.

“Karena tertarik, saya minta nomor hanpdhone-nya kemudian komunikasi kami pun berlanjut. Hingga suatu ketika diundang ke rumah Putri acara kumpul bersama rekan kerjanya saya hadir,” ungkapnya.

Pada kunjungannya itu, Kajot mengatakan nanti akan melamar Putri. Ternyata Orangtua Putri menyarankan agar hubungan tidak dilanjutka. Tapi, Kajot mengaku kalau Putri terus dan sering menghubunginya. “Bahkan sering ketemu di berbagai tempat dan Putri juga sering ke rumah saya,” jelasnya.

Rentang Januari- Februari 2016, keduanya sering ketemu. Malah keduanya sempat mencari rumah di Pontianak untuk tempat tinggal dan juga membeli sebuah mobil yang digunakan PL.

“Itu semua saya lakukan karena Putri akan saya jadikan istri, bukan untuk sekedar main main. Putri sendiri juga sudah panggil saya suami dan kami saling mencintai,” beber Kajot, “Saya berharap pihak keluarga Putri bisa menerima keberadaan kami, karena saling mencintai dan kami suka sama suka.”

Kajot mengaku sudah lelah kawin dan cerai lagi dan itu membuang waktu dan pikiran serta mengganggu pekerjaan serta statusnya sebagai Ketua DPRD.

“Saya butuh pendamping hidup yang bisa memahami tugas dan pekerjaan saya. Sebelumnya, 11 mantan istri tidak bisa menjadi pendamping sebagaimana layaknya. Termasuk ketika tamu datang terkadang justru istri sembunyi di kamar. Apalagi ada tamu perempuan, tidak mau keluar. Coba perhatikan selama ini, adakah istri mendampingi pada setiap kegiatan? Tidak ada kan,” keluhnya.

“Nah, dengan dasar itu juga saya menilai Putri adalah wanita yang sangat cocok buat saya, dan yang penting kami saling mencintai,” tegas Kajot.

Ditanya selama ini kawin cerai apakah itu karena kebutuhan biologis Kajot tinggi dan gemar olah seks? Dengan tegas anggapan atau rumor selama ini ditepisnya.

“Saya tidak hyper sex, normal biasa saja. Sehari saat bersama bisa antara satu sampai tiga kali. Karena kan kami jarang berkumpul tiap hari,” ungkap Kajot polos.

Lebih jujur lagi dia mengaku kalau semua bekas istrinya memuaskan di ranjang. Tapi dia sendiri heran, mengapa pernikahan mereka tidak bisa berlangsung lama alias kekal. Umumnya para istri itu akhirnya memilih angkat kaki kerja ke Malaysia.

“Apalagi, mereka mantan istri saya itu usianya rata-rata 20-21 tahun. Sedangkan Putri kini 26 tahun dan cukup dewasa dan matang mendampingi saya, memelihara anak-anak saya,” ujar Kajot.

Sebagai taruhan cintanya, Martinus Kajot siap dihukum keluarga Putri Lasiando. “Siap dihukum sesuai perbuatan saya dan bersedia memenuhi semua tuntutan sesuai adat istiadat yang berlaku,” pungkas Martinus Kajot.

Laporan: Adi Kurnadi

Editor: Hamka Saptono