Ciptakan Alat Penebar Pakan Ikan

295
KARYA PELAJAR. Alat penebar pakan ikan buatan pelajar SMKN 1 Bontang go nasional. Dari Aisyah Fitri (kanan) memperlihatkan karyanya bersama rekan Mirnawati dan Fikram Oktafi andi. P RETTY -B ONTANG P OST /RK.

eQuator – Gadis imut berwajah manis itu patut bangga dan dibanggakan. Namanya Aisyah Fitri, finalis 30 penemu muda di ajang National Young Inventors Award (NYIA) ke-8 yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2015.

Siswi SMKN 1 Bontang ini menjadi finalis 30 penemu muda. Dia berhasil menyingkirkan 940 penemu dari berbagai sekolah di Indonesia. Ciptaan dara kelahiran Bontang, 25 Mei 1999, itu jadi rujukan nelayan di Tanah Air.

Ditemui di sekolahnya, Sabtu (28/11), Aisyah yang duduk di kelas XI Kimia Analis II menuturkn pengalamannya. Dia mengaku, alat penebar pakan ikan ini sebelumnya sudah dilombakan di berbagai ajang. Yakni, Lomba Karya Siswa (LKS) dengan tema Teknologi Tepat Guna, Ekspresi Pelajar Bontang Post pada akhir Mei lalu, dan memperoleh juara ke-II. Kemudian dibawanya ke Lomba Teknologi Tepat Guna yang digelar oleh Pemkot Bontang dengan raihan juara I.

Dia mengakui karyanya merupakan kerja sama tim. Selain Aisyah, rekan-rekannya seperti Fikram Oktafiandi dan Mirnawati ikut andil. Nah, untuk ajang LIPI, memang dilombakan secara individu, sehingga dialah yang terpilih.

Aisyah sengaja memilih alat perikanan lantaran masyarakat Bontang banyak membuat tambak dan hidup di pesisir. Dia melihat peluang untuk membantu keseharian nelayan tambak, agar tidak perlu berkeliling memberi pakan ikan.

Dari setiap ajang lomba alat itu sudah mengalami revolusi. Untuk lomba NYAI ke-8 yang berlangsung 25-28 Agustus lalu, kata Aisyah, alat dibuat lebih besar dan sudah bisa mengapung. Pengoperasiannya pun sudah dengan remote control  dari semula hanya digantung di dua tiang, menggunakan sistem katrol.

“Memang sama alat yang saya lombakan ke LIPI kemarin, tapi sudah mengalami banyak perubahan dan perbaikan. Sebelumnya menggunakan konsep katrol dan harus disangga oleh dua tiang,” jelasnya.

Menariknya, putri kedua dari tiga bersaudara ini menggunakan bahan limbah. Ukuran pun dibuat lebih besar. Semula, untuk wadah pakan ikan menggunakan botol bekas minyak goreng ukuran 2 liter, sekarang berevolusi pakai galon 20 liter.

“Mengapung seperti kapal. Digerakkan pakai remote control bekas mobil mainan. Ada dinamo yang diletakkan di badan alat dan berfungsi sebagai baling-baling dengan energi aki. Di mulut galon, kami pasang karet, besi, dan piring. Saat shutter penebar pakan kita on-kan, pakan akan turun otomatis dan piring berputar,” urai Aisyah.

Kata dia, pilihan menggunakan barang-barang bekas selain ramah lingkungan, tentu saja untuk memperkecil biaya pengeluaran.  “Ada triplek sisa konstruksi rumah, baling-baling dari besi, piringnya bekas, dan kerangka tamiya kita gunakan untuk wadah baterai penggerak shutter. Pokoknya menggunakan barang-barang yang didapat dari loakan,” ungkapnya.

Aisyah tidak menyangka masuk sebagai finalis NYIA. Bahkan, dia sempat minder saat melihat seluruh karya para finalis lainnya yang spektakuler dan tidak kalah inovatif, serta berguna bagi masyarakat sekitar. “Banyak pengalaman berharga, dan sumpah, karya teman-teman lainnya bagus-bagus,” akunya.

Dari berangkat ke Jakarta, tiba di sana dirinya sudah fokus untuk merakit ulang alat tersebut. Seluruh finalis diberi stan, sedangkan penilaian dilakukan selama tiga hari dan dihadiri oleh masyarakat serta SMA/SMK di Jakarta. Kata Aisyah, antusiasme pengunjung mendatangi stan 30 finalis sangat besar. Sampai-sampai tidak sempat istirahat makan siang.

“Jurinya menyamar. Guru pembimbing saya mengatakan, yang penting tanggap saja dan jawab seluruh pertanyaan dari siapapun yang datang ke stan. Waktu istirahat, ada pelat tulisan di stan tersebut,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here