Dari Ferry, Penampakan Batam dengan Negeri “Singa” Sungguh Beda

Tim Kaltim Post Group Road to Singapura

44
NEGARA TETANGGA YANG LEBIH MAJU. Singapura dilihat dari ferry. Radar Sampit Photo

Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau. Ungkapan itu layak menggambarkan perbedaan antara Singapura dan Batam. Negara itu jauh lebih maju.

DESI WULANDARI, Sampit

eQuator.co.id – Gedung-gedung yang menjulang tinggi di tepi bibir pantai, sudah menghiasi pemandangan saat kapal feri yang ditumpangi penulis memasuki kawasan Singapura. Penulis mendapat kesempatan menjelajahi negeri tetangga itu selama empat hari.

Sebanyak 12 rombongan dari berbagai media di bawah naungan Kaltim Post Group (Jawa Pos Group), bertolak pada Jumat (13/10). Dipimpin langsung Komisaris Utama KPG Zainal Muttaqin, perjalanan tersebut merupakan hadiah atas pelatihan yang dilaksanakan di Indopos (grup Jawa Pos di Jakarta) beberapa waktu lalu.

Rombongan terdiri dari Direktur Utama Balikpapan Televisi (BTv) Sugito, Direktur BTv Wiji Wijanarko, Direktur Utama Samarinda Tv Henny, Zainal Abiddin (Kaltim Post), General Manager Batam Post Guntur Marchista Sunan, Rio Taufiq Adam (Berau Post), Muakbar (Kaltara Post), Ibrahim (Kaltim Post), Zaki Demon Daton (Samarinda Post), Yunizar Prajamufti (Kalteng Pos), dan penulis.

Titik kumpul rombongan direncanakan di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batam, perjalanan dari Sampit menuju Batam harus transit terlebih dahulu di Surabaya. Penerbangan sempat terlambat hampir satu jam. Penulis dan Yunizar berangkat bersama Pak Zam—sapaan akrab Zainal Muttaqin—dari Surabaya menuju Batam.

Saat tiba di Batam Centre, pelabuhan kapal feri, rombongan dari Balikpapan sudah menunggu kedatangan kami bertiga. Setelah bertukar uang rupiah ke Dollar Singapura, dan memesan makanan, rombongan langsung bergegas menuju kapal feri. Rombongan memilih jam keberangkatan paling cepat, sebagai antisipasi jika ada kendala di kantor imigrasi Singapura.

Penulis yang memilih duduk di bagian depan samping kiri kapal agar dekat dengan jendela, membuat rasa lelah di pesawat hilang disapu deburan ombak. Besarnya ombak membuat kapal feri yang kami tumpangi terhempas beberapa kali.

Pemandangan di samping jendala kanan dan kiri membuat takjub. Di kiri, masih terhampar luas pinggiran Pulau Batam dengan pohon dan bukit kecil. Sebaliknya, di kanan, pinggiran Singapura sudah terlihat.

Gedung-gedung tinggi pencakar langit berdiri kokoh menyerupai susunan lego yang rapi. Terbesit di benak penulis, inilah perbedaan nyata antara Batam dan negeri tetangga. Mentari sore begitu terik menembus jendala kaca di sebelah kiri hingga ke bagian muka.

Tidak ada salahnya melihat negeri orang. Paling tidak untuk perbandingan bagaimana mereka menata dan membangun kota agar menjadi lebih nyaman dan menirunya di negeri sendiri.

Setelah feri bersandar, langsung bergegas turun untuk menuju pemeriksaan imigrasi Singapura. Dari masuk kawasan pelabuhan juga sudah terlihat benyak pengawasan Closed Circuit Television (CCTV). Seorang teman pernah bercerita, Singapura negara yang tertib. Setiap gerak-gerik diawasi. Bahkan, di areal pelabuhan tidak diperbolehkan memotret.

Saat antre ke pemeriksaan Imigrasi, setiap orang diberi pertanyaan berbeda. Namun, rata-rata ditanya tempat tinggal selama di Singapura, lama perjalanan, tujuan, dan pulang. Pertanyaan itu diajukan menggunakan bahasa Melayu campur Inggris.

Dari 12 rombongan, ada dua orang yang ditahan petugas Imigrasi dan harus dilakukan pemeriksaan lanjutan. Saat menuju Mass Rapid Transit (MRT) yang terkoneksi dengan pelabuhan, rombongan sudah disuguhkan pertokoan modern.

Rombongan kemudian mengikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke stasiun MRT. Saat tiba di tempat pembelian tiket elektrik, Pak Zam sepat berhenti di petunjuk arah stasiun kereta bawah tanah.

Satu kali perjalanan MRT harus membayar sekitar 1,5 Dollar Singapura, sekitar Rp 15 ribu. Kereta bawah tanah milik Singapura kecepatannya di atas rata-rata commuter line di Jakarta. Tak sampai sepuluh menit kami tiba di stasiun Somerset.

Perlu waktu sekitar lima belas menit perjalanan kaki dari stasiun menuju Hotel Supreme di kawasan Jalan 15 Kramat Orchad Road Singapura, tempat rombongan menginap.

Selama perjalanan, penulis berdecak kagum dengan tata kota negara itu. Menyusuri pinggir emperan toko modern, terlihat jelas jalanan dengan kendaraan yang teratur. Pejalanan kaki nyaman melangkah, karena negeri itu memang menghargai pejalan kaki, sehingga dibuat fasilitas pejalan kaki yang begitu enaknya tanpa harus berjejal sesak dan terganggu rombong pedagang kaki lima (PKL), yang sering dijumpai di Indonesia.

Singapura seolah menjadi surga bagi pejalan kaki. Saat menyebrang jalan, pejalan kaki diberikan ruang dan waktu sendiri, sehingga pengendara mobil harus mendahulukan penjalan kaki jika memang waktunya menyeberang. Begitu teraturnya.

Di jalan, hampir tidak terlihat sepeda motor dan atau tak terdengar mobil yang menyalakan klakson untuk mendahului. Mereka begitu tertib dan rapi.

Sambil berjalan menuju hotel, Pak Zam memberitahukan tempat warung makan muslim yang nantinya menjadi tempat kami makan. Warung makan India masakannya mirip dengan masakan padang dengan aneka lauk.

Saat melintas, kami langsung di tawari makan, namun memutuskan untuk ke hotel terlebih dahulu untuk meletakkan tas dan beistirhat sejanak. (jpg/Radar Sampit)