Camat Teriak Kaget Warga TBC

24 Penduduknya Terinfeksi

18
TBC MENAHUN. Ibu Pendek (duduk di lantai), satu di antara 24 penderita TBC Paru-paru di Dusun Pelai Kandang, Desa Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, Jumat (6/10). Ia telah menderita penyakit tersebut 14 tahun. Kurnadi-Rakyat Kalbar

eQuator.co.id–Bengkayang-RK. Empat belas tahun sudah Ibu Pendek menderita Tuberkulosis (TBC) paru-paru. Perempuan warga Dusun Pelai Kandang, Desa Sebente, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, ini didera penyakit tersebut sejak berusia 40 tahun. Ternyata, dia satu dari 24 penderita TBC di kecamatan itu.

Dikunjungi awak media, Jumat (6/10), Pendek tinggal bersama suaminya, Pian, dan juga anaknya, Suripiani, SPd, guru di sebuah yayasan swasta. Sebagai informasi, Dusun Pelai Kandang berjarak sekitar 4 kilometer dari ibukota Kabupaten Bengkayang, Kota Bengkayang.

Ketika dihubungi, Pj. Camat Teriak, Busmet, kaget. Ia baru mengetahui ada warganya yang sudah sakit menahun di Dusun Pelai Kandang, Desa Sebente.

“Sebelumnya kami selaku camat sudah meminta agar masing-masing kepala desa mendata dan melaporkan jika ada warganya yang butuh bantuan, apalagi permasalahan yang dihadapi oleh warga kami ini sakit TBC. Padahal penyakit TBC ini pengobatannya gratis di Puskesmas,” ucap Busmet, kepada Rakyat Kalbar, Minggu (8/10).

Ia berterima kasih kepada pewarta. “Karena justru informasi kami dapatkan dari media dan baru kali ini, sehingga kami meminta agar pihak keluarga segera datang ke Puskesmas untuk memperoleh pengobatan,” tandasnya.

Yang menderita penyakit menahun di dusun tersebut sebenarnya tak hanya Pendek. Entek, 55, sudah menderita stroke selama tujuh tahun. Ia berdiam di rumah berukuran 5×6 meter, tak jauh dari kediaman Pendek. Bersama suami dan kedua anaknya, Ongkong dan Indan.

Terpisah, Kepala Puskesmas Teriak, Eni Nurmayani SKM mengungkapkan, Pendek telah ditangani pihaknya cukup lama. “Ibu Pendek adalah pasien Puskesmas Teriak yang sudah kami tangani sejak 2015 lalu,” tuturnya, ditemui Rakyat Kalbar di rumahnya.

Sebelumnya, Eni menyebut, Pendek telah dirujuknya ke RS terdekat. Dan sudah mendapat pelayanan di sana. Berdasarkan diagnosa dokter di RS, Pendek menderita TBC. Disarankan untuk dipulangkan, diobati di Puskesmas saja.

“Jika yang bersangkutan minta dirawat di RS, tentunya akan memakan waktu dan proses panjang. Melihat kondisi pasien itu sendiri, tidak memungkinkan mendapat perawatan dalam jangka waktu lama, maka dilakukan pengobatan di rumah saja atau home care,” ucapnya.

Namun, pengobatan perdana kepada Pendek gagal. “Karena yang bersangkutan tidak tepat waktu minum obat selama program 6 bulan pertama itu,” ungkap Eni.

Maka, dilanjutkan lah program tahap II. Dalam program tahap II, dikatakan Eni, pasien harus disuntik setiap hari selama 6 bulan. Tapi, harus melihat dulu kondisi fisik pasien.

“Petugas kami saat berkunjung ke rumah Ibu Pendek, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk program tahap II, sebab akan terjadi kontraindikasi,” paparnya.

Saat program tahap II hendak dimulai, lanjut dia, berat badan Pendek kurang dari ketentuan standar. “Cuma 25 Kg, yang harusnya di atas 30 Kg. Ada SOP (prosedur)-nya, maka tidak bisa sembarangan,” jelas Eni.

Imbuh dia, “Karena kondisi fisik tidak memungkinkan, dikhawatirkan akan berakibat lain, yang ujung-ujungnya bisa saja kami dari pihak Puskesmas yang disalahkan”.

Dijelaskan Eni, kesembuhan penderita TBC bergantung kemauan pasien sendiri. “Sebab obat yang diberikan kontinyu setiap hari selama enam bulan, jika satu hari saja tidak konsumsi, maka programnya akan gagal dan mengulang dari nol lagi,” terangnya.

Lebih jauh, ia pun mengatakan bahwa pengobatan home care tidak bisa terus bergantung kepada petugas Puskesmas. “Kami berharap agar pasien itu juga harus proaktif, bisa datang ke Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan,” tukas Eni.

Terkait jumlah penderita TBC, khususnya di Desa Sebente, Kecamatan Teriak, pihaknya telah menyebarkan polling. Hanya saja, tak satu pun warga yang mengembalikannya.

“Sehingga kami kesulitan untuk mengetahui siapa saja yang terinfeksi. Berdasarkan data kami, sebaran penderita TBC cukup tinggi, yang jumlahnya mencapai 24 orang,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Bengkayang, Drs. Stefanus Salikin MSi, yang hendak dikonfirmasi Rakyat Kalbar dari kemarin siang hingga tadi malam belum memberikan jawaban. Panggilan ke nomor selulernya, 0812570xxxx tak dijawab. Pun pesan singkat permintaan keterangan ke Stefanus via nomor tersebut tak dibalasnya.

Laporan: Kurnadi
Editor: Mohamad iQbaL