Dari Bekerja Serabutan, Warga Trans Bisa Miliki Aset Miliaran

Mengunjungi Kawasan Transmigrasi Tertua di Kalteng

167
MENYADAP. Salah seorang warga eks Transmigrasi Sibung, Kecamatan Raren Batuah, Kabupaten Barito Timur (Bartim), sedang menoreh karet miliknya, belum lama ini. Usaha keras dan tak kenal kata gengsi membuat warga trans bisa berhasil. Maturidi-Kalteng Pos

Dalam lawatan ke daerah transmigrasi tertua di Kalteng, wartawan Kalteng Pos (Jawa Pos Group) bertemu dengan warga yang cukup berpengaruh asal eks Transmigrasi Sibung, Kecamatan Raren Batuah, Kabupaten Barito Timur (Bartim). Dia adalah Samadi, pria 65 tahun ini merupakan pengusaha sukses asal daerah trans yang dibuka sejak 13 April 1985 silam.

LOGMAN, TAMIANG LAYANG

eQuator – USAHA serabutan menjadi salah satu pilihan warga trans, apabila tidak memiliki keterampilan. Hal ini membuat teman-teman Samadi yang hijrah ke Pulau Kalimantan banyak yang tidak betah, sehingga memilih balik ke daerah asal.

Meskipun tidak ada keterampilan yang memadai, tidak membuat Samadi patah semangat mengawali hidup di Trans Sibung 30 tahun silam. Berangkat bersama 66 Kepala Keluarga (KK) dari luar Kalimantan, Samadi dkk hanya berbekal kemampuan seadanya, itu demi mengadu nasib untuk mencari penghasilan yang mapan.

Awalnya juga pada program pertama datang menurutnya, para warga trans juga langsung diperkerjakan ikut Perkebunan Industri Rakyat (PIR). “Hasilnya hanya cukup untuk bertahan, Rp1.300 per hari” sebutnya.

Merasa tidak cukup, terangnya, sejumlah warga trans ada juga yang balik kampung seperti trans–trans lain kebanyakan. Namun ada beberapa yang juga mencari sampingan bekerja serabutan seperti dirinya yang awalnya hanya menjadi buruh pemecah batu di kawasan itu.

“Jadi buruh karet tetap jalan, tambahannya jadi buruh batu belah juga,” ucapnya.

Berangkat dari kesederhanaan, kerja keras, perjuangan dan doa, pria yang masih bugar di usianya ini tetap menggeluti usaha yang mulai dirintisnya sepuluh tahun silam. Keahlian pertamanya sebagai pekerja serabutan atau buruh batu belah, mengantarkan dirinya menjadi pebisnis bahan bangunan berupa batu kapur.

Dari usahanya sekarang juga, bila dihitung aset yang dimiliki lebih dari Rp1 miliar. Bahkan ke dua putrinya yang telah bersuami pun ikut terjun menggeluti dan bersama membesarkan produksi batu putih tersebut.

“Dulu memang hanya serabut batu belah dan ikut orang yang menyewa kawasan yang ada batunya. Tapi setelah melihat, saya juga coba membuka sendiri dan sekarang bisa dilihat,” ujar Samadi siang itu.

Usaha itu dirintis dengan bermodalkan nekat, dikumpulkannya sedikit demi sedikit upah sebagai buruh Perkebunan Industri Rakyat (PIR) sejak awal menjadi warga transmigrasi. Dengan keahlian ala kadarnya dan kenalan yang dimiliki, ia pun memberanikan diri mengambil risiko dan mulai usahanya.

Lambat laun usahanya mulai berkembang, dari satu truk dam angkut yang dimiliki, sekarang ini memiliki menjadi tiga. Ditambah satu kendaraan roda empat pribadi.

Sepuluh tahun silam, menurutnya, menjadi awal kariernya lantaran pada saat itu pembangunan dari pemekaran wilayah Barito Selatan yang sekarang menjadi Barito Timur sangat dirasakan. “Banjir orderan dulu waktu pertama pembangunan, tapi ya alhamdulliah sekarang masih cukup dan terus jalan,” ucapnya.

Usaha batu kapurnya itu juga tidak hanya memenuhi pasokan di dalam daerah. Ada dari Buntok, bahkan hingga wilayah Kalua Kalimantan Selatan. Begitu juga peluang–peluang lain yang terus dijajaki dalam usahanya tersebut.

“Kalau dilihat memang dulu berpeluang, tapi sekarang kan sudah banyak pengusaha–pengusaha batu lain, jadi harus pintar bersaing,” katanya .

Cerita buruh menjadi pengusaha itu pun dibenarkan oleh Petugas eks UPT Departemen Transmigrasi (dulu.Red) yakni Herminto. Pria sebagai pengawas dari perkembangan kawasan eks Trans Sibung waktu itu juga mengatakan, bahwa Samadi adalah salah satu warga trans eks yang berhasil. “Pak Samadi ini berangkat dari nol, sama seperti warga eks trans lain, mungkin keuletan beliau, makanya bisa seperti sekarang (pengusaha sukses),” ujarnya.(*)