Calysta Helena Theo Bersahabat dengan Kopi

12
Calysta Helena Theo

eQuator.co.id – JIKA di Jakarta ada nama Almira yang kemampuannya dalam menyeduh kopi mendapat banyak apresiasi di Instagram, di Semarang ada Calysta Helena Theo. Usianya sama-sama unyu, masih 9 tahun. Calysta juga beberapa kali unjuk kebolehan dalam Coffee Fest.

Dalam beberapa ajang kejuaraan di Coffee Fest, Calysta berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Dia pernah masuk lima besar dalam kejuaraan penyeduhan kopi di ajang Jazz Brewing pada awal tahun lalu. Masuk lima besar itu tentu sangat membanggakan. Sebab, peserta kompetisi tersebut orang dewasa, termasuk papa Calysta sendiri, Billy Chong.

Calysta pertama terjun dalam kejuaraan penyeduhan kopi saat Jateng Coffee Fest. Dalam pergelaran itu, dia berhasil masuk 29 besar. Lalu, dilanjutkan di Temanggung Coffee Fest dan Tugu Muda Brewer. Dalam dua kompetisi tersebut, Claysta berhasil menyabet posisi 10 besar.

Calysta belajar menyeduh kopi dua tahun lalu. Ketika itu, usianya masih seperti Almira, 7 tahun. Kini pelajar kelas IV Trilingual School Tunas Harum Bangsa Semarang itu menguasai berbagai teknik penyeduhan dengan peralatan manual. Mulai V60, Kalita Wave, Aeropress, hingga ice coffee drip.

Tidak hanya menguasai penggunaan alat, Calysta juga memahami teori-teori dalam penyeduhan kopi. Bukan soal takaran kopi dan air saja. Melainkan juga sampai teori membuang karbondioksida dalam proses brewing kopi.

Bagi Calysta, kopi layaknya sahabat. Sama seperti dia memperlakukan satwa-satwa peliharaannya. Karena itu, menyajikan kopi harus penuh arti.

Kepada wartawan Radar Semarang (Jawa Pos Group), Calysta menceritakan bagaimana kali pertama dirinya mengenal kopi. Itu berawal ketika sang papa yang menjadi inspirasinya pergi ke salah satu coffee shop di Jogja. Calysta kemudian menjajal kopi yang seketika membuatnya jatuh cinta. Dari situ dia tahu bahwa kopi memiliki berbagai rasa. Bukan hanya pahit.

”Saat itu, kopi Aceh Gayo yang sampai sekarang aku suka. Minumannya satu, kopi. Tapi, bisa memiliki rasa yang berbeda-beda,” cerita gadis yang juga gemar menulis novel dan komik itu. Dari situ dia tertarik untuk belajar bersama papanya.

Billy Chong mengaku mendukung penuh hobi baru Calysta. Bahkan, dia membebaskan anaknya bereksperimen menciptakan kopi di kedai miliknya, Kopip3dia, di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Semarang. Tapi, itu tidak setiap hari. Hanya setiap Sabtu sore dan Minggu.

”Hari-hari biasa dia tetap harus fokus sekolah dan menjalani les,” paparnya.

Billy mengaku heran dengan kemampuan anaknya. Pada usia saat ini, Calysta bahkan sudah memiliki kemampuan sensorik kopi. ”Sensor lidah dan penciumannya bagus. Dia tergolong cepat dalam belajar,” beber suami Ira Agustini itu.

Kini Calysta tidak hanya terlibat dengan seduh-menyeduh kopi. Dia juga mulai tergerak melakukan kegiatan sociopreneur yang berkaitan dengan kopi. Dia melakukan itu setelah sempat belajar ke koperasi kopi di Garut dan Bali.

Di sana Calysta awalnya hanya ingin mengenal proses penanaman, mengenal berbagai jenis kopi, dan melihat langsung pengolahan kopi. Namun, sepulang dari Bali, bocah yang bercita-cita menjadi barista perempuan sekaligus dokter hewan itu bekerja sama dengan koperasi setempat.

Lewat koperasi tersebut, Calysta membuat produk kopinya sendiri. Produk kopi itu dikemas dengan desain lukisan karyanya. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan hewan piaraan Calysta. Nah, hasil penjualan kopi itulah yang rencananya didonasikan untuk kegiatan perlindungan satwa.

”Saya kasihan kalau lewat jalan, ada kucing yang kurus. Saya mau kasih makan, tapi tidak punya uang. Jadi, ini kopinya untuk donasi perlindungan hewan,” kata gadis yang memang suka memelihara binatang itu. (Jawa Pos/JPG)