Derap Bocah-bocah Barista Indonesia

23
Queenza Almira Omarxavi

eQuator.co.id – Menikmati segelas kopi spesial makin membudaya. Belajar menjadi penyeduh kopi yang baik menjadi tren. Bahkan, barista-barista cilik hebat kini bermunculan.

 

Jemari mungil Almira tampak luwes dengan ketel, pour over, server, dan timbangan di depannya. Rabu (27/9), dia unjuk gigi bagaimana menyeduh kopi. Kopi lintong, kopi dari Sumatera Utara, dengan karakter fruity coba ditaklukkannya.

”Ayah, mana timer-nya,” teriaknya ketika akan mulai mengucurkan air panas dari ketel.

Memang, untuk memaksimalkan karakter kopi, harus diperhatikan waktu menyeduh, suhu air, dan tekniknya. Si lintong diseduh dengan teknik milik Tetsu Kasuya, juara World Brewers Cup 2016. Namanya metode the four-six brew.

Dengan metode itu, karakter kopi lintong keluar. Kali pertama menuang kopi, Almira menggunakan 40 persen air di ketelnya. Itu pun dibagi dua, yakni 25 gram di tuangan pertama dan 35 gram pada tuangan kedua. Tujuannya menciptakan keseimbangan asam dan manis dari kopi lintong.

Selanjutnya, 60 persen air di ketel dituang perlahan. Tuangan terakhir itu dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan kopinya. Setelah air dalam V60 –pour over yang digunakan Almira– habis, dia menggoyangkan server yang berbentuk seperti teko. Selanjutnya, dia baru menuangkan kopi dari server ke gelas. Almira menyiapkan dua gelas. Satu untuk Jawa Pos, satu lagi untuk sang ayah.

Ketika membuat kopi, Almira seperti bocah yang sedang bermain masak-masakan. Tak ada beban. Tuang.. tuang.. tuang.. yang penting sesuai aturan. Almira berbisik kepada ayahnya, Fajar Irawan.

”Katanya kurang pas. Masih bitter (pahit, Red),” ujar Fajar menirukan ucapan anak pertamanya. Padahal, kopi bikinan Almira cukup enak. Tidak ada rasa yang mengganggu di mulut.

Demo menyeduh kopi itu sudah biasa dilakukan Almira. Setahun lalu Almira tak sengaja tercebur dalam keasyikan menyeduh kopi. Gara-garanya, sang ayah membuka kedai kopi. Bukan karena dipaksa. Tapi, karena bocah kelas II SD Bukti Duri 05 Pagi, Jakarta, itu sering melihat ayahnya berkutat dengan peralatan-peralatan kopi.

Ketika ingin mengikuti aktivitas rutin sang ayah, Almira minta diajari tahap-tahap penyeduhan kopi yang baik. Mulai menggiling biji kopi, menyiapkan air panas, menyiapkan peralatan untuk menyeduh, hingga teknik menyeduh.

Menurut Fajar, anaknya cukup cepat dalam memahami hal itu. Meskipun, Almira kini belum bisa menjelaskan kenapa harus menjalani tahapan tersebut.

”Namun, dia sudah bisa merasakan kalau kopinya ini sesuai atau tidak,” jelas Fajar.

Almira juga beberapa kali dibawa ke kebun kopi. Tujuannya mengetahui proses hulu tentang perkopian.

”Untuk sekadar menunjukkan kopi yang dipanen itu bagaimana. Untuk menunjukkan kopi itu ada yang masih hijau dan kalau sudah layak dipetik, warnanya merah,” terang suami Sisti Rahayu itu. Menurut dia, kegiatan tersebut dibuat santai. Seperti sedang rekreasi.

Ketika mulai memahami teknik penyeduhan, Almira sering ikut membantu ayahnya di kedai. ”Tapi, kalau lagi ramai, tidak boleh ikut (menyeduh),” ucapnya. Peraturan lainnya, kalau mau ke kedai, Almira harus tidur siang dahulu.

Setelah punya kemampuan menyeduh kopi dengan peranti manual, kini Almira mulai belajar membuat latte art. Urusan yang satu itu tentu bukan hal yang mudah untuk anak seusia Almira. Orang dewasa saja membutuhkan latihan berpuluh-puluh kali untuk bisa menghasilkan gambar di atas crema kopi.

”Pernah ikut lomba latte art. Lawannya orang gede. Aku masuk finalis, padahal cuma gambar love,” tutur bocah yang ingin memiliki kedai kopi sendiri itu. (Jawa Pos/JPG)