Digigit saat Mandi, Suwandi Balik Mengejar dengan Tombak

Warga Mempawah Resah, Sudah Banyak Diserang Buaya

198
DIGIGIT BUAYA. Dibantu keluarga, Suwandi mengobati betisnya yang disambar buaya dengan obat tradisional di Jalan Boyan, Desa Sejegi, Mempawah Timur, Selasa (9/1). Ari Sandy-RK

Warga Kabupaten Mempawah kembali dihebohkan buaya yang berhabitat di aliran sungai Mempawah. Hewan reptil tersebut lagi-lagi menyerang warga yang sedang mandi di sungai.

Ari Sandy, Mempawah

Untuk kesekian kalinya buaya mengusik ketentraman warga. Terutama terhadap warga yang bermukim di pinggiran aliran sungai Mempawah. Teranyar, hewan reptil ini menyerang Suwandi (29), warga Jalan Boyan, Desa Sejegi, Mempawah Timur, Selasa (9/1).

Kejadian bermula ketika Suwandi pulang dari bekerja sebagai petugas Dinas Kebersihan Mempawah sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu dia hendak mandi membersihkan badan di geretak belakang rumahnya  di aliran sungai Mempawah. “Sepulang kerja tadi, saya mandi di tepi sungai belakang rumah saya,” ujar Suwandi kepada Rakyat Kalbar, selang setengah jam setelah diterkam buaya.

Sebelum menuruni anak tangga di pinggiran sungai, Suwandi terlebih dahulu menyenter pinggiran dan aliran sungai. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada apa-apa di sekitar sungai tersebut. “Saya mandi seperti biasa di pinggir sungai dengan menggunakan gayung hingga usai mandi,” terangnya sembari mengusapi luka robek betisnya dengan obat.

Setelah hendak naik ke rumah, secara tiba-tiba dari dalam sungai seekor buaya menyambar betis kiri Suwandi. Induk buaya sepanjang sekira tiga meter itu berusaha membawa Suwandi ke aliran sungai. Pada saat betisnya digigit dan buaya berupaya melemparkan dirinya ke sungai, Suwandi meronta seraya berteriak meminta tolong kepada keluarga di dalam rumah yang pada saat itu sedang tertidur pulas. “Saya panik dan langsung berteriak minta tolong orang rumah saya, pada saat itu pula buaya itu lari menyeberangi sungai,” tuturnya sembari mengeluh ngilu di kaki akibat sambaran buaya tersebut.

Kejadian yang berlangsung singkat itu ternyata membuat Suwandi geram. Bukannya langsung mengobati robek kakinya, dia melampiaskan kekesalan dengan mengejar buaya tersebut. Menggunakan sampan dan berbekal sebuah tombak, ia berupaya mengejar buaya tersebut ke seberang sungai.

Perburuan Suwandi tidak sia-sia. Dia sempat mengetahui keberadaan buaya tersebut. Karena malam hari kata dia, ketika disenter mata buaya itu seperti mata kucing. Ia pun menghampiri buaya itu. Kira-kira berjarak dua meter, Suwandi menombak buaya tersebut. “Tapi tidak kena, buaya itu langsung lari dan hilang,” ucapnya dengan nada kesal.

Akibat gigitan buaya itu, Suwandi mengalami 8 luka robek di betis kiri sepanjang 3 meter dengan diameter 80 cm tersebut. “Di sini memang banyak buaya, tapi buaya yang besar itu sering menyerang warga setempat, ini bukan kali pertama,” demikian Suwandi.

Sementara Hajani (37), adik ipar Suwandi mengungkapkan, buaya-buaya yang ada di sungai Mempawah tidak hanya menyerang kakaknya. Sebelumnya, sudah banyak warga lainnya yang juga digigit buaya liar tersebut. Bahkan Mat Daud, abang Suwandi sudah dua kali disambar buaya saat mandi. “Pernah juga perempuan dua kali dan ada anak orang Cina satu kali, dengan nasib yang sama digigit buaya,” ungkapnya.

Banyaknya korban gigitan buaya tersebut, dirinya mendesak pemerintah terkait mengambil tindakan. Supaya buaya-buaya segera ditangkap dan dimasukan ke dalam penangkaran. “Harus ada langkah pemerintah untuk mengambil tindakan, ini bukan pertama kali, kami sangat khawatir bisa memakan korban jiwa jika dibiarkan terus menerus,” lugasnya berharap.

Hajani khawatir, kalau dibiarkan lama-lama bisa semakin berbahaya. Jika masyarakat sudah turun memburu buaya, pasti dibunuh. “Jadi kita berharap BKSDA yang mengambil buaya tersebut, karena sudah mengusik kehidupan kami,” pungkasnya geram.

Kekhawatiran juga disampaikan Masrina (29), tetangga Suwandi. Sebagai ibu tentu saja dirinya bimbang, sebab belakang rumahnya bersinggungan langsung dengan sungai. “Saya takut, karena anak saya sudah lima, saya khawatir anak-anak kami disambar sewaktu main dekat sungai,” keluhnya.

Senada disampaikan Masrina, juga berharap pemerintah mengambil langkah cepat. Jangan sampai buaya-buaya itu memangsa manusia.

“Sebelumnya buaya itu pernah naik di dapur rumah kami, dan sering memakan itik peliharaan warga. Kami takut buaya tersebut kemudian hari memangsa anak kami,” sebutnya. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi