Camat Minta Sungai Kecil Dikeruk

105
Dominikus Heri

eQuator – Sanggau-RK. Camat Bonti, Dominikus Heri mengakui wilayah Bonti menjadi langganan banjir tiap tahun. Bahkan secara periodik, banjir besar kerap terjadi empat tahun sekali dengan ketinggian air hampir dua meter.

“Memang memasuki November, Desember, Januari dan Februari sering terjadi banjir. Hanya saja kapasitasnya tergantung dari curah hujannya. Yang paling rawan, ibukota kecamatan Bonti, Kampu, Bahta dan Sami,” kata Dominikus Heri.

Masyarakat pun sepertinya sudah akrab dengan kondisi itu. Mereka membuat rumah dua tingkat, sehigga begitu banjir datang mereka memindahkan segala perabotan mereka ke lantai dua. “Mereka tak langsung kita ungsikan, tapi mereka pindah ke lantai dua. Kalau posko tak jadi masalah, biasanya di masjid dan dibelakan sekolah, Koramil. Ada juga di gedung PNPM kita. Tetapi kebanyakan meski sudah dipersiapkan tempat, mereka lebih memilih di rumah masing-masing. Kalaupun ada bantuan kita langsung suplai ke rumah,” ungkapnya.

Heri mengaku selain kondisi ibukota kecamatan yang terletak di pinggir sungai Sekayam, banjir yang datang juga kerap merupakan kiriman dari daerah perhuluan. “Makanya sulit juga kita,” akunya.

Tapi bukan berarti pihak kecamatan diam berpangku tangan. Imbauan agar tak membuka ladang di pinggir sungai pun sudah dilakukan. “Kalau hutannya sudah habis, begitu hujan, airnya langsung turun. Karena posisi kita juga di hilir, Bonti juga banjirnya sering kiriman dari daerah perhuluan,” terangnya.

Selain itu, pihak kecamatan juga sudah mengajukan permohonan untuk mengeruk sungai-sungai kecil di sekitar desa Bonti. “Supaya air dari sungai Sekayam bisa lancar. Kita sudah koordinasikan ini dengan pihak kabupaten,” akunya.

Dampak lain dari musibah banjir adalah gagal panen. Pada 2014, Heri mengatakan ratusan hektar lahan terendam banjir. “Tapi dari Distankanak sudah memberi bantuan walaupun jumlahnya tak seperti yang kita harapkan,” katanya.

Satu sisi, mengubah jadwal tanam padi untuk menghindari banjir masih sulit dilakukan. Pertama, karena terbentur dengan kebiasanan masyarakat. Dan diakuinya, tak mudah untuk mengubah kebiasaan itu. Kedua, faktor cuaca. “Kalau kita ubah, ternyata justeru terkena musim kemarau, kan jadi masalah juga. Karena ini kaitannya dengan cuaca,” terangnya. (KiA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here